I Wish | Part 3

Tittle : I Wish

Cast : Kim Dasom , Louis Tomlinson , Zayn Malik , Eleanor , Niall , etc

Pair : Lousom // Dayn // Allsom // Lounor ||

Genre : Romance , Hurts

Rate : Teen

Length : Chapter

Part : 3 of ?

Author : LidyaNatalia

Warning : OOC ,  Yang nggak suka sama pairingnya , jangan baca. Yang nggak suka sama Sistar , 1Direction juga nggak usah baca. Banyak Typo , Nggak terima bashingan , apalagi bashing pairnya. Pokoknya I WARN all of you to do not read this fanfiction if you didn’t like the cast or didn’t like me .

Disclaimer : 1Direction dan Sistar belong to God and their family ~ But this story originally belong to me.

A/N : Terinspirasi dari lagu I wish . Ingat loh cuma terinspirasi , jadi ini bukan songfict. Selain itu lagu More than this juga ikut andil dalam pemberian inspirasi. Juga lagu You Belong With Me dan Saying I Love You. Sekali-kali coba aja kalian denger lagu itu ~

Summary : Oh how I wish that was me …

Let’s check this out the story…

***

“TING! NONG!”

Dasom kembali bangkit dari ancang-ancangnya untuk duduk , ketika mendengar bel apartementnya berbunyi. Dengan malas , dia kembali ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang melalui layar sebesar 5 inchi yang tertempel didinding dekat pintunya.

Sejurus kemudian dia mengerutkan keningnya , ketika melihat wajah dilayar tersebut , namun tak berapa lama , dia langsung membukakan pintu apartementnya.

“Cklek!”

Sebuah senyuman lebar tersungging ketika daun pintu tersebut terbuka. Namun Dasom sama sekali tak menanggapi , dan hanya memasang ekspresi datar menatapnya.

“Kunci mobilku tertinggal diatas meja. Boleh aku mengambilnya?” Tanyanya kemudian.

Dasom menoleh kebelakang , dan melihat keatas meja ruang tamunya , dari jauh juga memang sudah terlihat ada sebuah benda mirip kunci diatasnya. Dan setelahnya Dasom sedikit bergerak kepinggir , agar jalan untuk orang itu mengambil kunci mobilnya tersedia.

Dan tanpa menunggu lama , orang tersebut langsung masuk dan mengambil barangnya yang tertinggal , namun ketika dia sampai diambang pintu , dia tak langsung pergi , melainkan kembali berbicara pada Dasom.

“Kau yakin , tidak ingin kutemani?” Tanyanya kemudian.

Dasom mengangguk , kali ini raut wajahnya sedikit melembut. Biar bagaimanapun orang dihadapannya ini sudah lebih dari sekedar perhatian kepadanya.

“Ini sudah yang kelima kalinya kau memencet bel dan menanyakan hal itu. Kau yakin tidak ada barangmu yang ketinggalan lagi?” Tanya Dasom. “Dompet mungkin?” Lanjutnya kemudian.

Orang tersebut menepuk saku belakang celana seragamnya , “Sayangnya tidak..” Sesalnya. “Coba tadi aku meletakkannya diatas mejamu juga…” Guraunya  membuat Dasom sedikit mengangkat ujung bibirnya.

“Wah! Apa kau tersenyum? Karenaku?” Serunya lagi bangga pada dirinya sendiri.

Dasom mendekat ke arah orang tersebut dan meraih bahunya dari belakang dan sejurus kemudian mendorongnya pelan untuk menggiringnya keluar dari pintunya. “Sudahlah. Kali ini kau harus benar-benar pulang , Niall.” Ujar Dasom lagi.

“Okay , biarkan aku bertanya sekali lagi , hanya untuk memastikan..” Ujar orang tersebut yang ternyata bernama Niall , sembari mengangkat 1 jari telunjuk kanannya. Dasom mengangkat kepalanya , dengan raut wajah bertanya.

“Kau benar-benar tak ingin kutemani?”

“Brakk!!”

“Sepertinya kau memang tak ingin ditemani!!” Seru Niall dari balik pintu dengan keras agar Dasom bisa mendengarnya. “Istirahatlah yang banyak dan cepat sembuh ya! Nanti akan kutelpon!” Serunya sekali lagi. Tanpa dia sadar Dasom tersenyum dibalik pintu mendengar seruannya. Ditekannya tombol on/off pada layar 5 inchi tadi.

Dia menggelengkan kepalanya , tak habis pikir dengan kelakuan konyol Niall barusan.  Diputuskannya untuk kembali kekamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang entah mengapa semakin bertambah lemas.

“TAP!!”

“TAP!!”

“TAP!!”

