1STAR’s Fanfiction / 1Direction-Sistar / I Wish / Straight / Romance / Part 4

483815_518800651511168_1351142902_n_副本

Tittle : I Wish

Cast : Kim Dasom , Louis Tomlinson , Zayn Malik , Eleanor , Niall , etc

Pair : Lousom // Dayn // Allsom // Lounor ||

Genre : Romance , Hurts

Rate : Teen

Length : Chapter

Part : 4 of ?

Author : LidyaNatalia

Warning : OOC ,  Yang nggak suka sama pairingnya , jangan baca. Yang nggak suka sama Sistar , 1Direction juga nggak usah baca. Banyak Typo , Nggak terima bashingan , apalagi bashing pairnya. Pokoknya I WARN all of you to do not read this fanfiction if you didn’t like the cast or didn’t like me .

Disclaimer : 1Direction dan Sistar belong to God and their family ~ But this story originally belong to me.

A/N : Terinspirasi dari lagu I wish . Ingat loh cuma terinspirasi , jadi ini bukan songfict. Selain itu lagu More than this juga ikut andil dalam pemberian inspirasi. Juga lagu You Belong With Me dan Saying I Love You. Sekali-kali coba aja kalian denger lagu itu ~

Summary : Oh how I wish that was me …

Let’s check this out the story…

 

***

Suasana ricuh menghinggapi kelas 3 A2 , sebuah kelas yang terletak di lantai 3 , paling ujung sebelah kanan di sekolah Global International Senior High School tersebut.

Saat ini mereka tengah berembuk menentukan kelompok untuk tugas meresensi sebuah buku. Masing masing kelompok terdiri dari dua orang. Semua siswa dikelas tersebut sibuk mondar-mandir saling mencari teman sekelompok. Ah ternyata tidak semua , ada satu orang yang sama sekali tidak terlihat sibuk.

Seorang gadis berambut lurus sebahu , yang duduk dipojokkan dekat jendela. Perhatiannya sama sekali tak tersita akan kesibukkan temannya , sebaliknya dia justru merasa ingin memperhatikan sosok lelaki yang sangat dia kagumi , yang justru tengah asik dengan teman sebangkunya. Dia adalah Dasom. Dan laki-laki itu ? Tentu saja siapa lagi kalau bukan Louis.

Setibanya disekolah tadi pagi , Louis itu sempat menanyakan keadaannya sebelum akhirnya mereka memasuki ruang kelas bersama. Walau agak canggung.

“Hey!! Soyou itu sudah aku ajak untuk sekelompok denganku , kenapa kau masih memaksanya juga sih?”

“Apa , Soyou sudah mengiyakan ajakanmu itu?”

Mendengar sedikit keributan kecil , pandangan sang Dasom mengikuti arah pandangan Louis yang tengah memandang penasaran ke arah Soyou , Liam dan Harry.

Lagi-lagi duo itu. Batin Dasom.

Meski tidak terlalu mengenal dan memperhatikan teman-teman kelasnya , selain Louis , Dasom sangat hafal dengan suara dengan kebisingan yang sering mereka buat hanya karena seorang gadis. Dan itu membuat Dasom mengingat nama mereka Soyou , Liam dan Harry.

Terkadang hal sepele bisa jadi besar ditangan mereka. Dan itu sudah sangat sering terjadi. Entah apalagi kali ini.

“Aisssh…” Desis Harry

“Lebih baik sekarang kita tanya saja Soyou , dia mau sekelompok dengan siapa.” Usul Liam kemudian.

“Jadi kau mau sekelompok dengan siapa Soyou?” Tanya Harry pada Soyou sembari menggenggam pergelangan tangan Soyou. Namun secepat kilat ditepisnya genggaman tangan itu oleh Liam yang tidak suka.

“Jangan suka mencari kesempatan!” Seru Liam sarkastik.

