1STAR’s Fanfiction / 1Direction-Sistar / I Wish / Straight / Romance / Part 5

I Wish part 5

Tittle : I Wish

Cast : Kim Dasom , Louis Tomlinson , Zayn Malik , Eleanor , Niall , etc

Pair : Lousom // Dayn // Allsom // Lounor ||

Genre : Romance , Hurts

Rate : Teen

Length : Chapter

Part : 5 of ?

Author : LidyaNatalia

Warning : OOC ,  Yang nggak suka sama pairingnya , jangan baca. Yang nggak suka sama Sistar , 1Direction juga nggak usah baca. Banyak Typo , Nggak terima bashingan , apalagi bashing pairnya. Pokoknya I WARN all of you to do not read this fanfiction if you didn’t like the cast or didn’t like me .

Disclaimer : 1Direction dan Sistar belong to God and their family ~ But this story originally belong to me.

A/N : Terinspirasi dari lagu I wish . Ingat loh cuma terinspirasi , jadi ini bukan songfict. Selain itu lagu More than this juga ikut andil dalam pemberian inspirasi. Juga lagu You Belong With Me dan Saying I Love You. Sekali-kali coba aja kalian denger lagu itu ~

Summary : Oh how I wish that was me …

 

Let’s check this out the story…

***

Dihari yang cukup cerah  dimana burung-burung pipit terus bersenandung  ceria serta putihnya awan yang terus setia menghiasi birunya pantulan air laut di langit , Dasom dengan terus tersenyum kecil tengah memilih  – milih makanan ringan yang akan dibelinya.

 

Hari ini dia dan Louis sudah membuat janji untuk mengerjakan tugas resensi di apartement Dasom.  Oleh karena itu meski penunjuk waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi Dasom sudah pergi keluar untuk membeli beberapa makanan ringan untuk dinikmati Louis ketika mengerjakan nanti.

 

Dasom jadi bingung sendiri ketika melihat banyak makanan terjejer ditempatnya. “Kira-kira yang mana yang akan disukai oleh Louis ya..?” Gumam Dasom pelan sembari mengerucutkan bibirnya tanpa dia sadari. “Semuanya sajalah…” Ujar Dasom kemudian sembari memasukan satu persatu makanan ringan dari merk yang berbeda.

 

Dasom melihat ke arah trolinya yang sudah hampir penuh. Dia memang merasa sedikit berlebihan , tapi demi Louis walaupun tak merasa butuh Dasom merasa yakin harus menyiapkannya.  Dasom mengangguk-anggukan kepalanya , merasa sudah cukup dan bergegas mendorong trolinya menuju kasir.

 

***

 

Dasom memandang ke arah luar jendela , ke arah langit mendung yang sudah menurunkan rintik-rintik hujannya. Keningnya mengerut , raut wajahnya menunjukkan kecemasan. Dia sudah menyiapkan semuanya , mulai dari buku yang akan diresensi bersama Louis , makanan ringan yang mungkin akan disukai Louis , dan sebagainya.

 

Lagipula beberapa jam yang lalu langit masih terlihat cerah dan bersahabat , kenapa bisa berubah dalam sekejap?

 

Drtttt….ddrrrtttt…

 

Dasom menolehkan kepalanya ke arah handphone yang bergetar yang terletak diatas meja kaca ruang tamunya.

 

Itu tanda pesan masuk.

 

Dasom ini aku Louis.  Sepertinya aku tidak bisa datang ketempatmu , menurut berita yang tadi aku lihat akan terjadi badai hari ini. Dan , masalah tugas itu kau tak perlu khawatir aku akan menyelesaikannya.

 

Dasom menghembuskan nafasnya berat. Ini adalah kali pertama Louis mengiriminya pesan. Tapi kenapa justru isinya yang panjang malah membuatnya kecewa?

 

“Benarkan dugaanku..” desahnya kecewa. Dasom sudah menduga kalau Louis tidak akan datang dengan cuaca yang buruk seperti ini.

 

Dasom merebahkan tubuhnya diatas sofa empuknya sembari menggenggam handphonenya.  “Selalu saja cuaca yang menjadi penghalang…” Gumam Dasom lagi. Terakhir kali dia juga batal memberikan sebuah kue tart ulang tahun untuk Louis karena hujan , dan sekarang? Mereka batal lagi mengerjakan tugas karena badai. Entah apa lagi besok.

