Sistar’s Fanfiction || Ji Sisters Part 2

JI Sisters poster

Tittle :  Ji Sisters

Cast : Choi Minho SHINEE , Kang Ji Hyun ‘Soyou’ SISTAR  , Park Jiyeon  T-ARA , Kang Jiyoung KARA, Choi Siwon SUPER JUNIOR.

Length : Chapter

Part : 2 of ?

Author : LidyaNatalia

Rate : T for Teen

Genre : Romance , Straight , Friendship

Warning : Bagi yang nggak suka sama castnya , sama Minho ataupun sama Soyou , yang lainnya , atau mungkin nggak suka sama akunya , boleh keluar dari fiction ini. Oh iya karena aku suka sistar , disini aku lebih fokus ke Soyou , walau begitu aku bakal usahain buat lebih ratain peran Jiyeon dan Jiyoung.

 

Let’s Check this out ~

***

 

Seorang siswa laki-laki yang bernama Choi Minho , dengan sedikit rasa kesal dan kelegaan berjalan keluar kelasnya untuk menjalani hukuman yang baru saja diberikan Guru Goo karena tak mampu mengerjakan dan menjawab soal yang diberikan oleh Guru Goo.

 

Minho lega karena dia bisa keluar dari kelas matematika yang benar – benar tak dimengertinya , sedangkan dia kesal karena dia harus keluar tanpa membawa PSPnya. Meski bisa keluar dari pelajaran matematika , Minho tetap merasa kesal dan malu karena harus keluar dengan cara seperti tadi.

 

“Lihat saja nanti kau , Jihyun! Aku akan membalasmu!!” Ucap Minho tanpa suara pada Soyou yang berada didalam kelas dari balik kaca jendela sembari meragakan adegan memotong leher pada Soyou. Namun seperti tidak punya rasa bersalah dan takut sama sekali Soyou malah kembali menjulurkan lidahnya pada Minho.

 

“Choi Minho! Cepat angkat kakimu dan tarik kedua telingamu!” Seru Guru Goo saat melihat adegan Minho dan Soyou , membuat Minho membalikkan badannya  dan beranjak ke arah tembok samping pintu dan secara serta merta dan melakukan perintah yang diperintahkan oleh Guru Goo.

 

Minho kembali menggerutu dengan gumaman kecil , dirutukinya keberhasilan Soyou mengerjainya. Namun dia malah tertawa ketika mengingat perbuatan yang dia lakukan sebelumnya hingga membuat Soyou membalasnya.

 

***

 

Jiyeon menyenggol bahu Soyou yang sedang mencoba mengerjakan soal latihan yang diberikan Guru Goo kepada dirinya dan teman-temannya yang lain. Ternyata dia sudah selesai mengikir kuku-kuku cantiknya.

 

“Wae?” Tanya Soyou kemudian.

 

“Bagaimana kalau nanti dia balas mengerjaimu lagi?” Tanya Jiyeon dengan suara pelan agar tak terdengar oleh Guru Goo. Guru Goo bukanlah tipe orang yang akan mentolerasi muridnya yang menurutnya menganggu meskipun itu adalah seorang wanita.

 

“Siapa? Minho?” Tanya Soyou lagi.

 

Jiyeon mengangguk imut.

 

Soyou menggigit bibir bawahnya sembari memandang Jiyeon bingung , “Aduh aku tidak memikirkan sampai situ tadi. Aku hanya berpikir untuk menyelamatkan diriku dari Goo Saenim. Kau tahu kan bagaimana Guru Goo?” Tanya Soyou kali ini pada Jiyeon. Jiyeon mengangguk lagi.

 

“Lalu bagaimana? Aku yakin dia pasti akan mengerjaimu lagi.” Ucap Jiyeon dengan raut wajah yang sangat meyakinkan. Tapi sekali lagi , terlihat lucu dan imut dimata orang lain.

 

Soyou menggigit kuku jari telunjuknya.

 

“Hey kukumu bisa rusak!” Seru Jiyeon sembari menarik tangan Soyou.

 

“Ada apa Park Jiyeon?” Tanya Guru Goo kemudian. Rupanya suara Jiyeon cukup kencang tadi.

