I Wish | Part 2

Tittle : I Wish

Cast : Kim Dasom , Louis Tomlinson , etc.

Genre : Romance , Hurts

Rate : Teen

Length : Chapter

Part : 2 of ?

Author : LidyaNatalia

Warning : OOC ,  Yang nggak suka sama pairingnya , jangan baca. Yang nggak suka sama Sistar , 1Direction juga nggak usah baca. Banyak Typo , Nggak terima bashingan , apalagi bashing pairnya. Pokoknya I WARN all of you to do not read this fanfiction if you didn’t like the cast or didn’t like me .

Disclaimer : 1Direction dan Sistar belong to God and their family ~ But this story originally belong to me.

A/N : Terinspirasi dari lagu I wish . Ingat loh cuma terinspirasi , jadi ini bukan songfict. Selain itu lagu More than this juga ikut andil dalam pemberian inspirasi. Juga lagu You Belong With Me dan Saying I Love You. Sekali-kali coba aja kalian denger lagu itu ~

Summary : Oh how I wish that was me …

Let’s check this out the story…

***

Dasom mendesah berat. Saat ini dia tengah berada diruang ganti wanita , untuk mengganti pakaian seragam sebelumnya dengan baju olahraga. Hari ini memang ada bidang studi Olahraga dan Kesehatan di jam ke 3 dan ke 4 , namun karena tadi dia datang terlambat , dia jadi harus langsung mengikuti bidang studi di waktu ke 3 dan ke 4 , karena waktu sebelumnya dia gunakan untuk membersihkan perpustakaan.

Sambil melepaskan kancing kemejanya , dia kembali memutar mundur kejadian beberapa puluh menit yang lalu , ketika dirinya hanya berdua dengan Louis. Sontak dia pegangi lagi dada kirinya.

“Kenapa hanya memikirkannya saja membuat dadaku berdegup kencang?” Tanyanya pada diri sendiri.

“Huft…” Dasom kembali menghela nafas setelah mengambilnya panjang-panjang. Jujur saja , tadi itu dia sangat senang sampai-sampai malah jadi salah tingkah dan jadi bertindak ketus terhadap Louis. Mau bagaimana lagi , Louis juga memperlakukan dirinya seperti itu , bukan hanya dirinya saja memang , tetapi juga semua siswa di sekolah Internasional itu , kecuali pada Elean.

Yah , sepengetahuan Dasom , Louis memang tidak pernah berbicara ketus ataupun sinis pada wanita itu. Wanita cantik yang juga sekelas dengannya dan Louis yang merupakan wanita yang paling dekat dengan Louis.

Dasom langsung menghapus segala bayangannya dan kembali berkonsentrasi memakai baju seragamnya , karena tinggal dia sendiri , wanita terakhir yang sampai sekarang masih belum selesai berganti baju , sedang teman-temannya yang lain sudah berkumpul diluar sana.

Setelah memastikan lokernya terkunci dengan benar , Dasom keluar dari ruangan tersebut. Namun secara tiba-tiba tanpa terduga , tepat dipintu masuk ruang ganti tersebut Dasom bertabrakan dengan seseorang yang tengah membawa satu cup minuman , hingga menumpahkan isi dari minuman itu ke seragam olahraga Dasom yang baru saja dia gantinya.

Dasom melihat ke seragamnya yang basah terlebih dahulu , sebelum melihat wajah si penabrak.

“Maaf Dasom! Aku tidak sengaja..” Sebuah suara dari seorang wanita yang sangat tidak asing ditelinganya , membuat Dasom mengangkat kepalanya dan melihat ke arahnya. “Elean?”

Eleanor langsung mengambil tisu dari kantongnya dan mencoba mengeringkan segaram olahraga Dasom yang terlalu basah. “Aku minta maaf Dasom , aku benar- benar tak sengaja.” Ucapnya sembari terus menerus mengelapi Dasom.

Dasom memegang tangan Eleanor menghentikan aktivitasnya. “Tidak apa , Elean. Aku bisa membersihkannya sendiri.” Ucap Dasom.