 

Bukankah buku yang akan diresensi ada padaku? Bagaimana kau bisa mengerjakannya? Kita sudah mengajukan judul buku yang akan diresensi , Lou.

 

Dasom memilih pilihan SEND setelah selesai mengetikkan balasan untuk Louis. Itu memang benar , kau tidak akan bisa main-main terhadap tugas yang diberikan Mr. Hayes  , dengan seenaknya mengganti judul tugasmu bukanlah hal yang dapat dengan mudah dimaklumi oleh guru sastra tersebut.  Selain alasan itu , Dasom memang ingin sedikit egois kali ini. Bukankah badai belum terjadi ? Ini baru gerimis kecil kan ? Well , masih ada waktu yang sangat cukup untuk Louis datang ke tempat Dasom , kalaupun nanti Louis tidak bisa pulang karena badai benar-benar datang , hal tersebut bukan masalah besar karena Dasom memiliki beberapa kamar yang kosong.  “Ya , aku memang harus meyakinkannya untuk datang hari ini!” Gumam Dasom sembari menunggu balasan dari Louis dengan was-was.

 

Drtttt….ddrrrtttt…

 

1 pesan kembali masuk. Dasom sedikit menggumamkan beberapa kalimat pendek , berdoa semoga Louis bisa diyakinkan olehnya untuk datang.

 

Tenang saja , aku akan coba cari di internet. Aku bisa membeli softcopynya secara legal.

 

Damn.

 

‘Sebegitu tak inginnyakah kau padaku , Lou?’ Desis Dasom ambigu dalam hatinya. Louis memang pintar berkelit. Dasom tahu itu dari dulu. Namun dia memang tidak pernah lepas tanggung jawab. Itulah  salah satu hal yang membuat Dasom menyukainya.

 

Dasom memutuskan untuk tidak langsung membalas pesan tersebut. Apa yang harus dia katakan ? Yang dapat membuat Louis datang. Pikiran Dasom langsung menjelajah panjang memikirkan kalimat yang tepat , namun otaknya sudah buntu karena pernyataan Louis yang membuatnya menjadi deadlock.

 

“Huh” Dasom membuang nafasnya dan memilih menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.  Namun sejurus kemudian dia langsung kembali mengangkat punggungnya dari sandaran sofa lalu menyilangkan kedua kakinya. Dia pilih REPLY dilayar handphonenya. Mungkin sebaiknya dia menyerah saja karena sekeras apapun dirinya mencoba membuat laki-laki yang disukainya itu datang tetap saja hasilnya sia-sia.

 

Terserah kau sajalah.

 

Dasom kembali melihat apa yang diketikkannya sebagai balasan untuk Louis , dia belum mengirimnya dan masih menimbang-nimbang apakah itu terlalu kasar atau tidak.  Dasom memutuskan untuk menyentuh pilihan SEND ketika dirasa itu balasan yang tepat.

 

Setelah pesan tersebut terkirim , Dasom memutuskan untuk mematikan handphonenya. Dia tidak ingin mendapati Louis tidak menanggapi pesan tersebut dan tidak membalasnya atau mendapati Louis membalasnya dengan balasan yang tidak diinginkannya , walaupun kemungkinan yang pertama akan lebih berpeluang besar terjadi. karena memang tidak ada hal yang perlu dibahas oleh keduanya lagi.

 

Matanya berkeliling menatap meja yang sudah dipenuhi beberapa buku.  Hatinya kelu mengingat beberapa  makanan yang sudah dibelinya.  Dia tidak terlalu suka makan –dan hal itu yang membuat tubuhnya kecil- , lalu untuk siapa makanan-makanan tersebut?

 

Dasom memikirkan beberapa orang yang mungkin bisa dia berikan makanan itu. Namun mengingat orang yang dikenalnya hanya sedikit dia kembali mendesah.  Dia terlalu malas untuk mendengar kecerewetan Niall hari ini.  Sejenak dia teringat dengan jaket yang tergantung di tiang yang khusus untuk menggantung jaket dan sejenisnya bagi tamu yang datang. Jaket milik seseorang bernama Zayn yang harusnya sudah dia kembalikan sehari yang lalu masih bertengger manis disana.  Dasom mengerjapkan matanya. Sepertinya dia tahu harus kepada siapa dia memberikan makanan yang sudah dibelinya tersebut.

