Sistar’s Fanfiction || The Dance Of Heart ( I Love You)

cats_e589afe69cac

Tittle : The Dance Of Heart ( I Love You)

Pair : ThunRin (Thunder ‘MBLAQ’ – Hyorin ‘Sistar’)

Cast : Thunder , Hyorin , Ji Hyun (So You) , Dasom , Bora , etc.

Length : Oneshoot

Author : LidyaNatalia

Rate : T for Teen

Genre : Fluff , Romance , Straight

Summary : When Thunder and Hyorin didn’t talk each other , they instead have one together project. How are they overcome that problem? Are they project going to be success?

***

 

Hyorin memandang gemas ke arah layar 14 inchi yang berada tepat dihadapannya. Dia sudah berulang kali menggeram sebal , tatkala tiap kali dia klik result link dalam mesin pencarian Naver nama ‘Thunder MBLAQ’ yang muncul justru berita tentang Thunder dengan IU. Yah , tentu kalian tahu bagaimana hubungan Thunder dan IU , bahkan sempat tersebar gossip bahwa mereka pernah berpacaran sebelumnya. Dan itu membuat Hyorin , kekasih Thunder yang baru 2 bulan ini menjalani hubungan khusus , menjadi cemburu.

 

Bukan hanya cemburu , tapi juga sebal , kesal dan segalanya yang berakhiran ‘al’, sial mungkin termasuk.

 

Memang Thunder pernah menjelaskan bahwa IU adalah sahabat dekatnya semenjak dulu pada Hyorin sebelumnya , “Tapi apa harus sedekat itu , hingga tiap saat muncul dipemberitaan gossip?” Gerutu Hyorin dalam hatinya sambil menggigit boneka dolphin pemberian Thunder sebulan yang lalu.

 

Bukannya Hyorin tak tahu bahwa saat-saat seperti ini akan terjadi menghantui perasaannya , ini memang resiko yang harus ditanggungnya. Selalu merasa cemburu , terlebih hubungan mereka masih privat dan belum diketahui public , oleh karena itu berita tentang kedekatan Thunder dengan banyak wanita pun dianggap wajar olehnya.

 

“Tapi kenapa selalu Ji Eun itu sih , memang tidak ada wanita lain? Huh..”  Gerutu Hyorin lagi masih dalam hati. Seperti yang kalian juga ketahui bukan , sudah banyak berita-berita disertai selca-selca yang beredar diberbagai situs pemberitaan , sebagian memang mengacuhkan , karena baik IU maupun Thunder menyangkal bahwa mereka punya hubungan khusus yang lebih dari sekedar teman , namun tidak sedikit yang justru mendukung hubungan mereka bahkan menjadi shipper mereka.

 

Baru kemarin Hyorin melihat sebuah blog yang isinya adalah semua tentang Thunder-IU couple. Dan demi STAR1 yang menyenandungkan Loving You setiap saat , isi dari blog itu sangat menganggu pikiran Hyorin.

 

“Brakk!!!”

 

Ditutupnya laptop berlogo apel -yang digigit- miliknya dengan kasar. Dia tidak perduli kalau gadget tersebut bisa rusak , meski baru dibelinya seminggu yang lalu. Hasil pencarian yang ditunjukkan Naver tersebut membuatnya tidak ingin melanjutkan fangirling , ah mungkin buat Hyorin lebih cocok apabila disebut girlfriendling.

 

Hyorin tertunduk dalam diam. Dia begitu mencintai Thunder sampai-sampai dia tidak mau melakukan tindakan gegabah yang dapat membuat Thunder memutuskan hubungan mereka , seperti marah-marah karena cemburu ataupun merajuk karena tidak bisa bertemu dan gagal kencan. Sekesal apapun sepertinya.

 

Kadang dia merasa dibodohi oleh perasaannya sendiri , karena berfikiran picik bahwa Thunder akan langsung meninggalkannya apabila dia berbuat kesalahan kecil.

 

Huh. Hyorin menghela nafas dan kemudian beralih memandang laptopnya dan mengelus puncaknya dengan penuh penyesalan , “Mianhe , aku melampiaskan kekesalanku padamu , yaa…”

 

“UNN-ie?”

 

Hyorin menoleh ke arah pintu , dan mendapati Dasom memandanginya heran. Hyorin melemparkan senyumnya pada Dasom.

 

“Kau gila berbicara dengan benda mati seperti itu?” Tanya Dasom kemudian sembari tetap berdiri diambang pintu.

 

“Siapa yang berbicara dengan benda mati ? aku hanya sedang latihan berbicara saja nanti apabila aku memenangkan IS2 lagi.” Jawab Hyorin.

 

Dasom mengerutkan keningnya mendengar alasan Hyorin yang menurutnya sungguh tinggi kadar narsisme yang terkandung didalamnya. “Ah , terserahlah. Itu ada Thunder Oppa didepan. Dia menunggumu.”

 

Hyorin membelalakan matanya. “Thunder disini?” Tanyanya sekali lagi pada Dasom. Dasom mengangguk.

 

“Katanya kalian sudah janjian. Apa kau lupa?” Tanya Dasom lagi.

 

Hyorin menepuk keningnya dan kemudian langsung melemparkan senyum pada Dasom.

 

Dasom menggelengkan kepalanya . “Kebiasaan. Cepatlah , jangan buat dia terlalu lama menunggumu , unnie.” Ucap Dasom sebelum akhirnya meninggalkan Hyorin dan kembali kekamarnya.

