I Wish

 

Tittle : I Wish

Cast : Kim Dasom , Louis Tomlinson , Eleanor ,  etc.

Genre : Romance , Hurts

Rate : Teen

Length : Chapter

Part : 1 of ?

Author : LidyaNatalia

Warning : Yang nggak suka sama pairingnya , jangan baca. Yang nggak suka sama Sistar , 1Direction juga nggak usah baca. Banyak Typo , Nggak terima bashingan , apalagi bashing pairnya. Pokoknya I WARN all of you to do not read this fanfiction if you didn’t like the cast or didn’t like me .

Disclaimer : 1Direction dan Sistar belong to God and their family ~ But this story originally belong to me.

A/N : Terinspirasi dari Lagunya One Direction yang berjudul I Wish . Tapi ini bukan songfict loh ~ hanya terinspirasi , selain itu More Than This juga turut serta dalam pemberian inspirasi , ~

Summary : Oh how I wish that was me …

Let’s check this out the story…

***

Ditengah rintikkan air yang berjatuhan secara teratur , seorang gadis paruh bayah tengah melangkah dengan terburu. Dirinya berniat mendahului derasan air hujan yang lebih nanti untuk sampai ketempat tujuannya lebih dulu.

Namun percuma.

Air yang tadi masih berupa rintikkan perlahan kini sudah menjadi serbuan deras ke bumi. Terpaksa dia menghentikkan langkahnya disebuah halte kecil terdekat untuk melindungi tubuh dan barang bawaannya dari basahnya air hujan.

Sebenarnya kalau hanya dia yang basah tidak mengapa , namun dia tidak boleh egois , dia harus menjaga barang bawaannya kalau mau misinya kali ini berhasil. Buat orang lain mungkin bukan hal penting , namun tidak baginya. Ini adalah hal besar. Mungkin dia bisa menganggapnya ‘sesuatu yang menentukan’ untuk kedepannya. Bagi diri dia sendiri tentunya.

Diletakkannya barang bawaannya ditempat duduk besi tua yang memanjang. Sementara dia duduk disebelahnya. Diperhatikannya surai hitam sepundaknya yang menjadi sedikit lepek karena rintikkan air hujan tadi.

“Bagaimana ini? Rambutku pasti terlihat sangat berantakan..” Gumamnya cemas sembari memeras ujung-ujung surainya untuk menghilangkan kandungan air didalamnya.

Dimiringkannya kepalanya kekanan untuk mengeringkan surai bagian kanannya , dan secara bergantian kini surai bagian kirinya , dengan kepala miring ke kiri. Sekilas dia dapat melihat gedung tempat tujuannya yang sebenarnya sudah tidak jauh. Bisa saja dia sebenarnya berlari cepat untuk sampai kesana. Namun sekali lagi barang yang tergeletak manis disampingnya memaksa dirinya untuk berteduh dibawah atap besi halte kec il ini.

Mengingat dia berteduh untuk melindungi barang bawaan disampingnya , dia tersenyum manis. Diambilnya barang tersebut dan diletakan diatas pangkuannya , sembari terus mengayunkan kakinya kedepan dan kebelakang dia mencoba melihat isi dari kotak putih besar dengan cara membuka tutup bagian atasnya. “Masih bagus!” Serunya sembari menutup kembali kotak putih tersebut.

Kembali dia melirik ke arah kirinya , melihat Gedung tempat tujuannya sekali lagi. Dan dilihatnya langit-langit yang masih menyajikan warna kelabu dimatanya.

“Sepertinya hujan akan lama berhenti…” Gumamnya sembari merunduk sedih dan memeluk ( tidak terlalu)  erat kotak putih dipangkuannya.

“Hujan… cepatlah berhenti…” Gumamnya lagi  menatap lurus kedepan sembari meletakkan dagunya diatas kotak putih tersebut dan mengetuk-ngetukkan tapak sepatunya.

“Louis!! Awas kau!!

Gadis itu langsung menoleh tatkala mendengar suara seruan kecil tertangkap oleh pendengarannya dari arah kiri.  Disipitkannya matanya yang bulat sipit agar dapat melihat jelas siapa orang yang baru saja menyerukan nama yang tidak asing ditelinganya.

“Kalau kau bisa coba tangkap!!”

DEG!!

Matanya membulat lebar. Hujan memang membuat pandangannya jadi samar. Tapi tidak pendengarannya. Dia mengenal suara itu!