Soyou memilin ujung kemejanya sembari menundukan kepalanya kebawah , terlihat sangat berfikir. “Ehm , aku …”

Liam dan Harry sontak mendekatkan kepala mereka ke arah Soyou agar dapat mendengar suara Soyou yang terlampau pelan.

“….aku…..”

“Ya?” Tanya Liam dan Harry berbarengan.

Soyou mengangkat kepalanya dan secara bergantian memandang Harry dan Liam , “Aku bingung.” Ucapnya kemudian dengan wajah super polos.

Dasom sedikit tersenyum , mentertawakan Liam dan Harry dengan mengangkat sudut bibirnya.

‘Apa mereka tak sadar bahwa 22 pasang mata tengah memperhatikan mereka?’ Tanya Dasom dalam hatinya sembari menatap heran kearah mereka bertiga.

“Tuhkan! Karena kau , Soyou jadi bingung. Sudahlah , Soyou itu kan teman sebangkuku , biar aku saja yang sekelompok dengannya. Kau cari yang lain saja.” Saran Liam membuat Harry geram.

“Enak saja! Harusnya kau yang membiarkan aku dan Soyou sekelompok. Aku yang tadi terlebih dahulu mengajaknya untuk sekelompok denganku!” Sahut Harry tak mau kalah.

Karena tak ingin mendengar keributan mereka yang sepertinya akan bertambah panjang , Niall , yang duduk dibangku sebelah Dasom , beranjak berdiri dari tempatnya dan menghampiri mereka.

“Sudah! Sudah! Jangan kalian teruskan perdebatan kalian!” Ucap Niall sembari memisahkan Liam dan Harry.

“Sebagai orang yang dipercaya oleh Mr. Hayes untuk kali ini , aku putuskan agar pembagian kelompok melalui undian kertas saja.” Belum sempat Niall menyelesaikan pembicaraannya , sudah banyak bisik-bisik yang terdengar tak menyetujui , bahkan beberapa diantara mereka ada yang secara terang-terangan mencibir.

“Mana bisa begitu , aku dan Bora sudah menjadi satu kelompok. Bahkan kami sudah menentukan judul buku yang akan kami resensi.” Protes Hyorin dan diangguki oleh Bora.

“Benar. Kami juga!” Sahut Nicholas yang akrab disapa Nicky sembari meletakkan tangannya mencoba merangkul bahu Bryan yang postur tubuhnya lebih tinggi.

“Kami juga!”

“Kami juga!!”

Dan terus terdengar sahutan lain yang membuat Niall sedikit geram. Kenapa teman-temannya jadi susah diatur begini kalau membicarakan mengenai masalah kelompok.

Louis juga tanpa terkecuali. Dia mendesah kecewa tatkala Niall mengusulkan undian kertas tersebut , karena itu berarti kesempatannya untuk dapat 1 kelompok dengan Eleanor menjadi sangat kecil.

“Terserah apa kata kalian. Yang penting undian kertas akan tetap diadakan. Dan nama-nama yang akan keluar dan menjadi satu kelompok nanti akan aku serahkan pada Mr. Hayes , tentu kalian tahu sendiri apa yang akan terjadi kalau data yang kuserahkan tidak sesuai dengan laporan tugas kalian nanti.” Ucap Niall dengan sedikit kalimat tersirat ancaman diakhirnya.

Dan setelah itu mau tak mau akhirnya mereka menuruti usulan Niall , dan itupun terpaksa , karena ancaman yang biasanya tak pernah main-main dari seorang bernama Niall tersebut.

Setelah membuat 25 gulungan kertas dan menuliskan setiap nama yang akan menjadi satu kelompok di white board , Niall kembali menuliskannya disebuah kertas. Ternyata Niall memang benar-benar akan menyerahkan data nama kelompok berdasarkan undian kertas tersebut kepada Mr. Hayes.

Sebenarnya tidak semua kecewa dengan hasil yang didapat dari undian itu , karena ternyata ada yang tetap dengan pasangan semula , seperti Nicky dan Bryan serta Bora dan Hyorin , kedua kelompok tersebut tetap pada formasi semula. Sedang yang lain secara random berpasangan dengan orang lain , termasuk Dasom , Louis , Eleanor dan Niall sendiri.