Dasom duduk disisi kiri ranjangnya. Hari belum sepenuhnya berjalan , namun seperti sudah memberikan beban yang banyak pada dirinya hari ini.

“TING!! NONG!!”

Kembali bel apartementnya berbunyi ketika dia baru saja  hendak merebahkan tubuhnya. Dasom menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. “Apalagi kali ini yang tertinggal…” Gumamnya sembari kembali keluar dari kamarnya dan melangkah menuju pintu. Dia yakin itu pasti Niall , oleh karena itu tidak dia tekan tombol on/off dilayar 5 inchi tadi untuk melihat siapa yang datang. Itu pasti Niall , yakinnya sekali lagi.

“Cklek!!”

“Apa la….Louis?”

“Hey,”

Dasom terpaku menatap sosok Louis yang kini berdiri dihadapannya. Ada suatu rasa yang membuncah didalam dadanya ketika melihat sosok Louis , namun ditahannya rasa itu agar tidak tergambar di air mukanya, “Ad-da apa?” Tanya Dasom akhirnya membalas sapaan Louis.

Louis menggaruk rambut belakangnya , suasana canggung melingkupi keduanya. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Louis kemudian.

“Keadaanku?” Ulang Dasom sembari mengerutkan keningnya. Tumben sekali , pikir Dasom dalam hatinya. Louis mengangguk.

“Uhm , seperti yang kau lihat , baik-baik saja dan tidak kurang satu apapun.” Jawab Dasom dengan nada sedikit terdengar ketus.

Louis mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti , dia sadar kalau tersirat nada marah dalam perkataan Dasom. Namun dia berpura-pura tak menyadarinya , agar suasana tidak menjadi panas lagi seperti sebelumnya di sekolah tadi.

Keduanya diam, tak ada yang memulai pembicaraan lagi setelahnya. Mereka diam dan saling berdiri didepan pintu apartement Dasom. Dasom yang menyadari hal itu setelah melihat tetangga sebelahnya melirik heran ke arah mereka. “Kau mau masuk?” Tawar Dasom kemudian.

“Kalau kau tak keberatan.” Jawab Louis sembari menghela nafas , untung  saja Dasom tidak menanyakan apalagi keperluannya. Huft.

Dasom mempersilahkan Louis untuk masuk dan duduk di sofa berwarna kelabu diruang tamunya.  Setelahnya Dasom berinisiatif untuk menyuguhkan segelas minuman , meski Louis tidak memintanya.

“Aku dengar kau sakit, apa itu benar?” Tanya Louis setelah Dasom duduk dihadapannya.

Dasom mengangkat kedua bahunya, “Entahlah , aku hanya merasa lemas saja.”

Louis mengerutkan keningnya. Jelas-jelas dia melihat pergelangan tangan Dasom menjadi memerah karena alerginya yang kambuh , belum lagi wajahnya yang terlihat pucat. Tapi kenapa Dasom bilang hanya merasa lemas “Apa bedanya dengan sakit?” Louis kembali bertanya.

“Jelas beda!” Sahut Dasom lagi sembari membuang muka ke arah lain sambil menutupi pergelangan tangannya , tentu dia menyadari ketika Louis terus memperhatikan bagian tubuhnya yang tengah alergi tersebut. Dia tahu , Louis sepertinya khawatir , tapi ayolah … apa nada bicaranya harus begitu?

Keluar lagi sifat aslinya , keluh Dasom lagi-lagi hanya dalam hati.

Louis melangkah mendekati Dasom dan meletakkan punggung tangannya di kening Dasom , membuat Dasom sedikit terkejut dan berjingkat kebelakang “Suhumu meningkat. Apa kau sudah minum obat?” Tanya Louis kemudian. Louis adalah orang kedua yang berkata seperti itu padanya , hari ini. Yang pertama .. tentu kalian tahu siapa.

“Tanganmu juga memerah , apa kau sudah memberikannya obat?” Tanya Louis lagi sembari memegang pergelangan tangan Dasom. Membuat aliran darah dinadi Dasom berdesir cepat. Detak jantungnya berpacu kian cepat , meski tak sampai terdengar oleh Louis.

Dasom menyentak tangan Louis dan menarik tangannya , kemudian menggelengkan kepalanya , “Aku sudah terbiasa seperti ini. Nanti juga sembuh sendiri.” Jawab Dasom lagi dengan nada ketus. Hayolah , hal itu sudah biasa dia lakukan ketika sedang gugup terlebih  terhadap Louis.

“Bagaimana bisa begitu?” Tanya Louis dengan nada sedikit tinggi. “Jangan membiasakan menyepelekan suatu penyakit. Meski itu hanya demam ataupun alergi kecil seperti alergimu!” Lanjutnya kemudian sembari bertolak pinggang.