 

***

 

Louis mengerinyitkan keningnya membaca pesan dari Dasom yang baru saja diterimanya.  Dia kira Dasom akan mengatakan bahwa dia saja yang mengerjakannya karena bukunya ada padanya. Well , sedikit berharap tidak apa bukan?

 

“Huh…”  Louis mendesahkan nafasnya. Ini memang resiko yang harus diterimanya karena membatalkan rencana belajar kelompok dengan Dasom untuk mengerjakan tugasnya.  Dia merutuk keputusan yang diambil Niall sehingga dia terpisah dari Eleanor , bukan apa-apa hanya saja Louis sudah terbiasa mengerjakan segalanya bersama Eleanor , berkelompok bersama orang lain membuatnya tak nyaman walau hanya untuk sekedar membayangkan.

 

Well , selain itu juga memang karena hubungannya yang tidak terlalu dekat dengan Dasom.  Gadis itu sangat misterius , sepengetahuan Louis sebagai ketua osis yang memang harus mengenal semua teman satu sekolahnya serta sebagai teman sekelas Dasom yang memang harus –juga- mengenal semua teman sekelasnya , Dasom tidak mempunyai teman dekat , kecuali Niall yang selalu memperhatikan gadis tersebut.  Yah meskipun akhir-akhir ini memang secara kebetulan dia selalu saja seperti terhubung dengan gadis itu.

 

Dari awal memang Louis sudah berniat untuk tidak datang ke tempat Dasom , beruntung cuaca buruk membantunya beralasan.  Namun kini dia harus menerima konsekuensi dari pembatalan sepihaknya. Mengerjakan tugas resensi buku setebal 662 halaman seorang diri.  Tak mungkin dia meminta Eleanor untuk membantunya , karena dia juga pasti tengah mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok. Dan lagi Eleanor mati-matian meyakinkan Louis untuk bisa bekerja sama dengan orang lain , selain dirinya.

 

Louis beralih mengambil tabnya yang tergeletak diatas meja dan mulai menjelajah kedunia maya mencari softcopy buku berjudul The Da Vinci Code.  Well , sepertinya dia akan tidur larut untuk menyelesaikan tugas ini.

 

***

 

Dasom masih bergeming didepan sebuah pintu apartement bernomor 1225. Di tangannya sudah ada 2 kantung tas kertas yang berisi jaket yang sudah bersih dan beberapa makanan yang menurut Dasom tidak bisa dihabiskannya – atau akan sempat termakan olehnya.

 

Dasom memindahkan tas kertasnya yang berada ditangan kanan ke tangan sebelah kiri dan mengangkat tangannya untuk menekan tombol bel pintu.

 

TING! NONG! TING NONG!

 

Dasom masih dapat mendengar suara bel yang terdengar sampai keluar. Memalukan! begitu pikir Dasom.

 

“Cklek!”

 

Seseorang keluar dari balik pintu tak lama Dasom menekan belnya. Dasom kembali memindahkan salah satu kantong tas kertasnya ke tangan kanan.

 

“Ada apa?” Tanya orang yang bernama Zayn tersebut.

 

Dasom mengangkat tangan kanannya. “Jaketmu!” Ucapnya sembari memberikan kantong tersebut pada Zayn.

 

Zayn melirik kedalam kantong tas kertas tersebut dan mengeluarkan jaketnya dan sejurus kemudian dia masukkan kembali. “Sebenarnya kau tak perlu buru-buru mengembalikannya..” Sahut Zayn pada Dasom.

 

Dasom menarik ujung bibirnya sedikit. “Terima kasih..” Ucap Dasom singkat. “…dan ini sebagai tanda terima kasihku.” Lanjut Dasom sembari menyerahkan kantong tas kertas yang berada ditangan kirinya kepada Zayn –lagi.

