Sistar – Exo Fanfiction | Don’t Go | Dasom– D.O | Hurt– Romance – Twoshoot

dkd_副本1 

Don’t Go

 

 

 

.: by Lidya Natalia:.

Cast : Kim Dasom , Do Kyungsoo ,

Support Cast : Lee Jongsuk , Kim Woobin , Park Luna , Choi Sulli , etc

Pair : DaD.o

Genre : Romance , Hurt/Comfort , Straight

Rating : T

Length : Two Shoot

Disclaimer : They’re belong  both to God and theyself. But the plot and the story originaly belong to  me.

Warning : Typo(s) , OOC , DLDR , Bash not allowed!!

 

.

 

.

 

 

*BMG : 365 , Dont Go , Black Pearl by EXO

 

Dasom menyunggingkan senyumannya ketika memandang benda yang baru saja dia beli bersama kekasihnya.  Sebuah bandul berukiran DK dan KD , Dasom memegang inisial DK sementara inisial KD disimpan oleh sang kekasih.

 

 

 

“Gomawo , Oppa…” Sahut Dasom sembari bergelayut manja dilengan laki-laki yang ukuran besar dan tinggi tubuhnya tidak terlalu jauh dengannya itu.

 

 

 

Sang kekasih balik tersenyum membalas sahutan Dasom sembari mengusak surai Dasom dengan penuh rasa sayang.

 

 

 

“Akan kau letakkan dimana inisial namaku itu , Oppa?” Tanya Dasom masih bergelayut manja. Mereka kini tengah dalam perjalanan pulang dari acara kencan mereka.

 

 

 

“Entahlah , mungkin dirumah…” Sahut sang kekasih singkat.

 

 

 

“Kenapa dirumah? Apa kau tidak berniat memakainya?” Tanya Dasom sembari mengerucutkan bibirnya. Sang kekasih benar-benar tidak terlihat antusias dengan couple things mereka ini.

 

 

 

Sang kekasih menggeleng. “Aku tidak mau terlihat mencolok.” Ucapnya singkat namun tepat sasaran menusuk hati terdalam Dasom hingga gadis itu langsung melepaskan gelayutan manjanya pada namja berkulit putih susu sepertinya itu.

 

 

 

Dasom tersenyum miris , hampir saja dia lupa. Well , bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal sepenting ini bahwa hubungannya dengan sang kekasih tidak diketahui siapapun , hanya mereka berdua yang tahu bahwa mereka saling terikat dan berhubungan satu sama lain. Mengenakan couple things bukankah terlalu mencolok? Terlebih mereka sekelas.

 

 

 

Ya mereka memang masih menyandang status sebagai murid disalah satu sekolah.  Dengan pencitraan berbeda yang melekat diantara keduanya membuat mereka tak dapat terang-terangan mengakui didepan teman-teman mereka bahwa mereka mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman sekelas.

 

 

 

Sebenarnya Dasom tidak keberatan sama sekali mengakui hubungan mereka , tapi sang kekasih yang menyandang sebagai murid berprestasi disekolah mereka sama sekali keberatan bila hubungan mereka diketahui khalayak. Alasannya klise , karena tidak mau memalukan Dasom yang notabene adalah primadona sekolah –ini menurutnya-  mereka , sang kekasih berpenampilan layaknya anak pintar kebanyakan , kacamata tebal , baju rapi dengan kancing tertutup sampai kerah , dan sikap tertutup yang selalu serius. Yang biasa disebut anak culun oleh orang-orang seperti Dasom. Sebenarnya kekasihnya bukan tipe orang yang tak tahu fashion sama sekali karena penampilannya sangat berbeda bila diluar atau bila bersama dengannya.

 

 

 

Dasom memandang ke arah sang kekasih yang sepertinya tidak perduli dengan perubahan sikapnya. Mungkin sebenarnya sang kekasihnya yang malu karena berpacaran dengan orang bodoh seperti dirinya. Begitu pikir Dasom. Ya , Dasom bukanlah murid yang cukup pintar disekolahnya.

 

 

 

“Tapi aku mau terlihat mencolok. Aku akan memakainya sebagai gantungan handphoneku…” Ucap Dasom yang kemudian menghentikkan langkahnya sembari menggenggam inisial DK tersebut. Dasom menolehkan kepalanya ke arah sang kekasih yang juga menghentikkan langkahnya , dia sedikit terkejut ketika laki-laki dihadapannya ini turut memandangnya dengan mata yang hampir keluar. “Bagaimana kerenkan?” Tanya Dasom sembari tersenyum miris sembari melanjutkan langkahnya.

 

 

 

“Dan apabila ada yang bertanya apa arti dari inisial ini…” Dasom membalikkan tubuhnya , menatap Sang kekasih yang mulai kesal –mungkin- dengan tetap melangkah mundur.

