TIME MACHINE | FANTASY FANFICTION | Part 1

 

Tittle : Time Machine

Cast : Kim Dasom , Kang Soyou , etc.

Genre : Fantasy , Family , Friendship

Rate : Teen

Length : Chapter

Part : 1 of ?

Author : LidyaNatalia

Warning : Yang nggak suka sama pairingnya , jangan baca. Yang nggak suka sama Sistar , Super Junior juga nggak usah baca. Banyak Typo , Nggak terima bashingan , apalagi bashing pairnya. Pokoknya I WARN all of you to do not read this fanfiction if you didn’t like the cast or didn’t like me .

Disclaimer : The Casts belong to God and their family ~ But this story originally belong to me.

A/N : Ide cerita timbul karena author sangat menyukai Sistar dan hal berbau Fantasy , well. Ini cuma fiksi , jangan dianggap serius.

Summary : Darava Somunva dalam bahaya , Dasom harus pergi kesuatu tempat untuk mencari warga Somunva . Tapi Kemana dia harus pergi? Dia tidak pernah keluar dari negri Elf ..

Let’s check this out the story…

***

Suatu waktu disebuah negri antah berantah bernama Darava Somunva terjadi kekacauan yang sangat mengerikan. Negri itu diserang oleh sebuah kekuatan jahat yang berasal dari kaum Yvonnus , ketenangan kaum Somunva terganggu.  Para penduduk sipil binasa akan kekuatan jahat mereka.

Darava Somunva dalam bahaya. Secara kasat mata semua binasa dengan negri luluh lantah. Sosok  Gracius , sang Dewa dari kaum Yvonnus merasa telah berhasil membinasakan semua kaum Somunva. Dia berjalan perlahan menyisiri bukit-bukit tumpukkan abu para penduduk Somunva , hatinya tertawa puas , matanya bersinar buas mengawas.

Ternyata rencananya untuk menyerang Darava Somunva pada saat mereka terbuai mimpi indah adalah sebuah kejeniusan tinggi. Karena dengan begitu mudahnya kaum yang dianggapnya tak berguna berhasil dienyahkannya dari tanah ELF.

Baginya , hanya kaum Yvonnus yang pantas tinggal ditanah ELF. Tidak kaum Somunva yang baru saja dibinasakannya , tidak juga kaum Pandora , Quevenvs , Omunvara , serta lainnya , yang sudah dia binasakan sebelumnya.

Hampir tak ada yang dapat luput dari pandangannya.

Hampir?

Ya! Hampir. Karena seorang peri kecil dari kaum Somunva justru tengah tertidur pulas disela puing-puing reruntuhan negri Somunva. Tanpa dia sadari , tubuh kecilnya yang dari dulu dia keluhkan justru menjadi penyelamatnya kini dari Gracius. Bahkan sampai jejak Gracius tak berpijak lagi di tanah Somunva pun , peri itu masih terlelap dalam mimpi indahnya.

Mimpi tengah menjahili Francis , guru pelajaran mengendalikan waktu. Dia paling suka menjahili Francis , karena guru itu memang sangat mudah untuk dijahili olehnya , bahkan hampir ratusan kali dia menjahilinya tapi Francis tetap mudah untuk dijahili. Dasar nakal.

Waktu bergulir , sang penguasa cahaya mulai menunjukan pesonanya , peri kecil itu melenguh dalam tidurnya , merasa terganggu dengan kedatangan penguasa cahaya. Namun seperti masih menikmati mimpi indahnya , dia memaksakan matanya untuk tetap terkatup rapat.

Setengah jam berlalu. Kesadarannya berangsur datang seiring dengan kebingungannya yang tidak mendengar kegaduhan yang semestinya dia dengar setiap pagi menjelang.

“Kemana Anna?” Tanyanya pada diri sendiri sebelum akhirnya membuka mata dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut.

“Ap-apa yang terjadi dengan….” Peri kecil itu melihat ke sekitarnya , dia seperti berada disebuah tanah lapang yang penuh dengan reruntuhan puing-puing bangunan yang hancur , tunggu seperti berada disebuah tanah lapang atau seperti berada disebuah tanah yang baru saja tertimpa bencana? Tanyanya ragu dalam hati.

“Dasom..”

Ditengah kebingungan mentap keadaan disekitarnya , dia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang menurutnya seperti memanggil namanya.  Dan Gotcha! Ternyata benar memang ada yang memanggil namanya. Dia tersenyum senang ketika mengetahui siapa yang memanggilnya barusan.

“Anna..!!!” Serunya seraya terbang dengan kedua sayapnya yang tadi tersembunyi dibalik punggungnya dan langsung memeluk orang yang dia sebut Anna tadi.