Ketukan tapak sepatunya kini langsung terhenti melihat pemandangan yang tak jauh darinya.  Dia meletakkan kotak putih tersebut disampingnya lagi. Dan perlahan beranjak berdiri dan mencoba mendekat ke ujung tiang halte untuk lebih mengenali orang yang tengah dilihatnya , bukan hanya satu , tapi dua. Dan dia sangat mengenali kedua orang itu.

Dia tersenyum getir.

“Bodoh.” Ucapnya kemudian pada dirinya sendiri. Dia kembali ketempat semula dan mengambil  tas slempangnya yang tadi juga dia letakkan di samping kotak putih besar tersebut.

Dan dengan langkah berat dia paksakan menerobos serbuan air hujan yang masih terus membasahi bumi tanpa menurunkan ukuran jatuhnya air-air tersebut.

Dia tinggalkan kotak putih besar yang sedari tadi terus dipertahankannya agar tidak basah ataupun terguncang hingga isi didalamnya bisa hancur ataupun rusak. Tidak perduli dengan tubuhnya yang semakin basah kuyup. Toh tidak ada lagi barang ataupun hal didirinya yang harus dilindungi kini. Begitu pikirnya.

Percuma dia mempertahankannya.

Dia pergi meninggalkan tempat itu. Deru suara hujan yang terdengar sangat jelas menutupi suara yang hampir tak terdengar yang keluar dari mulutnya.

Perlahan , punggungnya menghilang bersamaan dengan derasnya air hujan yang membawa bayangannya pergi menjauhi tempat itu.

Sementara kedua orang yang dilihatnya semakin mendekat ketempatnya semula untuk melakukan hal yang sama yang sebelumnya dilakukan gadis itu. Berteduh.

“Elean!! Lihat apa yang kutemukan!” Seru laki-laki yang tadi dipanggil Louis kepada seorang wanita yang dia panggil Elean.

Gadis tersebut mendekat mengikuti tempat Louis berdiri dengan kotak putih besar ditangannya. Elean menatap isi dari kotak tersebut…. dan menatap ke arah Louis dengan kening sedikit berkerut , lebih tepatnya dengan pandangan bertanya. Namun hanya dibalas dengan angkatan kedua bahu Louis.

Laki-laki tersebut menyerahkan kotak putih besar tersebut kepada sang gadis dan berjalan ke tiang halte yang berada diujung sebelah kanan. Mencoba mencari siapa saja orang yang berada disana , yang siapa tahu masih berada disini. Dan dia yakin walaupun mungkin orang itu sudah pergi , pasti dia tadi berada disini ketika mendengar dirinya dan Elean bersenda gurau dibawah derasnya hujan.

“Ini untukmu , Lou!” Seru Elean kemudian setelah meneliti lebih lanjut. Louis yang sudah tahu hal itu sejak awal hanya diam. Dan tersenyum kecil ke arah Elean.

Dia yakin. Dia pasti mengenal orang itu. Meski tidak tahu siapa tepatnya.

***

“Hatchiimm!!!!”

Disebuah kamar berukuran sedang , seseorang sedari tadi terus menggosok-gosokkan hidungnya untuk menghilangkan rasa gatal untuk bersin.

Dia mengambil lagi selembar tisu yang berada dikotak diatas meja nakas disisi kiri tempat tidurnya. Entah itu sudah tisu yang keberapa yang dia ambil. Yang pasti selama bersin terus keluar dari hidung bangirnya , dia tidak akan berhenti terus menarik lembaran tisu tipis tersebut.

Sudah hampir 3 jam lebih dia terus terpaku dengan posisi kedua kaki yang didekapnya erat dan pandangan mata sayunya yang sarat akan kesedihan.  Sesekali setelah membersihkan virus bersinnya dengan tisu , dia menggunakan kedua telapak tangannya untuk mengusap-usap kedua kakinya yang mulai terasa dingin.

Padahal sudah hampir 3 jam , tapi efek dingin yang ditimbulkan dari air hujan yang sebelumnya terus mengguyurnya tak juga hilang. Dilihatnya jam weker kecil berwarna biru muda aksen bola-bola putih kecil , yang berada didekat kotak tisunya. Ini baru jam 7 malam. Tapi kenapa dia sudah merasa sangat lelah?

Bukan hanya lelah tubuhnya , tapi juga lelah hati , pikiran dan lelah perasaannya.

Dia sudah tahu bahwa perasaannya salah , namun dia juga tidak dapat memungkiri bahwa rasa yang menggebu didalam hatinya tidak bisa tertahankan. Meskipun dia tahu bahwa pada akhirnya , akhir seperti inilah yang akan didapatinya apabila tak membuang jauh-jauh perasaan itu.