‘Huh , bagaimana mungkin aku bisa marah pada orang seperti Elean. Pantas saja Louis…’

“Tidak bisa , aku harus bertanggung jawab. Padahal aku kemari ingin memanggilmu untuk segera ke lapangan , tapi kenapa aku malah menghambatmu? Biar aku bersihkan ya Dasom..” Ucap Eleanor sekali lagi sembari melanjutkan aktivitasnya yang tertunda sebelumnya.

Dasom kembali memegang lengan Elean , dan kali ini dia memandang Eleanor dengan pandangan agak memaksa supaya Eleanor menghentikkan aktivitasnya pada dirinya.

“Eleanor!!”

Sebuah suara sukses membuat Dasom dan Eleanor kontan menoleh ke sumber suara.

Louis. Itu Louis.

Louis langsung berlari tepat ke arah kedua wanita tersebut , ah tepatnya ke arah Eleanor. Melihat itu , Dasom langsung melepaskan tangannya dari Elean.

“Elean , ada apa? Apa dia menyakitimu? Lihat tanganmu memerah.” Tanya Louis secara beruntun sembari memegang kedua lengan Elean yang memang memerah.

Dasom mengerenyitkan dahinya. Dia? Menyakiti Eleanor?

Belum sempat Eleanor menjawab pertanyaannya , Louis langsung menoleh dan berbalik menatap Dasom tajam. “Apa tujuanmu menyakitinya? Apa kau mau balas dendam karena hukuman tadi dan melakukan ini padanya?” Tanya Louis pada Dasom.

“Bukan… bukan seperti itu…” Eleanor mencoba memotong pembicaraan Louis yang menurutnya sudah salah paham.

Louis menoleh ke arah Eleanor , “Sudahlah , Elean. Kau selalu saja begini , membela orang yang bahkan sudah jelas-jelas berbuat salah padamu. Biar aku saja yang berbicara padanya. Kau diam saja , Okay?”

Sesaat aliran darah yang mengalir dinadi-nadi Dasom seperti membuncah mendengar perkataan Louis yang selalu berpikiran buruk padanya. Dadanya sedikit terasa sakit mendengarnya , ingin dia remas rasanya. Namun niat itu diurungkan , dia tidak ingin terlihat lemah dan bersalah dimata Louis.

Namun dia juga sama sekali tidak berniat membela diri dari tuduhan Louis. Dasom memutuskan untuk diam.

Louis kembali berbalik pada Dasom , “Cepat katakan , apa yang tadi kau mau lakukan padanya? Ingat ini sekolah bukan jalanan. Cara kekerasan bukan sikap yang dipakai oleh seorang pelajar untuk menyelesaikan masalah..”

Dasom semakin mengerutkan keningnya menatap Louis , ‘Tidakkah dia lihat seragamku ini? ’ Tanya Dasom dalam hatinya. Sungguh , sama sekali dia tidak berniat mengatakan hal tersebut untuk memojokan Eleanor dan mencari perhatian dari Louis. Dia hanya ingin Louis lebih terbuka dengan apa yang dihadapannya. Tidak seperti ini.

“Lou , hentikan!” Seru Eleanor , namun seperti tuli , Louis sama sekali tidak menghiraukan seruan Eleanor untuk berhenti.

Louis memegang kedua bahu Dasom , “Ayo cepat katakan , jangan hanya diam saja. Kau ingin balas dendam padaku , bukan?” Tanya Louis sembari mengguncang bahu Dasom.

“Kau itu kenapa sih?” Tanya Dasom sembari mencoba melepaskan tangan Louis dari kedua bahunya. Ini sudah keterlaluan. Dia tidak suka diperlakukan seperti ini. Terlebih oleh…

“Kenapa kalian lama seka… lho? Apa-apaan kau Lou?” Seru seseorang lagi yang datang  bernama Niall sembari melepaskan tangan Louis dibahu Dasom dan menarik Dasom untuk berlindung dibelakangnya.

“Sudahlah , Niall , aku ingin menegurnya sedikit karena telah menyakiti Elean. Dasar , mau balas dendam dengan cara seperti ini? Sungguh memalukan!” Seru Louis dengan penekanan dikedua kata terakhir.

“Cukup!!”

Dasom mengepalkan tangannya , sedari tadi dia sudah diam , namun Louis malah semakin memojokkan dirinya. Apa Louis sama sekali tidak menganggap dirinya itu wanita , wanita sama seperti Eleanor.