 

 

 

Gadis tersebut melemparkan senyum kecewanya pada sang kekasih yang masih terpaku ditempatnya “Akan ku jawab DK untuk Do Kyungsoo…”

 

 

 

***

 

 

 

Dasom melangkahkan kakinya dengan gusar , dia ingin buru-buru sampai disekolah tepatnya dikelas mereka. Perasaannya tak enak karena telah memancing kemarahan Kyungsoo nya kemarin. Dia yang biasanya berangkat ke sekolah 15 menit sebelum bel berbunyi , kini masih setengah jam lagi dan dia sudah tiba disekolahnya.

 

 

 

Biasanya memang Kyungsoo selalu datang pagi-pagi sekali.

 

 

 

“Hosh…Hoshhh….” Dasom mengatur nafasnya ketika baru sampai diambang pintu kelasnya. Dan benar tebakannya kalau Kyungsoo sudah berada dikelasnya , dan hanya seorang diri. Dasom tersenyum dalam usahanya mengatur nafas ketika dia lihat Kyungsoo memandang terkejut kearahnya.

 

 

 

Dasom berjalan menghampiri Kyungsoo atau  yang  lebih sering dia panggil Dio tersebut.

 

 

 

Dio mengedarkan pandangannya kekanan dan kekiri. “Kau kenapa Som-ah?” Tanya Kyungsoo yang bingung dengan kehadiran Dasom dipagi-pagi buta seperti ini.

 

 

 

Dasom masih berusaha menstabilkan deru nafasnya yang masih tersengal karena berlari menuju kelasnya tadi. Dia masih menunduk sembari terengah dan belum menjawab pertanyaan dari Dio. Namun Dasom langsung mengangkat kepalanya tatkala dia rasakan tangan Dio mengusap pelan puncak kepalanya.

 

 

 

“Atur dulu nafasmu pelan-pelan…” Pinta Dio disertai dengan senyuman lembut.

 

 

 

Dasom balas tersenyum , “Oppa…”

 

 

 

“Hn?”

 

 

 

“Aku ingin minta maaf tentang masalah kemarin , aku…”

 

 

 

“Ah itu , aku pikir kenapa…” Sahut Dio memotong perkataan Dasom. “Dan masalah mengenai couple things itu kau boleh menjadikannya gantungan handphonemu , Som-ah..” Lanjut Dio lagi.

 

 

 

Dasom mengerutkan keningnya namun sejurus kemudian dia mengembangkan senyumnya. “Benarkah?”

 

 

 

Dio mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan  Dasom.

 

 

 

“Kau tidak marah?”

 

 

 

Dio kembali menggeleng. “Tapi….” Perkataan Dio terhenti. Dia bingung bagaimana cara meminta Dasom untuk tidak mengatakan itu inisial namanya apabila ada yang bertanya.

 

 

 

“Aku mengerti Oppa. Akan aku jawab ini Dasom Kim bila ada yang bertanya.” Sahut Dasom sembari tersenyum. Untung saja inisial nama mereka sangat familiar atau mirip.

 

 

 

Dio menarik hidung Dasom ketika Dasom menyunggingkan senyumnya. Beruntung sekali dia mempunyai kekasih yang pengertian.

 

 

 

“Wajahmu lucu tadi…hahhhaaaa…” Ledek Dasom sembari tertawa.

 

 

 

“Aish kau ini!” Dio menggerutu ketika Dasom meledeknya dan langsung melepaskan tangannya dari hidung Dasom.

 

 

 

“Hey! Dasom apa yang kau lakukan pada Kyungsoo?!”

 

 

 

Dasom dan Dio sontak menolehkan wajah mereka kesumber suara yang ternyata berasal dari Luna yang tengah berdiri diambang pintu. Dasom memutar bola matanya jengah dan membalikkan wajahnya lagi kearah Dio. Dia mengerucutkan bibirnya dengan sebal ke arah Dio. Dio tahu bahwa raut wajah itu bukan untuknya tapi untuk Luna. Setengah mati Dio menahan tawanya melihat kelakuan Dasom.

 

 

 

Dasom langsung berjalan kearah tempat duduknya dan langsung meletakkan tasnya. Dia langsung duduk dan memasang headset ditelinganya , sama sekali tak ada niatnya untuk menjawab pertanyaan dari Luna yang menurutnya sangat menganggu itu.

 

 

 

Sementara Luna langsung menghampiri Dio ke mejanya dan memandang khawatir ke arah temannya tersebut. “Apa yang  dia lakukan padamu , Kyungsoo-ah?” Tanya Luna.

 

 

 

Dio mendudukkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Luna diikuti oleh Luna yang memang duduk didepannya. “Tidak ada…” Ucapnya sembari tersenyum kecil ke arah Luna.

 

 

 

Luna mendengus kesal sembari memandang ke arah Dasom yang terlihat asik dengan musik yang sedang didengarkannya. “Dasar , gadis berotak tumpul itu selalu saja bersikap seenaknya! Dia pikir kecantikannya itu berguna apa?!” Ucap Luna yang kemudian melirik ke arah Dio yang didapatinya kini tengah membaca sebuah buku teks Fisika.