“Untunglah kau selamat , Dasom.” Desah orang tersebut lega sembari mengusap puncak kepala Dasom.

Dasom menarik kepalanya yang tadi dia tenggelemkan didalam tubuh wanita yang berada dihadapannya. “Selamat? Dari apa?” Tanyanya bingung , Dasom kemudian melihat kesekelilingnya. “Dari bencana besar ini, Anna?” Lanjutnya lagi.

“Lebih dari sekedar bencana besar Dasom. Kau ingat Gracius?” Tanya wanita itu sembari memegang pundak Dasom kuat-kuat.

Dasom mengangguk , “Ada apa dengan Paman Gracius , Anna?” Tanyanya lugu.

“Dialah penyebab kekacauan ini. Dia yang membinasakan kaum Darava Somunva semalam , ketika Anna  baru tiba di Startique  , Avanra mengabari Anna kalau Gracius beserta anak buahnya melakukan penyerangan dinegri kita.” Jelasnya. “Untung saja kau selamat , Dasom.” Lanjutnya sembari memeluk Dasom lebih erat lagi.

Dasom yang masih kebingungan dan masih berusaha mencerna perkataan Annanya hanya pasrah ketika tubuhnya dipeluk paksa , menurutnya.

“Oh iya , ada satu hal yang ingin Anna tanyakan padamu.”

“Iya , Anna?”

“Kau bersembunyi dimana semalam? Sampai-sampai bisa selamat dan bahkan Gracius itu tahu tempat persembunyian tikus kecil pun , sementara kau tidak?”

“Anna mengejekku?” Tanya Dasom sedikit sebal pada wanita yang sudah membuatnya berada didunia itu.

“Anna serius Dasom. Kau bersembunyi dimana memangnya?” Tanya sang Anna lagi.

Dasom melipat kedua tangannya sembari mengepakkan sayapnya dan berterbangan disekeliling puing-puing reruntuhan bekas kejadian semalam. “Aku tidak bersembunyi dimanapun , Anna. Aku hanya tidur dikamarku seperti biasa. Dan ketika aku bingung karena cahaya sudah tampak tapi Anna belum bersuara seperti biasanya , aku membuka mataku dan … yah mendapati sekelilingku sudah seperti ini.” Jelas Dasom.

“Kau bercanda Dasom!” Seru Annanya tak percaya.

“Tidak! Aku tidak bercanda , Anna.” Sahut Dasom.

“Yayaya , Anna percaya. Sudahlah lebih baik sekarang kita pergi ke Startique untuk bersembunyi dari dewa jahat Gracius itu.  Zuzean sudah menyiapkan tempat untuk kita disana.” Ucap Anna Dasom sembari merangkul putri semata wayangnya itu.

“Kita?” Tanya Dasom. “Anna yakin?”

“Kenapa memangnya?” Tanya Anna Dasom lagi.

“Entahlah , aku hanya bingung saja. Darimana dia tahu kalau aku selamat. Bahkan sebelumnya Anna tidak tahu kan?” Ucap Dasom lagi.

Anna Dasom mengerutkan keningnya sedikit berfikir , dan sejurus kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang jauh-jauh prasangka buruk terhadap orang yang sudah dianggap seperti keluarga baginya. “Tak ada yang perlu kau curigai dari Zuzean , yang penting sekarang kita harus bersembunyi dari Gracius terlebih dahulu. ”

“Tidak , Anna. Aku tidak mau pergi ketempat Paman Zuzean. Aku rasa akan lebih baik kalau tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku selamat. Aku , aku ingin pergi ketempat Pak Francis saja. Aku yakin disana lebih aman.”

“Bukankah , kau bilang Pak Francis sedang pergi ke Utara? Tidak , tidak ! Kau ikut Anna saja.” Tegas Anna Dasom sembari menarik tangan Dasom untuk terbang.

Dasom menahan langkahnya , “Harusnya hari ini dia sudah kembali dari Utara , Anna. Ayolah Anna aku mohon , kali ini saja.” Ucap Dasom memelas.

“Yasudah biar , Anna antar. Akan Anna pastikan kau sampai dengan selamat didepan kediaman Pak Francis.” Ucapnya mengalah kemudian.

“Yeay!! Terimakasih , Anna! Aku mencintaimu!”  Pekik Dasom kesenangan.

“Mencintai? Apa itu?” Tanya Anna Dasom bingung.

“Entahlah , aku juga tidak tahu. Yang jelas kata pak Francis , orang-orang di utara mengatakan kata itu untuk mengungkapkan rasa sayang mereka.” Sahut Dasom.