“Hatchimmm!!!”

Sekali lagi diambilnya selembar tisu tipis itu lagi.

Setelah itu direbahkannya tubuh kecilnya diatas ranjang berseprai kain putih berbahan sutra tersebut dalam keadaan masih memeluk kedua kakinya erat. Dalam keadaan tidur menghadap kesamping kanan , dia mencoba memejamkan matanya.

Seiring dengan matanya yang terpejam , air mata mengalir dari sudutnya tanpa suara ataupun isak yang nyata.

***

Detik terus bergulir menjadi menit , begitu pula kumpulan menit yang terus bergulir menjadi jam , hingga malam hilang pagi menjelang.

Seorang gadis bertubuh kurus dengan kulit putih susunya berjalan seorang diri disepanjang trotoar jalan raya yang membelah pusat kota. Kicauan burung nuri yang sejak tadi terdengar ditelinganya sama sekali tidak menimbulkan efek apapun , bahkan kecerian sedikit pun.

Baju seragam berwarna putih , dengan aksen dasi berbentuk pita berwarna merah muda bermotif dilehernya serta rok berwarna biru kehitaman diatas lututnya , menandakan bahwa dia masih seorang siswi dari salah satu sekolah di kota tersebut.

Entah apa maksudnya datang pada jam seperti ini. Bukankah jam masuknya sudah lewat dari 15 menit yang lalu?

Jawabannya adalah karena dia mencoba menghindari laki-laki yang suaranya dia dengar kemarin , Louis. Louis adalah seorang Ketua osis disekolahnya. Biasanya dia akan datang lebih pagi dan berjaga didepan gerbang untuk menunggu para siswa lain yang datang. Dan setelah jam 7 dia akan menutup pintunya dan penjagaan selanjutnya akan digantikan oleh Seksi Komisi Disiplin tim Osis yang memang sudah bekerja sama dengan pihak sekolah.

Mungkin kali ini lebih baik bertemu dengan Komdis daripada Louis. Begitu pikirnya.

Tepat dugaannya. Louis sudah tidak ada didepan gerbang sekolahnya. Tapi…

Kemana Seksi Komisi Disiplin yang biasanya sudah berjaga disana? Gadis itu mengerutkan keningnya bingung. Dia melangkah mendekati gerbang sekolahnya dan berdiri tepat didepannya , dilihatnya kebawah. Masih belum terkunci.

Apa Dewi Fortuna sedang mengerti perasaannya?

Perlahan dia genggam pegangan dari gerbang tersebut , hendak mendorong kedalam dan membuka pintu gerbang itu , namun belum sempat dia melakukan niatannya , sebuah tangan menahan gerakannya dengan meletakan tangannya diatas tangan gadis itu.

Gadis itu mengangkat kepalanya dan sedikit terkejut mendapati orang yang tidak ingin dia lihat justru berada dihadapannya dengan jarak yang begitu dekat. Dia tak pernah sedekat ini sebelumnya.

“Kau tahu kesalahanmu?” Tanya Louis. Ya siapa lagi kalau bukan Louis.

“Kenapa kau berada disini? Bukankah sekarang giliran Seksi Komisi Disiplin?”

“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku , Kim Dasom , siswi kelas 3 A2.” Tegas Louis kemudian.

Gadis bernama Dasom tersebut tertawa kecil mendengar ketegasan laki-laki dihadapannya.

‘Bahkan kau sangat konyol kemarin!’ Batin Dasom tanpa bisa terdengar oleh Louis.

“Apa ada yang lucu?” Tanya Louis yang kemudian mengeluarkan sebuah note kecil dan mencatat sesuatu. Tanda pelanggaran mungkin. Begitu pikir Dasom.

“Kau datang terlambat 17 menit dari jam masuk yang seharusnya. Karena aku lihat ini baru kali pertamamu. Maka kau hanya perlu  membereskan buku-buku diperpustakaan yang telah dikembalikan oleh peminjam.”  Ucapnya menjelaskan sembari berbalik membelakangi Dasom setelahnya.

Dasom langsung memegangi dada kirinya. Berdebar dan berdegup kencang seperti biasa. Dia menggigit bibir bawahnya menahan tubuhnya yang tiba-tiba melemas , ini adalah salah satu efek apabila dia melihat Louis.

Louis kembali menoleh kebelakang , karena tidak mendengar suara decitan gesekan besi yang berbunyi. “Ada apa? Apa kau sakit?” Tanya Louis agak khawatir ketika mendapati Dasom terus memegangi dada kirinya.