 

Selepas kepergian Dasom , Hyorin langsung berjingkat lompat dari ranjangnya dan langsung berdiri didepan cermin , merapikan rambut dan bajunya , dan sedikit memoleskan bedak serta lipgloss dibibirnya.

 

Tak lebih dari 5 menit , Hyorin langsung keluar dan menemui Thunder. Didapatinya Thunder sedang melihat sebuah album foto besar yang berada dimeja kecil dekat tempat TV.

 

Hyorin langsung duduk disamping Thunder dan ikut melihat-lihat foto dirinya dan member sistar lainnya didalam album tersebut.

 

“Ah , Hyorin. Sedang apa kau? Kenapa lama sekali keluarnya?” Tanya Thunder sembari menutup album tersebut.

 

“Tidak sedang apa-apa. Ehm , kau baru pulang dari latihan?” Tanya Hyorin pada Thunder. Thunder menarik kaki Hyorin untuk diselonjorkan dan duduk diatas paha Hyorin yang terlapis celana ¾ berbahan tersebut.

 

“Iya.” Jawab Thunder. Hyorin mengelus kening Thunder , dia dapat merasakan bagaimana lelahnya latihan dance selama 8jam lebih. Belum lagi kalau misalnya ada persiapan untuk comeback.

 

“Dan langsung kesini?” Tanya Hyorin lagi. Thunder mengangguk sebagai jawaban.

 

“Tidurlah kalau memang kau lelah..” Kata Hyorin sembari terus mengusap rambut Thunder yang halus serta sesekali wajah baby nya. Dan perlahan Thunder mencoba memejamkan matanya. Dengan tangan terlipat didada.

 

Mengunjungi dorm Sistar setelah pulang latihan sudah menjadi kebiasan Thunder semenjak 4 bulan yang lalu. Dalam padatnya jadwal kegiatan grupnya , dia menyempatkan paling tidak sejam setiap harinya untuk mengunjungi Hyorin. Meskipun apabila bertemu mereka hanya akan seperti tadi. Yang penting bagi Thunder adalah dapat melihat wajah Hyorin dan berada di dekatnya.

 

Dan seperti biasanya kurang dari beberapa menit dengkuran halus yang teratur sudah dapat tertangkap oleh telinga Hyorin yang berasal dari suara Thunder.

 

Hyorin tersenyum memandangi wajah innocent kekasihnya , sebenarnya sampai saat ini dia masih tidak percaya dia telah menjadi kekasih Thunder , masih terasa seperti mimpi tatkala dia mengingat saat-saat Thunder memintannya untuk menjadi pasangannya. Dengan wajah malu-malu Thunder menyatakan perasaannya pada waktu itu , membuat Hyorin sesaat terdiam tak percaya dengan yang didengarnya. Orang yang dia sukai menyatakan perasaannya pada dirinya.

 

Bukankah itu seperti sebuah kebahagian yang sangat berarti?

 

Hyorin berhenti mengusap rambut Thunder , dengan penuh hasrat dia mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Thunder untuk memperjelas penglihatannya akan wajah lelah sang kekasih. Dapat dirasakannya deru nafas Thunder yang mengenai permukaan kulit wajahnya.

 

Hati Hyorin terkikik merasakan kegelian. Namun posisinya masih bertahan. Bahkan hidung mancung mereka sampai bertabrakan saking terlalu dekatnya wajah Hyorin dengan wajah Thunder. Sesaat , seperti waktu terhenti. Hyorin hanya bisa terpaku menatap keindahan wajah sang kekasih dihadapannya. Terpaku pada satu bagian.

 

Mereka baru 2 bulan menjalin hubungan , dan selama ini Thunder tidak pernah mencium dirinya kecuali dikening atau dipipi. Hyorin sebenarnya senang bila Thunder sangat menghormati dan menjaga dirinya , namun terkadang terbesit praduga negatif dibalik sikap Thunder itu. Pikiran negatif mengenai Thunder yang tidak serius dengannya , atau mungkin memang tidak pernah mencintainya.

 

Tapi bukannya Thunder duluan yang menyatakan perasaannya pada Hyorin? Ya hal itulah yang dapat membuat Hyorin membuang jauh-jauh semua pikiran negatifnya.

 

“Drrrttttdrrrtttt…..”

 

Hyorin tersentak ketika getaran sebuah benda mengejutkannya dari lamunannya akan Thunder. Dan getaran itu berasal dari saku depan jeans Thunder , dengan susah payah Hyorin mencondongkan tubuhnya untuk dapat menggapai saku tersebut dan mengambil benda itu , bahkan sampai dia tidak sadar bahwa perut ratanya sedikit menekan pelipis Thunder , meski Thunder tak terusik sedikitpun.

 

Hap!

 

Hyorin berhasil mengambil benda kecil yang disebut Handphone tersebut. Dilihatnya nama ‘Sweet Little Rabbit’memanggil. Membuat Hyorin mengerutkan keningnya. Siapa orang yang membuat Thunder sampai menamakan kontak nomor tersebut Sweet Little Rabbit.

 

Hyorin memandang ragu ke arah Thunder , apa dia harus mengangkatnya atau membiarkan panggilan tersebut berhenti sendiri.

 

“Drrrrtdrrrrrrrtttt….”

 

Handphone tersebut terus saja bergetar ditangannya. Diputuskannya oleh Hyorin untuk mengangkat panggilan tersebut.

 

“Cheondong-ah!! Kenapa lama sekali kau angkat. Kau sedang ada dimana? Bisakah kau datang ketempatku sekarang tidak? Ah bukan bisakah tapi kau harus bisa datang ketempatku sekarang! TuuuutTuuuutTuuuut.”