“Terserah apa katamu! ” Setelah berseru , Dasom memutuskan meninggalkan tiga orang disana , dan pergi ke arah yang sebaliknya dari arah toilet sendiri.

Elanor memukul lengan Louis kencang , “Dasom itu tidak menyakitiku! Tadi aku menumpahkan minuman ke seragamnya dan ketika aku mencoba membersihkannya , dia melarangku untuk melakukannya! Dan merah dilenganku ini karena warna minuman itu merah.” Jelas Elean sembari menunjukan lengannya membuat Louis agak sedikit menyesal.

“Kenapa tidak bilang dari tadi?” Tanya Louis pada Eleanor.

“Aww!!”

Sontak Eleanor menginjak sepatu Louis , “Dari tadi aku sudah berusaha menghentikanmu , tapi kau tidak mau dengar! Lagipula memang kau tidak melihat seragamnya yang basah? Hah! Sudahlah aku mau menyusul Dasom dulu , aku jadi tidak enak hati padanya.” Ucap Eleanor sembari berlari ke arah perginya Dasom tadi.

Niall mendelik tajam ke arah Louis sebelum kembali menyusul Eleanor yang juga menyusul Dasom.

Sementara Louis sendiri , hanya diam ditempat. Dia bingung harus kemana dan bagaimana.  Diputuskannya untuk tetap berada disana untuk menunggu Dasom , Eleanor dan Niall kembali. Louis menarik surainya dengan gemas.

“Kenapa aku jadi begitu sensitive terhadapnya?! Arrgghhh!!!”

***

Dasom memandang kedepan dengan pandangan kosong. Setelah ijin pulang dengan alasan kurang enak badan , kini dia berada dihalte dekat sekolahnya , tempatnya kemarin sore meninggalkan kotak yang ingin dia berikan pada seseorang. Louis.

Tadi Eleanor sempat menawarkan diri untuk mengantarkan Dasom pulang sampai ke apartementnya. Tapi Dasom menolak , dengan alasan dia ingin pergi ke dokter terlebih dahulu.  Dan tentu saja itu bohong , dan untungnya Eleanor percaya.

Entah mengapa hatinya masih terasa begitu sakit mengingat bentakkan Louis yang ditujukan padanya tadi. Eleanor memang mengatakan padanya kalau Louis benar-benar menyesal dan minta maaf padanya.

Yah begitulah Louis yang dia kenal , tidak malu untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf terlebih dahulu. Namu begitu , tetap saja ingatan akan perkataan dengan nada tinggi tadi tidak semudah itu bisa dilupakannya , terlebih didepan Eleanor dan Niall.

Dasom menyandarkan tubuhnya pada badan bangku besi yang memanjang dihalte tersebut. Dipejamkannya kedua mata indahnya , agar dapat berangsur-angsur melupakan kejadian yang tidak mengenakkan hatinya tadi. Dihirupnya oksigen sekitarnya banyak-banyak dan dihembuskannya secara teratur.

Perlahan tanpa terdengar sedikitpun suara , bulir air mata yang memanjang mengalir dari sudut kedua matanya.

Tidak.

Tidak bisa seperti ini terus. Dia baru kali pertama merasakan jatuh cinta dan mengharapkan seseorang untuk berada disisinya. Tapi kenapa dia juga harus merasakan sakitnya jatuh itu?

Sambil mata terus terpejam , bulir air mata tak henti mengalir dari sudutnya , dipeganginya dada kirinya.

“Brukk!!”

Mendengar suara disampingnya sontak membuat Dasom membuka kedua matanya. Dasom memandangi laki-laki itu lekat.

Seorang laki-laki bersurai hitam pekat dengan iris mata coklat tua serta hidung bangir dan alis tebalnya yang berwarna hitam duduk disampingnya. Laki-laki tersebut memasang sebuah headset dikedua telinganya. Bukan penampilannya yang membuat Dasom terkejut dan bingung. Namun kelakuannya yang tiba-tiba saja duduk disampingnya , padahal disepanjang bangku besi itu masih tidak berpenghuni.