Dasom menggeleng pelan , dan sedikit menunduk ketika Louis mendekatkan wajahnya.

“Kalau begitu cepat ikuti aku.” Sahut Louis pada akhirnya sembari menarik wajahnya dan berjalan meninggalkan Dasom.

“Huh…” Dasom menghela nafas lega ketika Louis mulai menjauh. Dan sedetik kemudian dia langsung mendorong pegangan pintu gerbang tersebut untuk masuk dan mengikuti langkah Louis yang berjalan menuju perpustakaan tua milik sekolahnya.

***

Dasom mengambil tisu didalam tasnya. Entah sudah berapa lama perpustakaan ini sudah tak seramai dua setengah tahun yang lalu , ketika pertama kali Dasom menjadi siswi disini. Seingatnya , dulu , perpustakaan ini sangat ramai dikunjungi para kakak kelasnya terdahulu.

Namun kini , berkebalikan dengan waktu lalu , bahkan tebal debu yang menempel di setiap buku dan sudut rak hampir mencapai 5mm. “Apa tempat ini tidak pernah dibersihkan oleh petugas perpus?” Gerutu Dasom sembari mengelap debu dihadapannya.

“Jangan banyak bicara. Kerjakan saja dengan cepat , biar kau bisa cepat masuk kelas!”

Dasom berjingkat dan langsung menoleh kebelakang. “K-kau masih disini?”

“Menurutmu?” Tanya Louis lagi. “Apa mungkin aku akan meninggalkanmu dan membiarkanmu kabur dari hukumanmu begitu saja?” Lanjutnya lagi dengan nada sedikit membuat Dasom kesal.

“Aku tidak sepicik itu!” Serunya sembari beralih ke rak lain dan meninggalkan Louis. Kata-kata Louis sangat kasar menurutnya. Dan dia tidak suka itu.

Louis yang menyadari telah mengucapkan kata yang tidak seharusnya langsung mengekori Dasom dari belakang. “Hey, Dasom! Kau tahu , aku tidak bermaksud begitu. Hanya…”

“Hanya apa?” Tanya Dasom sengit sembari kembali menghadapkan pandangannya ke arah Louis. Sebenarnya hatinya berdegup dan berguncang tak karuan , hanya saja dia harus bisa menyesuaikan dirinya agar tidak terlalu kelihatan bodoh dimata Louis.

“Hanya saja … aku hanya menjalankan tugas. Yeah , seperti itulah. Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Louis ketika mendapati Dasom terus memandangnya intens.

Dasom mengarahkan pandangannya ke arah lain , dan langsung berbalik. “Lebih baik kau diam. Dan aku akan menyelesaikan hukumanku dengan cepat. Begitu kan maumu?” Tanya Dasom sengit. Sebenarnya bukan itu kata-kata yang ingin dia katakan pada Louis , hanya saja dia terlalu gugup untuk mengungkapkan kalimat-kalimat yang sebenarnya ingin dia sampaikan pada Louis , seperti “Ini pertama kalinya kita berdua dalam satu ruangan seperti ini!” atau “Aku menyukaimu Louis , bahkan sebelum kau dekat dengan Elean.” Tapi itu mustahil dikatakannya , mengingat kegugupannya tadi.

“Hey! Kenapa kau begitu sinis padaku? Apa kau marah padaku?” Tanya Louis sembari menatap punggung Dasom yang membungkuk karena membersihkan bagian bawah rak-rak buku di perpustakaan itu.

“Menurutmu?” Tanya Dasom balik sembari melangkah menuju meja didekat pintu perpustakaan tersebut , melewati Louis yang tengah berdiri , untuk mengambil beberapa buku yang hendak dia kembalikan ke tempatnya.

“Kenapa kau suka sekali menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan? Huh?” Tanya Louis lagi.

“Sudahlah! Bisa kau diam sedikit? Kau menyuruhku cepat tapi kau terus mengajakku berbicara..” Desah Dasom.

“Tapi….”

Dasom segera berbalik dan meletakkan jari telunjuknya tepat ditengah bibirnya kepada Louis , “Ssstttt….” desisnya membuat Louis tak jadi berbicara.

“Terserahlah…”

***

TBC

The second fiction of 1STAR FANFICTION :DD

Sebenarnya mau dibuat Oneshoot , tapi kok kayanya lebih pantes berchapter ya? Yaudah deh jadinya dibuat berchapter …

Yang udah baca , jangan lupa Komen ya ~

One thought on “I Wish

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s