 

Hyorin kembali tersentak  ketika mendengar sambungan panggilan tersebut putus. Siapa wanita ini? Memanggil Thunder dengan nama kecilnya , dan begitu seenaknya memerintahkan Thunder untuk datang ketempatnya.

 

“Ngghh~” Thunder sedikit melenguh ketika merasakan posisi kepalanya tidak senyaman tadi. Dengan perlahan dia buka matanya. Dan mendapati Hyorin tengah memandang lurus kedepan dengan tatapan berfikir sembari memegang handphone hitam miliknya.

 

“ Ah. Kau sudah bangun?” Tanya Hyorin ketika Thunder mengangkat kepalannya dari paha Hyorin dan kembali duduk seperti semula.

 

“Ada apa Rin-ah? Kenapa keningmu bertaut seperti itu?” Tanya Thunder.

 

Hyorin langsung buru-buru merubah air mukanya menjadi tersenyum , “Ini tadi ada yang menelponmu.” Ucap Hyorin memberi tahu sembari menyerahkan handphone tersebut kepada Thunder.

 

Thunder menerima handphone tersebut dan langsung memeriksa panggilan masuk. Garis wajahnya langsung berubah begitu melihat nama kontak yang memanggilnya. Dia menggaruk bagian belakang rambutnya dan sejurus kemudian memandang Hyorin.

 

“Jangan salah paham Rin-ah. Orang tadi adalah Jieun ah maksudku IU.” Jelas Thunder mengetahui perubahan wajah Hyorin tadi karena nama kontaknya itu.

 

“Ah arraseo.” Sahut Hyorin. “Dia bilang kau harus ketempatnya sekarang.” Ucap Hyorin memberitahu lagi.

 

Thunder sedikit kikuk. Dia lupa kalau hari ini dia ada janji dengan teman-temannya. Namun dia sudah terlanjur berada disini bersama Hyorin , apa dia harus pergi meninggalkan Hyorin? Bukankah itu akan membuat Hyorin salah paham.

 

“Sebenarnya aku ada janji dengan teman-temanku , Rin-ah…” Ucap Thunder jujur.

 

“Teman-teman?”

 

Thunder mengangguk.

 

Hyorin kembali tersenyum. Thunder tahu kalau itu adalah senyum yang dipaksakan.

 

“Kalau begitu pergilah..” Sahut Hyorin.

 

“Tapi….”

 

Hyorin bangkit dari duduknya , “Jangan biarkan Sweet Little Rabbitmu menunggu.” Ucapnya lagi sebelum akhirnya masuk kedalam kamar dan meninggalkan Thunder diruang tamu.

 

Soyou yang kebetulan baru dari dapur dan hendak kembali ke kamar secara tidak sengaja melihat Hyorin yang masuk kekamar dengan wajah masam.

 

Diputuskannya oleh Soyou untuk menghampiri Thunder , Dan Soyou menatap Thunder dengan pandangan bertanya ADA APA? , namun hanya ditanggapi Thunder dengan menggeleng dan tersenyum.

 

“Aku harus pergi. Aku pamit , Ji Hyun-ah. Sampaikan salamku pada anak sistar lainnya ya.”Pamit Thunder.

 

Soyou mengangguk , “Ya , nanti akan kusampaikan pada mereka. Hati-hati Oppa.”

 

Thunder balas tersenyum pada Soyou sebelum akhirnya menghilang di ambang pintu asrama Sistar.

 

***

 

“Siapa Sweet Little Rabbit itu?” Tanya Dasom ketika Soyou menceritakan apa yang baru saja didengarnya. Soyou mengangkat bahu.

 

“Entahlah tadi hanya itu yang aku dengar dari mulut Hyorin unnie. Menurutmu siapa , Som-ah?” Tanya Soyou balik.

 

Dasom juga mengangkat bahunya. Tak punya gagasan mengenai orang tersebut.

 

“Hyoriiin!!Lho dimana Hyorin?” Tanya Bora setelah membuka pintu kamar SoSom dan tak mendapati Hyorin didalamnya.

 

“Memangnya tidak ada dikamar?” Tanya Soyou pada Bora. Bora menggeleng.

 

“Terakhir kali aku lihat tadi , Hyorin unnie masuk kedalam kamarnya , baru beberapa menit yang lalu.” Jelas Soyou.

 

“Ya , tapi sayangnya sekarang kamar kami kosong.” Ucap Bora.

 

“Mungkin dikamar mandi?” Terka Dasom. Bora menggeleng lagi.

 

“Sudah kuperiksa , dia tidak ada dimana-mana , makanya aku kemari untuk mencarinya. Kemana ya dia kira-kira?”Tanya Bora pada kedua magnae Sistar tersebut.

 

Dasom dan Soyou mengangkat bahu mereka masing-masing tanda tidak tahu.

 

Bora memandang keluar , sembari masih tetap berdiri diambang pintu kamar Dasom dan Soyou. “Padahal aku mau memberitahukan kabar bagus. Kemana sih Hyorin …”

 

“Kabar bagus?” Tanya SoSom berbarengan.

 

Bora menoleh kearah SoSom sembari tersenyum. “Di Hanoi nanti akan ada penampilan khususnya bersama Thunder!” Ucap Bora antusias.

 

“Berduet?” Tanya Dasom. Bora mengangguk.

 

“Menyanyikan lagu apa?” Tanya Soyou kemudian.

 

“Bukan bernyanyi , tapi Special Dance Stage dari ThunRin couple..” Jawab Bora lagi. “Yasudah kalau begitu aku cari Hyorin keluar dulu ya..” Pamit Bora pada SoSom.