Merasa diperhatikan , laki-laki itu menoleh dan memandang Dasom dengan raut wajah bertanya “Ada apa? Ada yang salah? ” Dan dijawab Dasom dengan gelengan kepala dan langsung membuang mukanya secara halus ke arah lain.

“Dasom!!”

Mendengar namanya dipanggil Dasom langsung menolehkan kepalanya ke arah kiri , ke arah sumber suara. Terlihat olehnya Niall tengah berlari ke arahnya.

“Hosh! Hosh!”

Sembari memegangin dadanya , Niall berusaha mengatur nafasnya ketika sampai didepan Dasom.

“Ada apa?” Tanya Dasom masih dalam posisi duduknya.

“Aku kan sudah bilang tunggu aku , kenapa kau malah pergi begitu saja?” Tanya Niall disela nafas terengahnya.

Dasom sedikit memaksakan senyumnya , “Bukankah aku juga sudah bilang bahwa kau tidak perlu mengantarku pulang? Aku bisa sendiri.” Sahut Dasom sembari mengeratkan jaket berwarna putih susu yang dikenakannya.

Melihat tingkah Dasom , Niall mendekat dan berlutut dihadapan Dasom. “Kau benar-benar sakit?” Tanyanya sembari menempelkan punggung telapak tangannya dikening Dasom.

“Sepertinya begitu. Kenapa tiba-tiba jadi begitu dingin…” Jawab Dasom sembari menggosok-gosokkan lengannya dengan kedua telapak tangannya.

Niall menarik tangannya kembali , mendengar perkataan Dasom membuat Niall sedikit khawatir , dia bingung harus bagaimana , sebenarnya dia ingin saja memakaikan pakaian hangat yang lebih , seperti jaketnya pada Dasom , hanya saja masalahnya dia sedang tidak memakai jaketnya.

Niall melihat kesekelilingnya dan matanya berhenti ketika melihat seorang laki-laki yang tengah duduk disamping Dasom. Dan sedetik kemudian Niall tersenyum , kemudian beranjak berdiri untuk menghampiri laki-laki tersebut. Sementara Dasom hanya memandangi Niall dengan matanya yang terus mengekor.

“Maaf?” Niall mencoba menegur laki-laki tersebut dengan cara mengibaskan telapaknya didepannya.

Dan berhasil. Laki-laki tersebut melepaskan headsetnya. “Ya?”

“Bisa aku pinjam jaketmu?” Tanya Niall membuat laki-laki tersebut mengerutkan keningnya , bukan hanya laki-laki itu saja tapi juga Dasom. Orang yang tidak dikenalnya meminjam jaketnya , apa dia harus memberikannya?

“Bukan untukku , tapi untuk temanku. Dia sedang sakit. Bisakah?” Tanya Niall sekali lagi.

“Apa-apaan kau , memangnya aku bilang perlu jaket tambahan?” Seru Dasom mencoba menghentikkan perbuatan Niall yang menurutnya agak sedikit memalukan.

“Aku hanya…”

Laki-laki tersebut menoleh ke arah Dasom dan memperhatikan wajahnya dengan seksama. Dasom memang kelihatan sedikit lebih pucat pada saat itu.

“Baiklah!” Seru Laki-laki tersebut sembari melepaskan jaketnya dan langsung memasangkannya pada Dasom.

“Lho , kau tidak perlu…”

“Ini alamatku.” Lanjutnya memotong perkataan Dasom sembari memberikan sebuah kartu nama pada Niall dan langsung pergi memasuki sebuah yang berhenti didepan mereka semua.

“One Direction’s Apartement , 9th Floor , No 1225..” Niall mencoba membaca kartu nama tersebut. “Lho? Ini kan apartement tempat tinggalmu , Dasom!” Seru Niall kemudian.

Dasom mengulurkan tangan untuk meminta kartu nama laki-laki tersebut.  Dan membaca sebuah nama yang tertera disana.

“Zayn Malik?”

***

Eleanor menyeruput sekali lagi minuman didepannya. Berlari atletik sejauh 2400 meter membuatnya benar-benar lelah dan kehausan. Dari dulu dia sangat benci dengan olahraga atletik. Namun guru olahraganya kini malah sering kali memberikan olahraga atletik dijam pelajarannya.