 

Jiyeon menggeleng-gelengkan kepala dan kedua tangannya. “Tidak ada Saenim. Ini cuma masalah soal saja.” Ucap Jiyeon sembari tersenyum hingga menyipitkan matanya.

 

“Kenapa soalnya? Apa kau mau mengerjakannya didepan?” Tanya Guru Goo lagi yang lagi-lagi lebih terdengar seperti pernyataan dibandingkan pertanyaan.

 

“Tidak , Saenim. Bukan. Aku bukan mau mengerjakannya didepan , aku mau mengerjakannya disini saja.” Ucap Jiyeon sembari menggeleng-gelengkan kepanya cepat.

 

“Coba kau kerjakan soal nomor 2 didepan.” Perintah Guru Goo pada akhirnya. Well , sekali kau tertangkap oleh Guru Goo kau tak akan pernah dilepaskan.

 

Jiyeon menghembuskan nafasnya berat. Kenapa dia harus kena juga , begitu batinnya.

 

“Ayo cepat!” Perintah Goo Seongsaenim lagi.

 

Jiyeon beranjak berdiri dengan berat. Dan tanpa sadar dia mengaruk rambut dekat pelipis kananya setelah melihat soal yang baru saja selesai dia tulis dibuku latihan.

 

Dengan sembunyi-sembunyi Jiyoung mengulurkan sebuah buku tulis dengan soal nomor 2 yang sudah dikerjakan. Tiba-tiba senyum cerah muncul dibibir Jiyeon. Jiyeon mengalihkan pandangannya ke arah Jiyoung , dan dari bawah meja Jiyoung mengisyaratkan kalau buku tulis itu milik Lee Jong Suk , murid terpintar dikelas 2 A yang kebetulan duduk disamping Jiyoung.

 

“Ehm , Saenim. Boleh aku bawa buku catatanku? Aku sudah mengerjakannya dan aku takut lupa bila mengerjakan ulang didepan tanpa buku catatanku..” Ucap Jiyeon dengan meyakinkan disertai aegyo yang membuat semua siswa dikelas 2 A terpesona.

 

Guru Goo tak langsung menyetujui permohonan Jiyeon. Dia memikirkan lagi dan mengingat-ingat bagaimana nilai akademik dan kelakuan Jiyeon yang sudah dia ketahui. Sejauh ini memang Jiyeon bukan murid yang malas , meskipun tak terlalu pintar Jiyeon selalu mengerjakan tugas yang dia berikan dan mengumpulkannya tepat waktu.

 

“Yasudah , cepat kerjakan didepan!” Putus Guru Goo pada akhirnya.

 

Jiyeon maju kedepan dengan percaya diri. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengerjakan soal yang sudah dijawab oleh Jong Suk tersebut.  Setelah beberapa saat Jiyeon langsung kembali dari tempat duduknya karena menurut Guru Goo jawaban yang dituliskan Jiyeon sudah benar.

 

Jiyeon menepuk punggung Jong Suk , “Gomawo ne…” Ucap Jiyeon pelan sebelum duduk dibangkunya.

 

“Hey Jiyeon-ah , aku dan Jiyoung sudah memikirkan sebuah cara!” Ucap Soyou pelan pada Jiyeon. Sepertinya ketika Jiyeon maju tadi , mereka berdua membicarakan hal ini.

 

“Oh ya? Apa itu?” Tanya Jiyeon penasaran. Dia sudah lupa kalau dia baru saja disuruh mengerjakan soal didepan.

 

“Ssssttt… pelankan suaramu…” Ucap Soyou memperingati sembari menempelkan telunjuk dibibirnya yang mengerucut.

 

Jiyeon menempelkan telunjuknya dimulut mengikuti Soyou sembari mengangguk-anggukan kepalanya bak anak kecil yang tengah dinasehati.

 

“Nanti 10 menit sebelum bel pulang berbunyi aku akan ijin ke ruang kesehatan. Nah setelah semuanya keluar kalian langsung menyusulku ke ruang kesehatan dengan membawa tasku tapi jangan sampai diketahui olehnya. Dengan begitu aku tidak akan bertemu dengan Si Kurus itu. Bagaimana?” Tanya Soyou pada Jiyeon , menanyakan pendapat yang telah dia susun dengan Jiyoung dalam waktu kurang dari 5 menit.