“Wah , apa saja yang Pak Francis ajarkan padamu , Hah? Bahkan Anna pun tidak pernah mendengar kata itu ketika diajar dengannya dulu.”

“Yang pasti Anna tidak seberuntung aku.” Sahut Dasom lagi sembari tersenyum penuh kemenangan.

“Tidak seberuntung kau atau tidak sejahil dirimu? Sudahlah , cepat berpegangan , Anna ingin segera cepat sampai.”

Dasom mengerucutkan bibirnya kedepan , apa kejahilannya begitu terkenal sampai Annanya sendiri berkata seperti itu?

Hm… Entahlah.

***

“Pergi ke Utara?” Pekik Dasom terkejut. Pergi ke Utara memang adalah impiannya. Tapi itu hanya bisa dia lakukan ketika dia menginjak kelas 6. Dan sekarang? Bahkan dia baru akan naik ke kelas 3.

“Ya..” Sahut sebuah suara berat didepan Dasom. Dia adalah Francis , yang baru saja kembali dari perjalanannya ke Utara.

“Tapi , usiaku bahkan masih kurang , aku masih 19 , Pak. Apa aku bisa?” Tanya Dasom lagi.

“Kalau bukan karena keadaan mendesak. Mungkin memang tidak bisa , Dasom. Sayangnya dari sekolahmu di Somunva , baru kau yang aku ketahui selamat dari bencana semalam. Louis yang seharusnya melakukan perjalanan ke Utara , masih belum diketahui kondisi dan keberadaannya. Apa kau keberatan?” Tanya Francis hati-hati namun penuh harap pada Dasom.

“Keberatan?”  Ulang Dasom. “Tentu saja tidak pak! Aku malah sangat senang bisa pergi ke Utara.” Seru Dasom.

“Ingat Dasom , kau kesana bukan untuk main-main , kau kesana untuk mencari para penduduk Somunva yang ada di Utara.”

“Ya , aku tahu pak.” Sahut Dasom lagi.

“Akan sangat sulit meyakinkan mereka untuk mau kembali ke Somunva. Ini adalah pekerjaan berat bagimu.” Ujar Francis lagi.

“Tenang saja , Pak. Aku akan melakukan yang terbaik untuk Darava Somunva. Tapi , bagaimana aku bisa mengenali penduduk Somunva yang ada di Utara , pak?” Tanya Dasom lagi. “Bukankah mereka menyembunyikan sayap mereka?” Lanjut Dasom lagi.

“Itu dia masalahmu. Di Utara penduduk Somunva sudah berbaur dengan penduduk asli disana , sangat sulit untuk mengenali mereka karena mereka benar-benar sudah berusaha menghilangkan perbedaan mereka dengan penduduk Utara.”

Dasom mendesah putus asa. “Lalu bagaimana aku bisa menemukan mereka, Pak?”

“Tenang saja , Dasom. Dikepala mereka ada Halo yang hanya bisa dilihat oleh kaum Somunva. Dan untuk dapat melihatnya kau hanya perlu mengucapkan satu kalimat mantra…” Jelas Francis.

Dasom mengerutkan keningnya. “Mantra? mantra apa pak? Bukankah pelajaran mantra baru diberikan ketika aku kelas 5 nanti?” Tanya Dasom lagi.

“Saat ini kita terdesak , Dasom. Lupakan kurikulum itu dulu.”

“Maksudnya melanggar peraturan? Begitu?” Tanya Dasom sembari menyeringai membuat Francis sedikit gelagapan. Perbuatannya yang meminta anak kelas 2 untuk pergi ke Utara , mengajarkan mantra yang harusnya baru didapat Dasom pada saat kelas 5 nanti. Oh Tuhan , entah sudah berapa peraturan yang dilanggarnya saat ini.

“Su-sudah. Apa kau mau Darava Somunva hilang begitu saja?” Tany Francis mengalihkan pembicaraan.

Dasom menggeleng. Sesaat , dia teringat pada teman-temannya di sekolah Somunva. Entah dimana mereka sekarang.

“Nah sekarang kau ingat baik-baik mantra ini. Jangan sampai lupa. Ini adalah satu-satunya mantra yang aku berikan padamu.” Ucap Francis lagi sembari memegang pundak Dasom.

Dasom mengangguk.

“Humu Nuku A Pua A , Maka Hiki Mala Himi Hu..”

“Humu Nuku A Pua A …” Dasom mencoba mengingat – ingat kata-kata selanjutnya dengan berfikir keras.

“Maka Hiki Mala Himi Hu , Dasom. Jangan sampai lupa. Salah-salah kau malah bisa mengucapkan mantra kejahatan.” Koreksi Francis.