 

“Kau tak perlu repot-repot sebenarnya. Aku tulus meminjamkannya padamu.” Balas Zayn sembari tersenyum ke arah Dasom.

 

Dasom mendecih dalam hatinya. Bahkan Niall yang memintamu untuk meminjamkan jaketmu padaku! Desis Dasom dalam hatinya namun tetap berusaha membalas senyuman Zayn dengan sebuah senyum kecil yang terkesan dipaksakan.

 

“Oh iya bagaimana alergimu?” Tanya Zayn lagi.

 

Dasom mengangkat alisnya bingung.

 

“Apa kau sudah menggunakan obat yang kuberikan kemarin?” Tanya  Zayn lagi.

 

Dasom membulatkan matanya. “Jadi yang memberikan obat itu dirimu?” Dasom balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Zayn untuk yang kedua kalinya.

 

Zayn mengangguk.

 

Dasom mendengus sembari membuang pandangannya ke arah lain namun sedetik kemudian dia langsung melihat ke arah Zayn dengan pandangan tajam dan dingin. “Kau tidak perlu bersikap sok baik padaku dan kuharap urusan kita berhenti sampai disini! Tunggu disini!” Ucap Dasom yang kemudian langsung berlalu masuk ke pintu bernomor 1223.

 

Zayn mengerutkan keningnya bingung menatap kepergian Dasom dan mengangkat kedua bahunya ,  “Dasar gadis aneh!” Gumamnya sembari masuk dan menutup pintu apartementnya.

 

“TOK! TOK! TOK! TOK!” Kali ini Dasom memilih untuk mengetuk pintu tersebut daripada menekan tombol bel. Dasom kembali lagi ke apartement Zayn sembari membawa sebuah bungkusan berisi obat yang –katanya- diberikan oleh Zayn sebelumnya.

 

“Cklek!” Zayn memandang Dasom heran. Ada apa lagi dengan gadis ini?  Batin Zayn.

 

“Ini kukembalikan milikmu!” Ucap Dasom sembari menyodorkan bungkusan tersebut kepada Zayn.

 

Zayn mendesis kecil. “Terserah kau mau memakainya atau mau membuangnya karena aku sudah memberikannya padamu! Ingat memberikan! Bukan meminjamkan!” Balas Zayn sembari mendorong bungkusan tersebut ke arah Dasom.

 

“Jadi bawa kembali obat ini!” Lanjut Zayn.

 

“Tapi aku tidak membutuhkannya!” Sahut Dasom dingin.

 

“Kalau begitu buang saja!” Balas Zayn lagi. “Mudah bukan?” Lanjutnya dengan wajah yang menurut Dasom sangat tengil.

 

Dasom menggigit bibir bagian bawahnya sembari memandang kesal ke arah Zayn.

 

“Kalau tidak ada perlu lagi kau bisa pergi…” Ucap Zayn berniat mengusir Dasom secara halus. Sebenarnya dia tidak tega memperlakukan seorang gadis secara kasar seperti ini , bahkan untuk gadis yang masih belum dia ketahui namanya.  Ah tidak. Sebenarnya dia pernah mendengar nama gadis ini ketika dihalte salah satu teman laki-laki gadis ini –Niall- memanggil gadis ini dengan nama Dasom , yang dimaksud dirinya dengan belum mengetahui namanya adalah mereka belum berkenalan secaran resmi.

 

Tapi melihat dari sikapnya , Zayn merasa memang dia harus memperlakukan gadis ini seperti yang dia lakukan. Karena dia pernah menghadapi gadis dengan tipe seperti ini sebelumnya.

 

Jujur saja perasaan Dasom sedikit tersinggung ketika Zayn mengusirnya , namun Dasom tetap menutup mulutnya dan lebih memilih pergi setelah menghembuskan desisan kecilnya pada Zayn yang langsung menutup pintu ketika Dasom sudah pergi untuk yang kedua kalinya setelah berteriak mengucapkan “Anyway , Terimakasih untuk makanannya!” pada punggung Dasom yang tidak berniat menanggapi sama sekali seruan terima kasih dari Zayn.