“Kau ini kenapa sih? Aku bilang kan aku sudah terbiasa seperti ini!” Seru Dasom kemudian dengan seruan tak kalah tinggi.

“Ak-aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa menurutmu? Aku ini hanya menasehati hal baik padamu! Ini juga untuk kebaikanmu sendiri..” Tanya Louis lagi sembari berusaha menutupi rasa kikuknya dihadapan Dasom.

Dasom beranjak berdiri. Dia memang senang dengan kedatangan Louis ke apartementnya yang tak terduga , tapi tidak seperti ini keadaan yang diharapkannya , kalau begini lebih baik dia terus berjauhan saja dari Louis , agar tidak terkena sikap ketus laki-laki itu.

“Aku mau istirahat. Lebih baik kau pulang saja…” Ujar Dasom kemudian.

“Kau mengusirku?” Tanya Louis.

“Bukan , bukan seperti itu …”

“Kalau begitu biarkan aku merawatmu sebentar.” Ucap Louis membuat Dasom sedikit tak percaya.

“Me-merawatku?” Ulang Dasom lagi. Bukannya Dasom tuli ataupun tidak mendengar apa yang tadi dikatakan oleh Louis. Hanya saja dia ingin lebih memperjelasnya. Terbesit dihati Dasom sebuah rasa senang sesaat ketika itu.

Louis mengangguk.“Anggap saja ini sebagai permintaan maafku , karena sudah menuduhmu yang tidak-tidak tadi dan untuk hukuman dariku yang membuat alergimu kambuh.” Lanjutnya lagi.

“Ah , itu..” Dasom mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Tiba-tiba saja rasa senang sesaatnya pergi ketika Louis melanjutkan kalimatnya.

“Bagaimana? Boleh kan?” Tanya Louis.

Dasom menggeleng , “Tidak perlu. Aku sudah memaafkanmu…” Ujar Dasom , ‘Bahkan sebelum kau memintanya…’ Lanjut Dasom dalam hatinya.

“Tapi…”

“Please , aku ingin istirahat sendiri saja. Aku tidak terbiasa dirawat oleh orang lain , aku bisa sendiri.. Aku justru merasa terganggu bila ada orang lain..” Jawab Dasom dengan raut wajah agak sendu. Dasom memang sudah sangat lama terbiasa sendiri , tanpa teman ataupun keluarga.

Keluarga Dasom tinggal jauh darinya di Jerman. Sedang teman? Hanya Niall yang selama ini yang menganggap dirinya adalah teman. Eleanor juga , tapi Dasom hanya menanggap bahwa hubungan mereka tak lebih dari saling mengenal. Kalau bukan karena untuk Louis , mungkin Dasom sudah ikut pindah ketika keluarganya pergi ke Jerman 3 tahun yang lalu , ketika tepat Dasom akan masuk ke Sekolah Menengah Atas.

“Baiklah kalau kau memang tidak mau. Kalau kau butuh obat atau apapun , kau bisa menghubungiku di nomor ini…” Ucap Louis sembari menuliskan sebuah nomor dikertas kecil dari saku celananya dan menyerahkannya kepada Dasom.

‘Aku bahkan hafal nomormu itu , Lou…’

“Bagaimanapun juga , aku bertanggung jawab pada dirimu ,  akulah yang membuat sakitnya dirimu hari ini…” Lanjut Louis lagi setelah Dasom menerima kertas kecil tersebut.

‘Bukan hanya hari ini aku merasakan sakit karena dirimu… tapi juga kemarin – kemarin … Bedanya kali ini kau menyadari perbuatanmu…’

 

Dasom melihat kertas kecil tersebut tanpa menjawab perkataan Louis , “Kalau begitu aku pulang dulu , Dasom. Jangan lupa hubungi nomor itu , bila kau memerlukan sesuatu seperti obat untuk alergimu misalnya…” Ucapnya sembari berjalan menuju daun pintu. Dan Dasom mengekorinya dibelakang.

“Bye…” Pamit Louis pada Dasom yang berdiri diambang pintu. Dasom langsung menutup pintu apartementnya. Namun sedetik kemudian , dibukanya lagi pintu itu dan memandangi punggung Louis dari belakang dengan raut wajah sedih.

Sedikit rasa sesal muncul dihatinya ketika mengingat dia menolak tawaran Louis untuk menjaganya. Bagaimanapun juga ini adalah moment yang sangat langka dan jarang baginya. Berbicara dengan Louis dalam setahun saja frekuensinya bisa dihitung pakai jari , apalagi berdua seperti tadi.