 

Selepas Bora pergi Dasom dan Soyou saling berpandangan , “Kurasa kabar tersebut tidak terlalu bagus di kondisi saat ini..” ucap Dasom. Dan diamini oleh Soyou.

 

***

 

Hyorin melangkah dengan lesu ke studio KBS , hari ini adalah hari dimana dia harus rekaman IS2 , dikarenakan moodnya yang buruk kemarin. Dia jadi sedikit tidak bersemangat hari ini. Bukan hanya tidak bersemangat , memikirkan alasan kuat untuk membuat semangatnya muncul saja tidak sempat , karena memang tidak ada menurutnya.

 

Dengan memakai kacamata hitam dan wajah yang terus ditundukkan kebawah , dia melangkah memasuki gedung KBS. Namun dikarenakan jalannya yang tidak memandang kedepan , mengakibatkannya sempat bertubrukan dipintu masuk gedung tersebut.

 

“Ah , Maaf!” Seru Hyorin sembari membungkukkan sedikit badannya. Dan tanpa melihat kearah orang yang ditabraknya , Hyorin kembali hendak mengayunkan langkahnya untuk masuk.

 

“Hyorin-ah…” Sebuah suara disertai dengan sebuah tangan yang menahan lengannya cukup menjadi alasan bagi Hyorin untuk menghentikkan langkahnya.

 

Hyorin membalikkan tubuhnya kebelakang. Dan didapati olehnya Thunder sedang berada dihadapannya.

 

“Sedang apa kau disini?” Tanya Hyorin sembari melepaskan pegangan tangan Thunder dilengannya. “Ini tempat umum, kau tahu itu kan?”

 

Thunder mengangguk.

 

“Semalam aku mencoba menghubungimu , tapi nomormu tidak aktif.” Ucap Thunder to the point.

 

“Ah itu , mungkin kau menghubungiku ketika Handphoneku sedang dicharger.” Jawab Hyorin.

 

“Benarkah?” Tanya Thunder. Hyorin mengangguk.

 

“Kau sedang apa disini? Netizen bisa mencurigai keberadaanmu disini.” Ujar Hyorin khawatir.

 

“Tenang saja. Aku punya alasan yang cukup kuat untuk datang kesini.” Ucap Thunder sembari tersenyum tenang.

 

Hyorin mengangkat alisnya. “Aku menemani Jio Hyung kali ini.” Sahut Thunder kemudian.

 

Hyorin mengangguk-anggukkan kepalanya , ‘Jadi memang tak ada niatnya sama sekali menemuiku?’Gumam Hyorin dalam hati sembari menggigit bibir bawahnya.

 

“Chup~!”

 

Hyorin langsung mengangkat wajahnya dan memegang pipi kanannya yang baru saja dikecup oleh Thunder.

 

“Berikan penampilan yang terbaik untukku.” Bisik Thunder ditelinga Hyorin sebelum akhirnya pergi mendahului Hyorin memasuki gedung KBS tersebut.

 

Seperti langsung tersadar , Hyorin langsung masuk menyusul Thunder kedalam sembari terus memegangi pipinya yang baru saja dikecup oleh Thunder.

 

 

Dia rasa kali ini dia baru saja menemukan alasannya untuk bersemangat hari ini.

 

***

 

Hyorin melangkah ceria secara perlahan sembari mengambil barang-barang yang diperlukannya di etalase supermarket besar tersebut. Dikarenakan ketiga temannya sedang berhalangan untuk menemaninya , alhasil dia memutuskan untuk berbelanja seorang diri.

 

Sebenarnya tadi dia sudah mencoba meminta Thunder untuk menemaninya , tetapi Thunder bilang dia sedang berada diluar dan mungkin baru bisa mengantar Hyorin keesokan harinya. Sementara barang yang ingin dibeli oleh Hyorin dibutuhkannya hari ini juga.

 

Untung saja ini malam dan supermarket tersebut tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Setidaknya dia bisa sedikit lebih santai tanpa takut para STAR1 tiba-tiba datang mengerebunginya.

 

Hyorin kembali melihat kedalam trolinya. “Pembersih sudah , body lotion sudah , makanan ringan untuk mereka sudah , apalagi ya yang kurang?” Tanya Hyorin pada dirinya sendiri.

 

“Sepertinya sudah lengkap.” Lanjutnya lagi.

 

“Besok Thunder bisa ketempatku , apa sebaiknya aku memasakan makanan untuknya ya?” Tanya Hyorin lagi. Hyorin kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya , mungkin sebuah masakan spesial , aku kan tidak pernah memasakan apapun untuknya.” Ucapnya lagi sebelum akhirnya menggiring troli tersebut kebagian bahan-bahan makanan.

 

Sesampainya disana Hyorin malah bingung melihat begitu banyak bahan-bahan makanan yang tersedia , “Apa yang harus aku beli?” Gumam Hyorin sembari menggigit jari telunjuk kanannya. “Mana aku tidak tahu makanan kesukaannya. Aigo.. pacar macam apa aku  ini…” Rutuk Hyorin lagi.

 

Hyorin lalu memutuskan ketempat daging-daging segar , “Semua orang menyukai daging bukan…?!” Ucapnya ceria sembari mengambil satu box daging sapi yang sudah digiling.

 

Dia kemudian berjalan kebagian bumbu dapur dan mengambil beberapa bahan dasar bumbu yang diperlukan seperti bawang , bubuk cabai , dll.