 

Jiyeon menangguk-anggukan kepalanya sebelum akhirnya mengangkat jempol kananya. “Ide bagus!” Sahutnya kemudian.

 

Soyou tersenyum senang , “Tentu saja!”

 

Jiyeon melihat penunjuk waktu yang berada didinding belakang kelas. “Hey! Sudah waktunya kau pergi ke ruang kesehatan!” Ucap Jiyeon memperingati.

 

Soyou ikut melirik kebelakang kelas , “Hah? Cepat sekali?” Ucap Soyou heran.

 

Jiyoung menolehkan kepalanya kebelakang , “Cepat pergi.” Ucap Jiyoung yang turut mengingatkan juga.

 

“I..iya..iya…” Soyou beranjak berdiri dari tempat duduknya , dia baru ingin mengatakan kepada Guru Goo alasannya untuk pergi keruang kesehatan , namun terlanjur disela oleh pertanyaan Guru Matematika tersebut.

 

“Ada apa , Soyou? Kau mau mengerjakan soal didepan juga?” Tanya Guru Goo.

 

Soyou menggeleng panik , namun tangannya langsung diletakkan diperutnya dan pura-pura merintih. Dia harus mengeluarkan bakat terpendamnya dengan baik saat ini.  “Boleh aku ijin keruang kesehatan , Saenim? Perutku sakit sekali rasanya. Sepertinya ini karena tamu bulananku…” Ucap Soyou dengan raut wajah dibuat sesendu mungkin.

 

Guru Goo sedikit kikuk karena Soyou membahas masalah wanita yang tidak mungkin dapat dirasakannya.

 

“Apa kau tidak bisa menunggu beberapa menit lagi? Sebentar lagi sekolah akan bubar.” Tanya Guru Goo.

 

Soyou menggeleng lemah. “Aku sudah tak tahan , Saenim. Aku takut pingsan kalau aku tak buru-buru minum obat penghilang rasa sakit ini.” Ucap Soyou lagi.

 

Guru Goo semakin bingung. Bukan hanya Guru Goo saja yang terbawa oleh akting yang dilakukan Soyou tetapi juga teman-teman sekelasnya. Bahkan Jiyeon dan Jiyoung pun merasakan khawatir pada sahabatnya tersebut. Mereka lupa kalau Soyou hanya pura-pura. Ckck.

 

“Yasudah…yasudah…” Ucap Guru Goo kemudian sembari mengisyaratkan tangannya untuk memperbolehkan Soyou keluar. “Kau bisa pergi sendiri?” Tanya Guru Goo lagi.

 

Soyou mengangguk. Kemudian beranjak keluar kelas sembari terus memegang perutnya dan berjalan dengan langkah dibuat tertatih sampai ambang pintu. Karena begitu sampai ditempat Minho berdiri , Soyou langsung menghentikkan aktingnya tersebut.

 

Soyou memicingkan matanya ketika melihat Minho senyum-senyum sendiri. Dihampirinya Minho berniat untuk mengejeknya. “Dasar gila senyum-senyum sendiri!!” Ucap Soyou kemudian.

 

Minho langsung membuang senyumnya , begitu dia melihat Soyou keluar kelas. “Mau kemana kau? Apa kelas sudah selesai?” Tanya Minho dengan badan sedikit bergoyang-goyang karena berdiri dengan kaki sebelah dan kedua tangan menarik kedua telinganya.

 

“Belum.” Jawab Soyou. “Sudah jangan banyak tanya. Jalani saja hukumanmu!:p” Ejek Soyou sembari menjulurkan lidahnya dan berlari menuju ruang kesehatan.

 

Minho menurunkan kakinya dan meletakkan kedua tangannya dipinggang. “Dasar bocah!” Serunya kesal. Minho mengamati kemana Soyou pergi dari kejauhan. Dan dia sedikit bingung ketika Soyou memasuki ruang kesehatan.

 

“Apa dia sakit?” Tanya Minho sembari memiringkan kepalanya.

 

Well , sepertinya gagal sudah rencana Soyou untuk bersembunyi dari Minho , karena nyatanya dia malah menunjukkan tempat persembunyiannya secara tidak langsung pada laki-laki hiperaktif –menurut Soyou- tersebut.