“Hey! Kau tinggal disini juga?” Seru sebuah suara yang membuat lamunan Dasom buyar. Dasom menolehkan kepalanya pada orang yang baru saja bertanya uhm sepertinya pada dirinya. Seorang laki-laki yang baru dia lihatnya 2 kali dengan ini. Kali ini dia mengenakan pakaian yang lebih santai dari pertemuan sebelumnya. Celana bahan berwarna hitam selutut dengan kaos berlengan pendek berwarna putih.

Dasom mengangguk. Hari ini dia terlalu malas untuk berbicara atau mengeluarkan suara.

“Oh iya. Jaketmu akan kukembalikan setelah dicuci nanti , mungkin baru besok aku kembalikan padamu..” Ujar Dasom kemudian.

“Oh , itu , tidak perlu terburu-buru , bahkan kalau kau mau kau boleh memilikinya.” Ucapnya kemudian.

Dasom menggeleng , “Tidak! Aku akan mengembalikannya besok padamu. Besok kau ada diapartementmu kan?” Tanya Dasom kemudian.

Zayn , nama orang itu , mengangguk. “Terserah kau sajalah. Oh iya , aku mau ke minimarket. Apa kau ingin titip sesuatu?” Tanya Zayn lagi.

Dasom menggeleng , “Tidak perlu… aku masuk dulu…” Pamitnya pada Zayn sembari langsung menutup pintunya sebelum Zayn menjawabnya.

***

Hari sudah gelap ketika Dasom terbangun dari tidurnya karena mendengar bel apartementnya berbunyi. Bukan gelap karena sudah malam , karena ini baru jam 4 sore , namun ketika Dasom melihat ke arah luar jendela , dia lihat awan mendung telah menyelimuti langit diatasnya.

Entah kali ini siapa lagi orang yang hendak bertamu keapartementnya. Sepertinya dia memang sakit , karena ternyata dengan tidur selama 5 jam membuat tubuhnya merasa lebih baik dan ringan.

“TING! NONG!”

Untuk yang kesekian kalinya , bel apartement Dasom kembali berbunyi. Karena merasa terganggu dengan suara tersebut , Dasom akhirnya memutuskan untuk kembali keluar dan mengampiri ambang pintu.

Ditekannya tombol on/off dilayar cctv untuk melihat tamunya kali ini. Dan tampilan yang ada dilayar membuat Dasom sedikit bingung , dikuceknya kedua matanya untuk memperjelas pandangannya.

“Tidak ada siapa-siapa..” Gumamnya. Sebenarnya dia malas membuka pintu , namun karena diliputi rasa penasaran Dasom membuka kenop pintu dan memang seperti dugaannya , tidak mendapati seorang pun berdiri dibalik pintu tersebut. Dilihatnya ke kanan dan kekiri. Tetap Nihil.

“Orang isengkah?” Tanyanya pada diri sendiri sembari menundukan kepalanya terlihat berpikir , “Lho? Apa ini?”  Gumamnya sembari mengambil sesuatu yang berada didekat kakinya. Sebuah plastik berwarna putih dan didalamnya terdapat….

“Obat?” Tanya Dasom setelah mengeluarkan isinya dari plastik dan mengangkatnya dihadapannya. Diperhatikannya secara seksama obat tersebut , “Obat Penurun Panas dan Salep untuk alergi kulit…” Ucap Dasom membaca tulisan yang tertera pada label obat tersebut.

Tadinya dia sempat mengira bahwa obat tersebut salah alamat , tapi ketika melihat sebuah kartu kecil yang ditujukan untuk dirinya sendiri , dia jadi yakin bahwa obat itu memang untuk dirinya.

Tapi masalahnya siapa yang meletakkan obat didepan rumahnya? Yang tahu dia sakit hanya Louis , Eleanor , Niall dan Zayn , tapi yang tahu penyakitnya secara spesifik hanya Louis , Eleanor dan Niall dan orang yang datang ke apartementnya hanya Louis dan Niall.

Jadi sebenarnya siapa yang memberikan obat itu? Louiskah? Atau Niall?

Atau…

***

TBC

2 thoughts on “I Wish | Part 3

  1. Kereen min >.<
    kyknya bakal ada cinta segitiga atau segiempat deh😀

    Next ne^^
    Ok ok! ¡ Please, ku tunggu..
    F.I.G.H.T.I.N.G
    ff nya D.A.E.B.A.K loh min xD~

  2. Kereen min >.<
    kyknya bakal ada cinta segitiga atau segiempat deh😀

    Next ne^^
    Ok ok! ¡ Please, ku tunggu..
    F.I.G.H.T.I.N.G
    Oiya,, ff nya D.A.E.B.A.K loh min xD~

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s