 

Setelah selesai dengan bumbu dasar , Hyorin kembali menggiring trolinya menuju tempat sayuran segar. Namun tepat didepan bagian sayur selada , Hyorin menghentikan langkahnya serta trolinya.

 

Dihadapannya , seseorang yang sangat dia kenal sedang berbelanja sama seperti dirinya , namun dia tidak sendiri , melainkan bersama orang lain yang selama ini dikabarkan dekat. Ya tentu saja Thunder dan IU , siapa lagi?

 

Thunder tengah memilih-milih selada segar bersama IU , bukan hanya sekedar memilah , tapi sesekali mereka bercanda dengan meletakan sayur segar tersebut diwajah lawan bicaranya.

 

Hyorin memalingkan wajahnya kesamping , melihat pemandangan tersebut. Dia tidak pernah pergi berbelanja dengan Thunder seperti itu sebelumnya , dan bukankah Thunder bilang sedang ada keperluan diluar? Ah jadi ini keperluan penting yang tidak bisa ditinggalkannya , walau hanya sekedar untuk menemani Hyorin berbelanja.

 

Tanpa sengaja , mata Thunder menangkap sosok Hyorin yang tengah memalingkan wajahnya , “Gawat! Pasti dia salah paham lagi.” Seru Thunder dalam hati. Thunder pun memutuskan untuk segera menghampiri Hyorin , namun langkahnya tertahan oleh IU yang menariknya untuk pergi ketempat lain , dan ketika Thunder berbalik lagi untuk melihat Hyorin , bayangan Hyorin sudah hilang entah kemana.

 

“Aku mohon jangan salah paham , Hyorin-ah…” Desah Thunder penuh harap dalam hatinya.

 

***

 

“Cklek!”

 

Begitu pintu terbuka Hyorin langsung meletakkan barang belanjaannya diatas meja makan.

 

Dan mendengar suara pintu terbuka Dasom memutuskan keluar dan mendapati Hyorin yang baru pulang dari kegiatan belanjanya. “Cepat sekali , Unnie? Barang yang kau butuhkan sudah kau dapatkan semua?” Tanya Dasom sembari melihat isi kantong plastik besar tersebut.

 

Hyorin duduk disalah satu bangku meja makan , sebelum akhirnya memangguk menjawab pertanyaan Dasom dan langsung menenggelamkan wajahnya dibalik kedua tangannya yang terlipat diatas meja makan. Dasom yang melihat ada yang tidak beres dengan Hyorin , memutuskan untuk ikut duduk didepan Hyorin

 

“Kau kenapa , Hyorin Unnie? Apa ada masalah?” Tanya Dasom sembari memegang lengan Hyorin.

 

Hyorin menggeleng.

 

“Ada apa ini? Wah kau sudah pulang Hyorin-ah…” Seru Bora sembari melihat isi plastik belanjaan Hyorin seperti Dasom tadi. Mendapati Hyorin tidak menjawab pertanyaannya , Bora melirik ke arah Dasom dengan pandangan bertanya.

 

Namun Dasom hanya menggeleng sebagai jawaban. Bora memutuskan untuk mengambil tempat disamping Hyorin dan merangkul kedua bahu Hyorin. “Ada apa , Hyorin-ah?” Tanya Bora kemudian.

 

Hyorin akhirnya memutuskan mengangkat wajahnya , dan betapa terkejutnya Bora serta Dasom ketika melihat deraian air mata yang mengalir dari pelupuk mata Hyorin.

 

Dengan terpaksa , Hyorin menceritakan semuanya , bukan hanya kejadian hari ini yang dilihatnya , tetapi juga yang kemarin-kemarin dirasakan olehnya , seperti perasaan ragu , cemburu serta rasa takutnnya kehilangan Thunder.

 

Bora menepuk-nepuk punggung Hyorin mencoba menenangkannya. “Kau harus mengambil sikap , Hyorin-ah.” Ucap Bora. “Kalau kau terus diam saja seperti itu , dia akan tambah berbuat seenaknya.” Lanjut Bora.

 

“Tapi aku takut….”

 

“Kalau memang dia nanti meninggalkanmu , itu berarti kalian memang tidak berjodoh , Unnie-ya..” Timpal Dasom.

 

Bora tersenyum ke arah Dasom. “Magnae kita saja sudah dewasa..” Ucap Bora membuat Dasom senang.

 

“Jadi aku harus bagaimana?” Tanya Hyorin pada akhirnya.

 

“Acuhkan saja dia , sampai dia menyadari kesalahannya.” Usul Bora.

 

“Apa bisa? Bukankah Unnie bilang Hyorin unnie akan berduet dengan Thunder Oppa di Hanoi nanti?” Tanya Dasom.

 

Hyorin membelalakkan matanya , “Duet? Duet apa?” Tanyanya bingung.

 

“Ah iya aku lupa memberitahumu , kalau nanti di Hanoi PD-nim meminta penampilan khusus dari kau dan Thunder , Special Dance Stage.” Jelas Bora.

 

“Hanya berdua?” Tanya Hyorin. Bora mengangguk.

 

“Biar begitu kau harus tetap mengacuhkannya Hyorin-ah , kau latihan saja dengannya secara wajar. Tapi jangan lebih , diluar latihan kau harus acuhkan dia.” Ucap Bora.

 

“Apa cara itu akan berhasil membuatnya sadar?” Tanya Hyorin.

 

Bora mengangguk cepat. “Benarkan Dasom?” Tanya Bora kemudian meminta persetujuan dari magnae mereka. Dan diakhiri oleh anggukkan cepat pula dari Dasom.