 

***

 

Soyou memilin-milin ujung rambutnya. Menunggu kedua temannya untuk datang dan membawa tasnya sehingga mereka bisa langsung pulang kerumah. Untung saja ruangan kesehatan tersebut kosong , jadi Soyou tak perlu repot-repot melanjutkan aktingnya.

 

Tinggal 5 menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Soyou tak tahu apa yang harus dilakukannya didalam ruangan itu. Well , dia kan tidak benar-benar sakit. Dia memutuskan untuk mengintip keluar ruangan dengan meyingkapkan sedikit gorden yang menutupi pintu ruangan tersebut.

 

Belum ada tanda-tanda Guru Goo akan membubarkan kelas sebelum bel berbunyi.

 

Soyou melepaskan kedua sepatunya dan memutuskan untuk berbaring disalah satu ranjang.

 

“Cklek!”

 

Soyou bangkit dari ranjang tersebut ketika mendengar tanda-tanda pintu akan dibuka. Soyou

 

“Lho?” Soyou menggembungkan pipinya ketika melihat bukan kedua sosok sahabatnya yang datang ketika sosok tersebut menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

 

Sosok tersebut masuk setelah menutup pintu dengan perlahan. Soyou melipat kedua tangannya diatas dada. “Mau apa kau kesini?” Tanya Soyou ketus.

 

Minho menyunggingkan senyumnya sembari menggaruk surainya yang tidak gatal. Ya sosok tersebut adalah Minho. “Kau sakit?” Tanya Minho balik tanpa menjawab pertanyaan Soyou. Minho beranjak menuju ke kotak P3K yang tergantung didekat meja petugas ruang kesehatan yang harusnya ada disitu.

 

Soyou tak menjawab dan malah mendengus kesal. Minho yang mendengar dengusan itu hanya mengendikkan bahunya. “Kau sakit apa?” Tanya Minho sekali lagi.

 

Soyou memutar bola matanya dan mengacungkan kedua kepalan tangannya pada punggung Minho. Dia kan berencana menghindari laki-laki ini , tapi kenapa sekarang malah seperti dia yang membuat kesempatan agar mereka bisa berdua? Rutuk Soyou dalam pikirannya.

 

“Sakit mata!” Jawab Soyou dengan ketus.

 

Minho membalikkan tubuhnya. Dan Soyou langsung menutup mulutnya. Perasaannya mulai tak enak ketika Minho beranjak mendekati dirinya yang tengah terduduk diatas ranjang.

 

Minho menggeretakkan giginya sembari sembari menatap Soyou dengan pandangan menusuk. “Kau…”

 

“Cklek!!”

 

“Kyaaa!!! Jiyeonnie! Kangjji!” Seru Soyou sembari turun dari ranjang tersebut setelah mendorong tubuh Minho , Soyou langsung berlari menghampiri kedua sahabatnya itu.

 

“Ayo cepat pergi dari sini!” Seru Soyou sembari menggandeng kedua tangan sahabatnya dan langsung berlari meninggalkan Minho yang haru menghela nafasnya melihat sikap kekanakan gadis yang sudah lama mencuri perhatiannya itu.

 

Minho menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terus menghela nafasnya. Tak sengaja Minho melirik benda yang berada didekat kakinya , diambilnya benda tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

 

“Dasar anak itu! Ckck..” Decak Minho sembari berjalan meninggalkan ruangan kesehatan menuju kelasnya.

 

***

 

“You-ah mana sepatumu?” Tanya Jiyeon ketika mereka sampai diparkiran sekolah mereka.

 

Soyou melirik ke arah kakinya. Pantas saja dia merasa tidak nyaman ketika berlari tadi. Soyou mengerucutkan bibirnya sembari membuka pintu mobilnya. “Pasti tertinggal diruang kesehatan tadi!” Sahut Soyou kemudian mengambil sneakers yang ada dibagasi mobilnya. Untung saja dia selalu membawa barang-barang cadangan. Bukan hanya sepatu , tapi juga baju , make up , dan alat lainnya yang bisa mempercantik atau mendukung penampilannya disaat keadaaan darurat.