Sementara Louis yang berada didepannya hanya memutar-mutar ujung sedotannya berlawanan dengan arah jarum jam. Dia juga baru saja lari sejauh 2400 meter. Namun entah mengapa ada sebuah rasa lain yang lebih menyita pikirannya ketimbang rasa haus dan lelah. Dan itu tentu saja membuat Eleanor menjadi sangat heran.

“Lou?” Panggil Eleanor sekali. Namun Louis tidak menyahut dan tetap memutar-mutar ujung sedotannya.

“Lou?” Panggil Eleanor untuk yang kedua kalinya. Kali ini dia kibaskan juga telapak tangannya didepan wajah Louis. Namun Louis masih tetap tak menghiraukannya.

“Louis Tomlinson!” Seru Eleanor yang ketiga kalinya sembari menepuk keras pipi  kiri Louis.

Dan berhasil!

Kali ini Louis langsung memandang Eleanor dengan tampang bertanya Ada apa?

“Kau kenapa? Kenapa minumanmu tak kau minum? Apa kau tidak haus?” Tanya Elanor beruntun sebelum akhirnya menyeruput minuman digelasnya hingga tetes terakhir.

Louis menggeleng. “Ambil saja kalau kau mau.” Tawar Louis sembari mendorong gelas minumannya ke depan , ke arah Eleanor. Eleanor mengerutkan keningnya. Ada yang aneh dengan Louis kali ini.

“Apakah ada yang menyita pikiranmu?” Tanya Eleanor lagi. Hah. Eleanor memang orang yang paling mengerti dirinya.

Louis mengangguk setelah sebelumnya mengambil nafas panjang-panjang dan menghembuskannya dalam satu hembusan.

“Apa itu masalah dengan Dasom tadi?” Tanya Eleanor tepat.

Louis menangguk lagi. “Aku tidak tahu kalau dia sebenarnya alergi debu , aku juga tidak tahu kalau tadi itu dia tidak bersalah..” Ujar Louis sembari menjambak surainya dengan gemas.

Eleanor sontak menarik tangan Louis dari surainya. “Jangan begini. Itu bukan sepenuhnya salahmu.” Ujar Eleanor mencoba menenangkan Louis.

“Apanya yang bukan sepenuhnya salahku? Aku yang membuat alerginya kambuh , aku juga yang tadi sudah menuduhnya macam-macam.” Bantah Louis.

“Kalau begitu kenapa kau tidak kerumahnya untuk meminta maaf dan merawatnya sampai sembuh?” Usul Eleanor.

Louis mengangkat kepalanya terkejut.

“Bukankah kau tidak tenang karena memikirkan keadaanya? Jadi kenapa kau tidak kerumahnya saja minta maaf dan sekaligus memberikan sedikit perawatan padanya. Ya aku tahu dia bilang dia tadi akan ke dokter. Tapi untuk menghapuskan rasa bersalahmu , aku sarankan kau datang meminta maaf secara langsung padanya.”

“Tapi…”

“Aku memang sudah meminta maaf padanya untukmu , tapi aku rasa akan lebih baik jika kau yang langsung meminta maaf padanya.” Tambah Eleanor lagi.

Louis menatap dalam kedalam mata Eleanor mencari sebuah sirat gurauan dari usulannya. Tapi nihil. Tidak ditemukannya hal itu.

“Kau ini terlalu banyak berfikir!” Seru Eleanor lagi. “Sudah cepat kembali kekelas , ambil tasmu dan pergi kerumahnya. Biar aku yang ijinkan pada guru piket nanti.” Lanjut Eleanor sembari menarik Louis dari duduknya dan mendorongnya untuk pergi kekelas.

Dan Louis hanya mengikuti perintah Eleanor tanpa instruksi yang tadi sempat ingin dia ucapkan pada Eleanor. Louis langsung tersenyum pada Eleanor dan berlari ke arah kelas untuk mengambil tasnya.

Sementara Eleanor tetap tinggal ditempat. Diambilnya minuman Louis yang tadi ditawarkan kepadanya. Digenggamnya tanpa ada niat untuk meminum isinya sembari memandangi sosok Louis yang semakin hilang dari pandangannya.

“Apa kau mulai menyukainya?”

***

TBC

Well , the second part is up ..

Mind to RCL?

One thought on “I Wish | Part 2

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s