 

***

 

Menuruti saran dari Bora dan Dasom , dihari latihan pertamanya dengan Thunder , Hyorin langsung mengacuhkan Thunder. Tanpa berbicara ataupun mencoba mencela , Hyorin hanya diam mendengarkan arahan dari koreografer , ketika mempraktekkannya dengan Thunder pun dia tidak banyak bicara.

 

Awalnya Thunder pikir Hyorin mengacuhkannya hanya karena ingin agar kerahasian hubungan mereka tetap terjaga dimata orang lain. Namun sepertinya anggapannya salah. Sehabis latihan, tanpa mendiskusikan koreo mereka , Hyorin langsung memutuskan pergi dari ruang latihan.

 

Dan ketika Hyorin sedang menunggu jemputan manager Sistar , dia langsung menolak tawaran Thunder untuk mengantarnya kembali ke dorm Sistar.

 

Thunder tahu Hyorin pasti marah padanya. Namun , bagaimana dia bisa menjelaskannya pada Hyorin , apabila memandang wajah Thunder saja Hyorin enggan.

 

***

 

Hari ini adalah hari H dari latihan Hyorin dan Thunder untuk special dance performance pada acara musik di Hanoi nanti.  Dan itu berarti sudah 5 hari Hyorin menjalankan aksinya tidak memperdulikan Thunder.

 

Berat memang harus melakukan itu , tetapi ternyata dia berhasil juga melakukannya.

 

Kini mereka berdua tengah berdiri dibelakang panggung , untuk menunggu performance dari grup lain selesai. Karena setelah ini adalah penampilan mereka. Hyorin terus mengosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghilang rasa gugupnya , sementara Thunder dilihatnya sesekali memegangi perutnya.

 

Dan beruntung. Tanpa harus merasakan perasaan gugup terlalu lama , lampu sorot redup seiring dengan berakhirnya penampilan grup sebelumnya. Buru-buru salah satu kru acara tersebut membawa sebuah kursi panjang berwarna putih dan meletakkannya diatas panggung.

 

Lampu masih redup ketika Hyorin duduk diatasnya. Sedang Thunder masih berada dibelakang.

 

“Tenangkan dirimu Hyorin…” Gumam Hyorin kecil sebelum musik perlahan mengalun dan lampu mulai kembali bersinar terang. Hyorin duduk dalam posisinya yang tengah meringkuk yang kemudian dihampiri oleh Thunder dari belakang untuk memeluknya.

 

Jangan salah sangka dulu , mereka bukan mau menunjukkan kemesraan , hanya saja itu memang merupakan salah satu koreo dari penampilan special mereka.

 

Hyorin sedikit terkejut ketika Thunder sedikit membisikkan kalimat “Kau kenapa?” ditelinganya pada gerakan awal tadi.

 

Hyorin menatap kearah Thunder sembari terus melakukan gerakan dari dance tersebut. Tersirat sorot mata dingin dari Thunder. “Apa dia marah?” Tanya Hyorin dalam hati. Bukannya menjawab Hyorin langsung mengalilhkan pandangannya ke arah lain. Itu juga merupakan bagian dari koreo mereka. Entah mengapa koreo dari penampilan mereka seperti menyiratkan permasalahan yang terjadi pada keduanya.

 

Thunder berjalan seiring dengan musik yang mengalun dan berlutut didepan Hyorin , merentangkan tangannya dan kemudian tersenyum. Hyorin tahu senyum itu palsu. Karena sebelumnya dia melihat wajah dingin dari kekasihnya tersebut. Hyorin menggeleng sembari tangan masih terlipat didadanya.

 

Thunder berjalan kembali kebelakang , kemudian mengambil alih duduk disamping Hyorin. Tangannya perlahan menyentuh bahu Hyorin yang terekspos karena bajunya yang memang tidak menutupi lengannya tersebut. Hyorin tersentak dan menoleh kebelakang.

 

“Ini kan memang sudah seharusnya , kenapa aku terkejut?” Gumam Hyorin dalam hati sembari menundukan kepalanya dengan kepalan tangan didada Thunder , ketika Thunder hendak melingkarkan lengannya pada tubuh Hyorin.

 

“Jangan siksa aku begini , Hyorin-ah…” Bisik Thunder lagi disela-sela gerakan mereka yang masih terus berlanjut.

 

Hyorin mendorong tubuh Thunder dan terus bergerak. Hampir saja dia terbuai dan terlarut pada dekapan Thunder barusan. Untung saja dia masih bisa kembali pada keadaan sadarnya dan melakukan gerakannya dengan fokus. Begitu juga Thunder.

 

Kali ini Thunder meletakkan kepalanya dipaha Hyorin. Sungguh sikap yang tidak asing sebenarnya bagi mereka. Karena Thunder sering sekali tertidur dipangkuan Hyorin ketika mereka sedang berdua. Sekilas Hyorin melihat kedalam mata sendu Thunder. Tidak tega dia sebenarnya membuat Thunder menjadi resah. Mata yang biasanya terlihat bersinar kini terlihat sangat sendu.

 

Hyorin berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terbawa suasana dan tetap fokus pada penampilan mereka. Meskipun setiap sentuhan yang dilakukan Thunder sedikit membuatnya terbuai. Waktu latihan sebenarnya juga dia merasa sedikit berat menahan perasaan menggebunya ketika Thunder terus bergerak didekatnya seperti pada gerakan dalam dance mereka. Namun sekali lagi ego mampu memendam perasaan yang hendak membuncah tersebut.

 

Hyorin berdiri dan melangkah kedepan , Thunder menyusulnya dibelakang dan mencoba membuat Hyorin menoleh padanya , namun dengan cepat ditepis oleh Hyorin.