 

Setelah mengambilnya Soyou beralih ke jok depan , mengambil alih untuk mengemudi. Sementara Jiyeon duduk disampingnya dan Jiyoung dibelakang.

 

“Kenapa Si Kurus itu bisa bersamamu , you-ah?” Tanya Jiyoung ketika mereka sudah masuk kedalam mobil merah maroon milik Soyou.

 

Soyou menggeleng cepat , “Aku juga tidak tahu! Aku pikir tadi kalian yang masuk , tak tahunya dia.” Sahut Soyou sembari menolehkan kepalanya kebelakang untuk memundurkan mobilnya.

 

“Tapi untungnya kalian cepat datang kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padaku karena telah membuatnya dihukum Goo Seongsaenim! Huh..” Lanjut Soyou diakhiri dengan helaan nafas. Soyou mulai memutar kemudinya dan keluar dari gerbang StarShinee High School.

 

“Yasudah lebih baik jangan bahas Minho lagi.” Usul Jiyeon diamini oleh Soyou dan Jiyoung. “Oh iya , Kangjji kita jadi kerumahmu kan?” Tanya Jiyeon yang duduk disamping kemudi Soyou sembari memutar tubuhnya dan menghadap ke Jiyoung.

 

Jiyoung mengangguk antusias sembari tersenyum lebar. “Kalau begitu kita ke Pretties dulu ya..” Ucap Jiyeon pada Soyou. “Aku mau membeli kutek…” Lanjut Jiyeon.

 

“Oh yasudah.” Soyou langsung membanting stir kekiri dan pergi menuju toko aksesoris langganan mereka.

 

***

 

Sesampainya di Pretties Jiyeon dan Jiyoung langsung masuk tanpa menunggu Soyou. Jiyeon sudah tidak sabar membeli cat kuku baru untuk kuku-kukunya yang baru saja dikikir tadi. Sedang Jiyoung yang awalnnya tidak ingin membeli apa-apa jadi ingin membeli tali rambut baru untuk menambah koleksinya.

 

Klinnning…

 

Bel pintu berbunyi ketika Soyou memasuki toko tersebut. Soyou mengedarkan pandangannya mencari sosok kedua sahabatnya.

 

“Aku tidak mau tahu! Yang jelas , kalung itu hilang ketika aku disini! Dan sekarang aku minta pertanggungjawaban dari kalian.” Soyou langsung menolehkan kepalanya ke arah kasir yang juga menjadi tempat penitipan barang yang dibawa oleh pengunjung.

 

Terlihat oleh Soyou seorang gadis yang tengah memarahi petugas kasir yang kebingungan. Soyou berinisiatif menghampiri tempat pembayaran tersebut. “Ada apa onnie?” Tanya Soyou pada petugas kasir yang ternyata sudah cukup akrab dengannya karena Soyou yang memang adalah langganan toko aksesoris tersebut.

 

“Ini Soyou-ah , pelanggan ini tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa kalungnya hilang ketika dia  sedang berbelanja.” Ucap kasir yang bernama Yoon Bora tersebut sembari menunjuk ke arah gadis berambut panjang terurai yang cukup anggun dan cantik.

 

“Jadi kalian kembalikan kalungku atau aku laporkan kasus ini pada pihak yang berwajib?!” Seru Gadis tersebut pada Bora

 

Soyou melihat ke arah gadis yang menurutnya pasti lebih muda darinya. Entah karena insting sesama wanita cantik atau bukan , Soyou langsung memperhatikan gadis tersebut dari atas ke bawah.

 

“Maaf memangnya kehilangannya dimana? Apa kau yakin kalungmu hilang disini?” Tanya Soyou kemudian. Dia tidak bermaksud menuduh gadis itu berbohong hanya saja selama dia datang belanja aksesoris di toko ini , Soyou tidak pernah sekalipun kehilangan barangnya.

 

“Kau meragukanku?” Tanya gadis tersebut dengan nada tinggi.

 

“Ada apa you-ah?” Tanya Jiyoung sembari menggelayut dilengan Soyou diikuti Jiyeon yang berjalan dibelakangnya. Rupanya suara tinggi gadis ini mengundang banyak perhatian pengunjung toko tersebut.