Sebenarnya kalau saja keributan itu tidak terjadi , Niall sudah pasti akan mengajak Dasom yang sama sekali tidak berminat dengan tugas ini untuk berkelompok dengannya. Namun demi menjaga wibawa dan profesionalitasnya , Niall jadi harus berpisah dari Dasom dan berkelompok dengan Eleanor.

Sedang 3 orang tadi?

Ternyata mereka justru menjadi satu kelompok , dari 25 orang akan tercipta 12 kelompok dengan 1 kelompok terdiri dari 3 orang , sedangkan 11 kelompok lainnya terdiri dari 2 orang. Kalau saja dari awal mereka mau disatukan , pasti semuanya tidak akan seperti ini.

Selain itu , seperti kejatuhan bulan dari angkasa, kali ini Dasom berpasangan dengan Louis dalam mengerjakan tugas resensi kali ini.

Bisa dibilang kali ini , Dasom sedikit berterima kasih kepada duo rusuh dan satu gadis polos yang menyebabkan Niall melakukan undian kertas dan membuat dirinya bisa berkelompok dengan Louis.

Dasom tentu senang bukan kepalang , ini pertama kalinya dalam 3 tahun bisa berkelompok dengan Louis , sebelumnya dia terbiasa dengan Niall. Dan kali ini dengan Louis! Louis , orang yang dikaguminya , yang kemarin menjenguknya , yah meski sempat menuduhnya macam-macam.

Entah mengapa Dasom merasa kejadian kemarin seperti membukakan jalan sedikit demi sedikit bagi dirinya untuk dapat berdekatan dengan Louis. Entah kebetulan atau bukan , yang pasti Dasom sangat senang kali ini.

***

Dasom melangkah ceria , meski tak ada yang berubah dari caranya berjalan tapi seutas senyum diraut wajahnya mengatakan hal yang berbeda.  Dia memang langsung pergi keluar kelas ketika bel istirahat berbunyi , karena tidak ingin mendengar keributan yang terjadi dikelasnya.

Sedikit ingin menenangkan diri dan menyimpan rasa senangnya ditempat tenang.  Dan tempat yang tersebut adalah taman belakang sekolah yang jarang didatangi oleh murid-murid yang lain. Karena letaknya yang memang dibelakang sangat tidak menarik bagi kebanyakan kecuali bagi yang berniat bolos.

Diambilnya sepasang headset dari balik saku seragamnya. Dipasangkannya benda tersebut kelubang pendengarannya, dia putar lagu favoritnya yang menurut dia sangat pas dengan keadaan dan suasana hatinya selama ini.

I wish.

Kali ini dia bisa mendengarkan lagu tersebut sembari tersenyum , bahkan sesekali kepalanya secara tak sadar bergerak mengikuti irama musik dari lagu tersebut.

***

“Bagaimana ini , kita jadi tidak sekelompok? ” Tanya Louis pada Elenaor yang tengah memberi pulasan warna pink cerah pada kuku tangannya.

Saat ini Louis dan Eleanor tengah berada dikantin , menghabiskan sisa-sisa waktu istirahat sekolah seperti biasa.

Eleanor menoleh pada Louis dengan tampang serius , dan sedetik kemudian tampangnya berubah. Dia tersenyum melihat gurat risau diwajah Louis. Setelah menggeleng-gelengkan kepala melihat Louis , dia kembali fokus pada kuku jemarinya.

“Kau sama sekali tidak keberatan kita tidak satu kelompok , El?” Tanya Louis lagi.

Eleanor menggeleng. “Aku sekelompok dengan Niall. Dan setahuku dia cukup pintar dalam mata pelajaran ini. Kenapa aku harus keberatan?” Eleanor mencoba memberi penjelasan.