Dasom menunduk ragu ke bawah. “Mantra kejahatan?” Gumam Dasom pelan. Dasom mengangkat kepalanya menatap Francis. “Apa boleh aku catat mantranya , Pak? Aku takut lupa.” Jawab Dasom

Francis menggeleng cepat , “Tidak. Kau tidak boleh meninggalkan bekas atau jejak apapun. Kau hanya perlu mengingatnya dengan baik.”  Dasom mengangguk patuh.

“Kau punya waktu satu hari untuk mengingat mantra itu dan setelah itu kita akan pergi ke utara. Sekarang lebih baik kau istrahat untuk mengumpulkan tenaga.” Saran Francis

Dasom mengangguk.

***

Dasom menggenggam erat kedua tangannya. Entah mengapa dia menjadi gugup sekarang. Perjalanan ke Utara adalah impiannya , “Hah , mungkin aku terlalu senang.” Ucapnya menenangkan diri.

“Kau sudah siap , Dasom?” Tanya Francis memastikan. Kini mereka tengah berdiri didepan sebuah Time Machine , mesin waktu yang dapat membawa mereka secara langsung ke Utara.

Sebenarnya bisa saja mereka terbang , namun itu akan memakan waktu lama dan juga sangat melelahkan. Francis memutuskan untuk menggunakan Time Machine yang sudah lama dia simpan digudang kediaman asrinya.

Pergi dengan Time machine memang cepat , tapi ada satu hal yang sebenarnya tidak disukai oleh Francis dengan Time Machine ini , dan dia sudah memberitahukan Dasom akan hal itu.

Tidak seperti terbang dan langsung pergi ke tempat tujuanmu. Time Machine akan membawa kesebuah tempat random di negri Utara , yang kabarnya negri itu sangat luas.

Dasom mengangguk.

“Ingat Dasom , disana kau harus menyamar menjadi penduduk Utara. Disana sedikit berbahaya. Kau harus berhati-hati.” Ujar Francis memberi nasihat sekali lagi pada Dasom.

“Baik , Pak, aku mengerti.” Sahut Dasom membuat Francis sedikit mendesah lega , setidaknya dasom pergi ke Utara dengan senang hati dan tanpa paksaan.

“Ingat , bila kau ingin menggunakan Time Machine tempelkan Sapphire Corona ini disebuah pintu dan pastikan disekelilingmu tidak ada orang yang melihat.Baiklah. Sekarang kau pejamkan matamu. ” Pinta Francis. Dan sejurus kemudian Dasom langsung memejamkan matanya mengikuti perintah Francis dengan baik.

Francis menggumamkan sesuatu yang tidak dapat terdengar oleh Dasom apalagi dilihat oleh matanya yang terpejam.

Dan dalam satu kedipan mata yang dipaksanya untuk dibuka , Dasom mendapati dirinya ditengah-tengah keramaian yang sangat asing baginya. Dengan gedung-gedung tinggi menjulang hampir menyentuh langit.

Sesaat Dasom terpana dengan sekitarnya, “Jadi ini , negri Utara yang ramai dibicarakan itu?” Tannya Dasom pada dirinya.

Dia menarik nafas sejenak.

“Hyaaa!! Aku di Utara!! Yeaaa!! Aku di Utara!!!” Serunya sembari melompat – lompat kesana kemari. Dia sangat senang rupanya , sebenarnya dia ingin terbang ke atas gedung-gedung itu untuk mengungkapkan rasa senangnya , tapi Francis bilang , dia tidak boleh mengeluarkan sayapnya sembarangan di Utara. Dia hanya boleh terbang dalam keadaan yang benar-benar terdesak.

Oleh karena itu dia hanya melompat-lompat kesana kemari sebagai pengungkapan rasa senangnya. Tidak hanya itu saja , dia bahkan menghampiri setiap orang yang lallu lalang disekitarnya sembari berkata.

“Kau penduduk Utara ya? Perkenalkan aku Dasom!! ”

Rupanya dia benar-benar senang. Sampai-sampai dia lupa apa tujuan dan maksud sebenarnya dia datang kemari.

***

TBC

Comment please …

2 thoughts on “TIME MACHINE | FANTASY FANFICTION | Part 1

  1. Penulisan kata katanya bagus ka
    terus karakter dasom di situ unyu unyu banget
    kalo udah selesai baca kayanya bakal seru tuh jalan ceritanya cepet di lanjutin ya ka ceritanya jangan lama lama
    satu lagi nama nama karakter di sini bagus bagus ^^

  2. Kyaaaaak!
    Keren banget min, di lanjutin ya. Please.. Ku tunggu dan jangan lama-lama.
    Ok ok!

    Member Boyfriend munculin dikit dong. Hehehe
    Semangat min.

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s