 

“Orang ini kehilangan kalungnya.” Ucap Soyou memberitahu Jiyeon.

 

Jiyoung berjongkok dan kemudian mengambil sesuatu dari bawah kakinya. “Apa ini?” Tanya Jiyoung kemudian sembari mengangkat tinggi barang yang baru saja dia ambil pada orang-orang yang berkerumun disekitarnya.

 

Gadis tersebut langsung mengambil barang yang dipegang Jiyoung dengan cepat. “Kembalikan kalungku!” Ucapnya dengan ketus.

 

Jiyoung mengerjapkan matanya kaget , sementara Soyou mencoba menahan tubuh Jiyeon yang sepertinya ingin menyerang gadis ketus tersebut.

 

“Bukannya berterimakasih malah bersikap kurang ajar!” Seru Jiyeon pada gadis tersebut.

 

Gadis tersebut langsung mengambil bungkusan yang mungkin adalah barang belanjaannya dan berlari keluar toko. Kerumunan disekitar Soyou dan teman-temannya pun perlahan bubar dan meneruskan kegiatan berbelanja mereka.

 

Soyou menatap ke arah Bora , “Kau tak apa-apa kan , Onnie?” Tanya Soyou.

 

“Iya aku tak apa-apa. Terimakasih ya untung ada kalian..” Sahut Bora sembari tersenyum. “Tadi bahkan dia sempat mengancam akan melaporkan toko ini ke polisi..” Lanjut Bora.

 

Jiyeon tersenyum ke arah Bora sembari menyerahkan barang yang sudah dicarinya dan barang belanjaan milik Jiyoung. “Gadis itu siapa sih , Onnie?” Tanya Jiyeon.

 

Bora mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Dia pelanggan baru.” Jawab Bora sembari menyerahkan barang milik Jiyeon dan Jiyoung yang sudah dibungkus.

 

Jiyeon meraba sakunya dan kemudian menepuk keningnya. “Dompetku ada ditas. Kangjji pakai uangmu dulu ya?” Pinta Jiyeon pada Jiyoung.

 

“Dompetku juga ada ditas. Dan tasnya dimobil…sebentar ya..” Jiyoung berancang-ancang hendak keluar ketika Soyou menahan tubuhnya.

 

“Makanya jangan langsung masuk begitu saja. Sudah biar aku saja yang mengambilkan uangnya…” Ucap Soyou pada duo Ji yang hanya memamerkan senyumnya ketika dinasehati Soyou.

 

“Sebentar ya , Onn..” Ucap Jiyeon pada Bora.

 

“Onnie , coba tunjukkan sulap sparking glittermu!” Pinta Jiyoung antusias membuat Soyou yang hendak keluar mendesah kecewa karena tak akan dapat menyaksikan pertunjukkan Bora.

 

Klinnning…

 

“Hanya masalah kecil , Oppa…”

 

Telinga Soyou menangkap suara percakapan gadis yang membuat keributan didalam toko tadi ketika Soyou hendak pergi kemobilnya. Gadis itu sepertinya tengah mengadu kepada seseorang diseberang sambungan telefon.

 

Soyou memutuskan untuk tidak perduli dengannya dan tetap melangkah menuju mobilnya. Diambilnya dompet berlogo LV yang ada ditasnya.

 

“Tenang saja Oppa. Serahkan saja Minho Oppa padaku…Aku pasti akan…” Gadis tersebut menatap curiga ke arah Soyou yang mendadak berhenti disampingnya. Membuat Soyou langsung melanjutkan langkah masuk kedalam toko.

 

Soyou menangkap sebuah nama yang menarik perhatiannya disebuah percakapan terakhir yang didengar olehnya. Terbesit dipikirannya kalau Minho yang dimaksud gadis tadi adalah Minho , Si Kurus yang selalu menganggunya. Namun buru-buru dihapuskannya pikiran itu ketika mengingat nama Minho itu sangat pasaran dan tidak mungkin hanya ada satu Minho

 

“Dunia ini kan luas…” Ucap Soyou dan melangkah pasti menghampiri kedua sahabatnya.