Louis memutar kedua bola matanya. Dia sungguh tidak habis pikir Mengapa gadis ini sama sekali tidak peka kepadanya. Mungkin gadis itu memang tidak keberatan bila mereka berdua tidak sekelompok , tapi tidak dengannya. Dia sungguh sungguh sangat keberatan akan keputusan Niall. Sungguh untuk kali pertamanya dia merutuki keputusan wakilnya di Osis tersebut.

“Yeah. Kau kan belum terlalu akrab dengan Niall.”

“Siapa bilang?” Eleanor menghentikan aktivitasnya dan kembali menoleh ke arah Louis. “Ini adalah kali ketiga aku berkelompok dengannya.” Lanjutnya lagi sebelum Louis sempat menjawab pertanyaannya yang pertama tadi.

“Lagipula kau kan juga tidak sendiri. Ada dasom bersamamu.” Sahut Eleanor lagi.

“Aku tahu. Tapi aku tidak begitu kenal dekat dengannya. Lagipula kau tahu kan , kemarin aku sempat ada masalah salah paham padanya”

Eleanor mencondongkan tubuhnya ke arah Louis, “ Lalu?”

“Ya , menurutku tugas kali ini tidak akan berjalan baik , kalau kau tidak merasa nyaman dengan teman kelompokmu.” Jawab Louis.

Eleanor kembali menarik tubuhnya. “Jangan beralasan. Kau itu ketua osis. Dan kita sudah hampir 3 tahun sekelas , ah salah bukan kita tapi kau dan dia , sedangkan denganku , baru 2 tahun belakangan.  Jadi mana mungkin kau tidak kenal dengannya. Lagipula nyaman atau tidak nyaman , selama dalam dirimu ada rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasmu , pasti semuanya selesai dan akan berjalan dengan baik.” Sergah Eleanor.

“Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak mengenalnya , aku bilang aku tidak begitu kenal dekat dengannya…” Ralat Louis sembari menyandarkan punggungnya pada kursi yang ditempatinya. “Dan yah meskipun aku hampir 3 tahun sekelas dengannya , aku benar-benar tidak begitu akrab dan hanya sekedar mengenal.  Kau tentu tahu bagaimana dia terlalu pendiam dan selalu memisahkan diri dari teman-teman sekelas.” Papar Louis melanjutkan.

Eleanor diam tak membantah penjelasan Louis. Yang dikatakan Louis memang benar , terkadang Dasom terlalu pendiam dan selalu sendiri. Dia terlihat sangat dingin dan jutek dari luar. Bahkan dia saja yang sesama wanita , sangat susah untuk menjalin hubungan yang erat dengannya. Namun dibalik sifat dan sikapnya itu , Eleanor percaya bahwa Dasom adalah gadis manis yang sangat baik hati. Bahkan Dasom tidak marah ketika dia menumpahkan minuman di pakaian olahraganya. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sangat senang mengamati Dasom. Dia merasa Dasom pun sering melihat ke arah dirinya dan Louis , ya dia memang merasa bahwa Dasom seperti menaruh hati pada teman dekatnya itu.  Namun ketika dipikirkan lagi , entah mengapa dia sangat tidak yakin bahwa orang seanggun Dasom akan menyukai orang yang suka bertingkah konyol dan kekanak-kanakkan dihadapannya ini.

“Tapi hal tersebut tidak dapat kau jadikan alasan untuk menolak sekelompok dengannya.” Ujar Eleanor pada akhirnya setelah terdiam beberapa saat.

“Well , apakah kau benar-benar tidak keberatan tidak sekelompok denganku kali ini?” Tanya Louis sekali lagi.

“Jangan kekananakan Lou!” Seru Eleanor sembari berdiri dan meniupi kuku-kukunya. “Dan aku harap kau bisa bertindak sedikit lebih dewasa dengan tidak menunjukan wajah engganmu yang seperti itu pada Dasom nanti.” Ucap Eleanor sebelum akhirnya pergi meninggalkan Louis kembali ke kelas.

 

***

 

tbc

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s