 

Hyorin melangkah kesamping dan bergerak indah mengikuti musik , begitu juga Thunder disampingnya. Gerakan mereka menyatu sempurna didalamnya.

 

Hyorin dan Thunder saling mendekat , Thunder memegang pinggang ramping Hyorin , sementara Hyorin mengalungkan tangannya dileher Thunder , sejurus kemudian mereka saling membuang pandangan dan melihat kedepan , melakukan gerakan selanjutnya , sampai dengan gerakan dimana Hyorin melakukan loncatan ke tubuh Thunder dan ditangkap sempurna oleh tangan kecil Thunder.

 

“Fiuhhhh…”

 

Keduanya mendesah kelegaan bersamaan , ketika gerakan puncak tersebut berhasil mereka lakukan.

 

Setelahnya mereka kembali melakukan gerakan kecil kekanan dan kekiri sebelum akhirnya kembali Thunder meletakkan tangannya dipinggang Hyorin begitu juga Hyorin yang meletakkan tangannya dipinggang Thunder . Mereka berjalan perlahan menuju bangku putih dan langsung duduk seiring dengan musik yang mulai mengalun pelan. Dan digerakan final mereka saling berpelukan bersama.

 

Oh tidakkah itu benar-benar seperti parodi dari pertengkaran kecil mereka kali ini? Bukan hanya Hyorin yang mempunyai pikiran seperti itu dalam benaknya. Tapi juga Thunder.

 

Tapi akankah hubungan mereka akan seperti didalam Dance tadi? Berbaikan?

 

Entahlah .

 

Setelah lampu perlahan meredup Hyorin dan Thunder langsung berjalan menuju belakang panggung. Hyorin yang semakin takut tidak dapat menahan lagi buncahan perasaannya , berjalan agak cepat didepan Thunder. Sementara Thunder dibelakangnya mencoba berusaha bersikap normal namun tetap mengikuti pergerakan cepat langkah Hyorin. Dia tidak mau terlalu terlihat mencolok.

 

Terlihat oleh Thunder Hyorin yang langsung berjongkok setelah berjalan agak jauh dari panggung ,  sambil menenggelamkan kepalanya dikedua lututnya. Tubuhnya terlihat bergetar , sangat kentara dimata Thunder apa yang sedang dilakukan Hyorin. Menangis.

 

Thunder melambatkan kecepatan langkahnya. Dengan pelan dia hampiri Hyorin dan ikut berjongkok dihadapannya. Sungguh sangat sedih hatinya , melihat wanita yang sangat dicintainya kini sedang menangis tersedu dihadapannya.

 

“Aku… sungguh tidak tahu apa yang telah aku perbuat hingga kau menjauhiku …” Ucap Thunder dengan suara agak sedikit bergetar. “…bahkan sampai membuatmu menangis seperti ini. Aku mohon Hyorin ah… katakan padaku apa kesalahanku. Jangan seperti ini. Jangan mendiamiku… aku tak bisa kau perlakukan seperti ini…” Lanjut Thunder dengan suara makin bergetar. Namun Hyorin tetap masih dalam posisinya.

 

Hyorin yang masih tetap bergeming.

 

“Ackhh!!” Seru Thunder sambil memegangi perutnya. Dan hal itu langsung membuat Hyorin mengangkat kepalanya dengan mata yang penuh dengan air mata.

 

“Thunder ah…?? Kau kenapa?” Tanya Hyorin yang kali ini jadi panik dan melupakan kesedihannya. Ditahannya tubuh Thunder dengan kedua tangannya ketika tubuh kecil kekasihnya tersebut hendak jatuh kelantai.

 

“Pe…perutku…”

 

***

 

Hyorin masih bertahan dalam lelahnya untuk tetap membuka mata. Pokoknya jangan sampai matanya tertutup ketika Thunder bangun nanti.

 

Tadi Thunder pingsang , setelah mengaduh kesakitan sembari memegangi perutnya. Hingga kini disinilah dia berada , disebuah rumah sakit di kota Hanoi , acara musik tadi memang belum selesai , tapi untungnya karena penampilan Thunder dan Hyorin serta grup masing masing dari keduanya telah tampil , Thunder jadi langsung bisa dibawa kebawah rumah sakit. Dan tentu saja Hyorin memaksa untuk ikut menyertainya.

 

Member MBLAQ dan SISTAR lainnya masih berada diluar ruangan tempat Thunder dirawat. Mereka sengaja membiarkan Hyorin menemani Thunder seorang diri. Karena mereka tahu pasti perasaan cemas dihati Hyorin.

 

Dokter bilang , penyakit maag Thunder kambuh lagi , dan kali ini semakin kronis. Makanya dia tadi terus memegangi perutnya sebelum pingsan tadi. Joon menambahkan kalau nafsu makan Thunder memang turun 5 hari belakangan ini , bahkan Thunder bisa saja mau makan kalau tidak dipaksa oleh teman-temannya.

 

Sesaat terbesit rasa bersalah dihati Hyorin. Dia merasa sikap kekanakannya yang membuat Thunder jadi seperti ini. Oleh karena itu untuk menebus kesalahannya , dia ingin matanya tetap terjaga ketika Thunder bangun nanti , lalu meminta maaf pada Thunder. Begitu tekatnya.

 

Namun ini sudah 2 jam. Dan Thunder masih belum sadar juga. Bahkan asupan air infus yang mengalir ditangannya sudah hampir setengah. Hyorin kembali menggosok-gosokkan kedua tangannya. Malam ini sungguh dingin. Sesekali dia salurkan rasa hangat yang ditimbulkannya ketangan Thunder.