 

***

 

Soyou bersenandung kecil sembari terus berlari dengan tempo yang konsisten. Dia kini tengah melakukan rutinitas akhir pekannya berolahraga pagi sebelum siang nanti akan pergi bersama kedua sahabatnya.

 

Soyou biasanya akan berlari kecil disekitar taman komplek perumahannya. Taman tersebut biasanya ramai oleh orang-orang yang juga mau berolahraga sepertinya. Di taman tersebut memang terdapat beberapa fasilitas penunjang kegiatan olahraga seperti lapangan , kolam renang , dan tempat gym. Kali ini Soyou mengenakan training hitam panjangnya dengan sebuah headset yang terhubung pada music player menyumpal telinganya berniat untuk mengitari lapangan untuk rute larinya hari ini.

 

“Loving you. ~ u…u…u…u…” Soyou menyenandungkan lirik lagu kesukaannya dengan mulut yang dimajukan mengikuti akhiran lirik tersebut.

 

Soyou langsung berlari ditempat ketika melihat seekor kucing kecil berada ditengah jalan yang hendak dilewatinya. Soyou menghentikkan langkahnya dan menundukkan tubuhnya. Diusap puncak kepala kucing kecil tersebut dan diambilnya untuk kemudian dipindahkan kebawah pohon rindang yang menurutnya cukup aman untuk kucing tersebut.

 

Kalau saja ibunya tidak alergi kucing, mungkin Soyou akan membawanya pulang dan memeliharanya. Sayangnya alergi ibunya terhadap kucing itu sudah mencapai stadium tertinggi yang bahkan ketika Soyou pulang nanti pun alergi ibunya akan kambuh , apabila mencium bau Soyou baru saja memegang kucing.

 

“Kau disini saja. Jangan ketengah lagi , nanti tubuhmu bisa terinjak para monster berkaki besar!” Ucap Soyou mencoba menakuti kucing tersebut.

 

“Buuuk!”

 

“Aww…”

 

Soyou langsung memegangi kepalanya ketika merasakan sesuatu menghantam tepat ke arah kepalanya. Tidak terlalu keras memang , tapi tetap saja itu mengejutkannya.

 

“Kau lagi!” Seru Soyou ketika mendapati Choi Minho yang menghampirinya dan mengambil bola basket yang baru saja memberikan sapaan selamat pagi pada kepalanya.

 

“Jangan bodoh! Mana ada monster berkaki besar? Dasar tukang khayal!” Seru Minho sembari menoyor kepala Soyou. Soyou merengut sebal akan perlakuan yang diterimanya.

 

Soyou beranjak berdiri dan meletakkan kedua tangannya dipinggang menatap Minho yang sekarang tengah menggoda kucing kecil yang baru saja dipindahkan Soyou tersebut. “Siapa bilang aku tukang khayal?!” Seru Soyou lantang pada Minho. Membuat Minho mengerutkan keningnya dan menaikkan sebelah alisnya sembari menyunggingkan senyuman meremehkan ke arah Soyou.

 

“Apa maksudmu…”

 

“Awww!!”

 

Soyou langsung berlari menjauh dari Minho setelah menginjak kaki Minho dengan kuat.

 

“Apa yang kau…”

 

“Kau adalah salah satu monster berkaki besar!!” Ucap Soyou sembari berlari ditempat. Jaraknya sudah beberapa meter dari Minho kini.

 

Minho memegangi kaki dibalik sepatunya yang baru saja diinjak oleh Soyou. Sementara Soyou langsung berlari cepat ketika melihat ancang-ancang Minho yang seperti hendak mengejarnya.

 

“Kenapa sih dia itu selalu muncul dihadapanku?!” Gerutu Soyou sembari terus berlari. Kini ritme langkahnya menjadi lebih pelan dari sebelumnya ketika dia rasa langkahnya sudah cukup jauh dari Minho. Dia kini Soyou langsung membelokkan langkahnya dan memutuskan untuk pulang daripada harus bertemu Minho lagi.

 

***

 

TBC

Well readers , especially for Star1 ^^ How is it?

Please comment after you read it^^ Bisa komen langsung di kolom komentar , bisa juga lewat :

twitter : @lidya_Natalia

facebook : LidyaNatalia Elffishy

whatsaap : 083879565613

 

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s