 

***

 

Sinar matahari yang seharusnya masih bersinar terang sudah tak terlihat sama sekali karena tertutup awan hitam mendung yang terkesan kelam. Bahkan ekor sinar matahari pun sama sekali tidak terlihat , meski masih ada beberapa awan putih yang membuat langit kelam tersebut sedikit lebih terang. Angin kencang yang diikuti hujan deras serta kilatan dan suara petir melengkapi komposisi badai yang memang diramalkan terjadi hari ini.

 

Seorang gadis berkulit pucat bertubuh kurus agak tinggi dengan rambut hitam sebahu yang tergerai indah tengah berdiri didekat bingkai jendela memandangi salah satu fenomena alam tersebut.

 

Ditengah keseriusannya tenggelam dalam pemandangan tersebut , tiba-tiba handphone ditangannya bergetar. Dilayarnya tertulis “Niall is calling”.

 

Dasom menekan pilihan berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.

 

“Hallo , Dasom!” Seru sebuah suara diseberang sana.

 

“Ya , Niall. Ada apa?” Sahut Dasom sembari tetap melihat ke arah air hujan yang terus terbawa angin kencang.

 

“Ah , tidak ada apa-apa. Hanya ingin mendengar suaramu saja. Hehehe…”

 

“Jangan main-main!” Balas Dasom dingin.

 

“Aku tidak main-main. Oh iya aku mau minta maaf padamu..”

 

Dasom mengerutkan keningnya , “Untuk apa?”

 

“Untuk penentuan anggota tugas resensi buku. Karena keputusan yang ku ambil. Kau jadi berkelompok dengan orang lain.”

 

Dasom mendecih pelan , Itu memang sebuah kesalahan. Batin Dasom.

 

“JDEERRRR!!!”

 

Dasom sedikit mengedipkan matanya ketika kilatan cahaya lewat didepan matanya disertai suara petir yang terlalu menggelegar.

 

“Hey! Dasom?!”

 

“Ada apa?” Sahut Dasom lagi.

 

“Kau ada dimana?” Tanya Niall agak panik karena mendengar suara petir yang sangat jelas dari seberang telponnya.

 

“Dikamar.” Jawab Dasom singkat.

 

“Dikamar?…. Jangan bilang kau sedang berdiri didekat jendela?”

 

“A….ha…”

 

“Hey! Gadis manis kau harus menjauh dari sana. Petir bisa menyambarmu nanti!” Seru Niall.

 

Dasom kembali mendesah pelan , “Salahkan orang yang membuat gelombangnya merasa terpanggil!” Sahut Dasom tepat sasaran menyindir Niall.

 

Niall terkekeh pelan diseberang telpon dengan suara yang masih bisa didengar oleh Dasom , “Baiklah! Baiklah aku mengerti. Sekarang cepat kau jauhi jendela dan aku akan mematikkan sambungan ini. Nanti setelah badai berhenti aku akan ketempatmu. Mengerti?”

 

“Kau tidak perlu menasehatiku seperti nenekku , Niall. Aku bisa jaga diri dan… kau tak perlu ke tempatku.” Sahut Dasom.

 

“YA!! Kenapa kau bandingkan aku dengan seorang nenek?!” Seru Niall pura-pura marah membuat Dasom sedikit tersenyum tanpa diketahui oleh Niall. “Dan aku akan tetap ketempatmu. Lagipula aku juga sudah menyelesaikan tugas resensiku jadi aku punya banyak waktu untuk itu.”

 

“Dan kapan kau akan menutup sambungan ini Mr. Horan?” Sahut Dasom membuat Niall mendengus sebal.

 

“Iya Nona Kim. Cepat jauhi jendela!”

 

Dan sambungan pun langsung diputus oleh Dasom. Karena dia yakin Niall tidak akan mungkin menutup sambungan telpon mereka kalau bukan Dasom yang melakukannya.

 

Dasom menghela nafasnya dan memutuskan untuk beranjak menjauhi jendela.

 

Well , Niall memang sangat mirip seperti neneknya.

 

***

 

Well readers , especially for Star1 ^^ How is it?

Please comment after you read it^^ Bisa komen langsung di kolom komentar , bisa juga lewat :

twitter : @lidya_Natalia

facebook : LidyaNatalia Elffishy

whatsaap/sms: 083879565613976

Line : natalidya2512

 

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s