 

“Ngg…ngg…Rin-ah….”

 

Hyorin tersentak ketika didengarnya lenguhan Thunder yang memanggil namanya.

 

“Iya , Thunder ah.. ” Sahut Hyorin cepat merespon lenguhan Thunder sembari menggenggam erat kedua tangan Thunder.

 

“Rin…ah … jangan diami aku seperti ini…..” Racau Thunder dengan mata masih tertutup rapat dan keningnya yang berkeringat.

 

“Tidak , Thunder ah… aku tidak akan mendiamimu lagi , oleh karena itu kau harus bangun dulu sekarang…arra? ” Jawab Hyorin lagi.

 

“Rin…ah….” Racau Thunder lagi , kali ini tubuhnya terlihat semakin gelisah namun dengan mata masih terkatup rapat.

 

Namun dapat dirasakan oleh Hyorin bahwa Thunder membalas genggaman tangan Hyorin dengan lebih kuat. Hyorin mengusap rambut poni Thunder yang menutupi keningnya yang tengah berkeringat tersebut. Dihawa dingin seperti ini kenapa kau berkeringat, batin Hyorin dalam hatinya.

 

“Rin…ah….” Racau Thunder sekali lagi.

 

Hyorin sedikit mengangkat tubuhnya dari kursi dan semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Thunder. Dikecupnya kening Thunder untuk sedikit membuat Thunder lebih tenang. Dan ternyata Thunder memang terlihat lebih tenang setelahnya. Keningnya tidak lagi berkerut seperti sebelumnya. Genggaman ditangan Hyorin pun sedikit mengendur.

 

“Lebih baik kau beristirahat dulu , Thunder ah… Tidur saja… jangan bangun dulu.. Arra?” Ucap Hyorin berusaha menenangkan Thunder lagi , kali ini dengan kata-katanya.

 

“Aku akan terus disini sampai kau bangun nanti.”

 

***

 

Hyorin mengerjap-erjapkan matanya ketika sinar mentari semakin menusuk masuk kematanya. Diregangkannya kedua lengannya.

 

“Hmm….” Lenguhnya kemudian dengan nyaman.

 

Perlahan dia mengerutkan keningnya , “Loh? Bukannya..” Hyorin membuka matanya dengan lebar. Dan mendapati Thunder tengah tersenyum memandanginya.

 

“Loh? Kapan kau sadar? Kenapa aku bisa ada diatas sini? Sejak kapan?” Tanya Hyorin sembari mencoba beranjak berdiri.

 

“2 jam yang lalu.” Jawab Thunder singkat.

 

Hyorin turun dari ranjang tersebut dan berdiri dihadapan Thunder. Dia bungkukkan sedikit tubuhnya untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Thunder yang tengah duduk. “Kau sudah sehat?” Tanyannya sembari menempelkan telapak tangannya dikening Thunder.

 

“Aku tidak demam Hyorin ah…” Ucap Thunder sembari menarik tangan Hyorin , membuat tubuhnya tertarik kedepan dan dengan singkat dia sudah berada dipangkuan Thunder.

 

Thunder menyematkan dagunya dibahu Hyorin.

 

“Ak..aku sudah dengar dari Seungho Oppa kalau kau…”

 

Thunder melingkarkan tangannya dipinggang Hyorin ketika Hyorin tidak melanjutkan perkataanya.

 

“Aku juga sudah dengar dari Bora… ” Sahut Thunder.

 

“Ah itu…”

 

“Salahku tidak menjelaskannya padamu , Hyorin ah… Ji Eun itu hanya temanku , waktu itu aku tidak hanya berdua dengan Ji Eun saja kok. Ada yang lain juga , hanya saja mereka sedang kebagian lain..” Jelas Thunder.

 

“Ah , jadi aku salah paham….” Gumam Hyorin sembari menggigit bibir bawahnya.

 

Thunder mengeratkan tangannya dipinggang Hyorin membuat Hyorin makin mendekat kepelukannya. Dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dibahu Hyorin membuat Hyorin sedikit kegelian.

 

“Aku mengerti. Tapi aku mohon jangan pernah kau lakukan itu lagi padaku. Aku tak tahan didiamkan oleh dirimu , Rin ah…” Ucap Thunder.

 

Hyorin mengangguk. “Mianhae…”

 

“Gwaenchana…” Sahut Thunder.

 

“Thunder..” panggil Hyorin.

 

“Ya?”

 

“Apa kau benar-benar mencintaiku?” Tanya Hyorin.

 

Hyorin melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Hyorin , hingga mereka saling berhadapan. “Kenapa bertanya seperti itu?” Tanya Thunder.

 

“Aku hanya merasa aku terlalu mencintaimu. Dan aku takut aku terlalu mengekangmu…” Ucap Hyorin sembari menundukan kepalanya sambil memainkan jari-jarinya.

 

Thunder mengambil jari-jari Hyorin dan digenggamnya dengan erat.

 

“Bukan kau yang terlalu mencintaiku , tapi aku yang terlalu amat sangat mencintaimu…” Ucap Thunder diakhiri kecupan hangat dikening Hyorin.

 

Hyorin langsung memeluk Thunder ketika Thunder menarik bibirnya dari kening Hyorin , hingga hampir Thunder terjungkal kebelakang.

 

“Aku juga mencintamu!”

 

 

***

Another my fiction about my favorite couple ~ ThunRin Couple..

Bash Disallowed , comment please…

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s