 

 

 

Luna membalikkan tubuhnya ketika melihat Dio tengah serius dalam kegiatannya. Sementara Dio langsung melirik kearah Dasom , terlihat olehnya tangan Dasom yang terkepal dengan kuat sembari memejamkan matanya namun tubuhnya bergerak kecil seolah menikmati musik yang didengarnya. Dio tahu Dasom pasti mendengar perkataan Luna barusan.  Dan dia sungguh merutuki dirinya yang tidak dapat membela gadis yang dicintainya tersebut.

 

 

 

***

 

 

 

Dasom memainkan kakinya diudara , sementara Dio tengah membaca sebuah soal yang menurutnya cukup rumit. Saat ini mereka berdua tengah mengerjakan peer kimia bersama. Mungkin lebih tepatnya kalau hanya Dio yang mengerjakannya , karena kini Dasom yang sedang membaringkan tubuhnya dengan kepala diatas paha Dio  yang menselonjorkan kakinya , tengah bermain video game.

 

 

 

“Omo! Omo! Aishhh!!” Dasom terus saja menggumamkan kata-kata Omo , Aigo , Aish dan sebangsanya dari tadi. Dio sedikit merasa terganggu karena seringkali Dasom turut menggerakkan tubuhnya ketika mengucapkan kata-kata tersebut.  Namun dia tidak memprotes sedikitpun dan hanya mengelus kepala Dasom dan sesekali menyingkapkan poni Dasom yang mulai menutupi wajahnya.

 

 

 

Sebenarnya Dio sudah merasakan kesemutan menyerang kedua kakinya yang ditiduri Dasom , namun rasa itu tidak disadarinya karena terlalu serius mengerjakan soal kimianya.

 

 

 

Dasom menurunkan kedua kakinya dan meletakkan PSPnya. Dia sudah bosan melihat kata Game Over yang sudah 15 kali didapatnya. Dia mengalihkan pandangannya ke atas , ke arah Dio yang tengah serius mengerjakannya tugas nya sendiri dan dirinya.

 

 

 

“Oppa…” Panggil Dasom manja.

 

 

 

“Hn?” Sahut Dio singkat.

 

 

 

Dasom mengerucutkan bibirnya tanda dia sedang sebal karena respon tak menyenangkan dari kekasihnya , dengan jahil dia colek dagu Dio yang bak lebah bergantung tersebut. “Oppaaaaaaa~..” Panggil Dasom sekali lagi kali ini dia memainkan dagu tersebut dengan terus mencoleknya.

 

 

 

“Dasom hentikkan itu…” Ucap Dio sembari menyingkirkan tangan Dasom tanpa mengalihkan pandangannya dari buku soalnya.

 

 

 

Dasom melipat kedua tangannya diatas dadanya , lalu menghadapkan tubuhnya ke arah sofa atau kekanan hingga wajahnya sukses bersembunyi dan berada tepat didepan perut Dio. Dasom menggesek-gesekkan wajahnya keperut Dio , membuat Dio bergerak gelisah karena merasa geli dan cukup terganggu.

 

 

 

“Som-ahh… apa yang kau lakukan?!” Tanya Dio sembari terus bergerak gelisah sembari meletakkan bukunya diatas karpet lembut tempat mereka duduk dan berbaring.

 

 

 

Dasom menghentikkan kegiatannya , dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dio , Dasom terkikik geli melihat Dio memejamkan matanya sembari mengangkat kedua bahunya hingga lehernya tak terlihat. Kenapa dia sangat sensitif? Batin Dasom sembari terus terkikik geli.

 

 

 

“Oppa kau kenapa?” Tanya Dasom sembari tersenyum geli dan diakhiri tawa olehnya.

 

 

 

Dio membuka matanya dan menormalkan kembali tubuhnya. “Tuk!” Dipukulnya kening Dasom dengan pensil yang berada ditangannya. “Jangan menggodaku!” Serunya lagi.

 

 

 

Dasom mengelus keningnya yang baru saja dicium ujung pensil tersebut , dia mengangkat tubuhnya dan ikut duduk sembari menyandarkan tubuhnya dibadan sofa seperti Dio. “Habisnya kau tidak memperdulikanku! Aku sudah memanggilmu dari tadi!” Gerutu Dasom.

 

 

 

“Aku dengar kok , kau kan tinggal bicara saja..” Ucap Dio kini tengah menuliskan sesuatu diatas bukunya. Sepertinya dia sudah mendapat jawaban atas soal rumit yang diperhatikannya sedari tadi.

 

 

 

Dasom menyandarkan kepalanya ke bahu Dio dan kemudian mengusap perutnya ambigu.

 

 

 

Dio mengerenyitkan dahinya dan memandang bingung ke arah Dasom . “Kenapa?” Tanya Dio.

 

 

 

Dasom menghela nafasnya dan memandang ke arah Dio membuat Dio langsung memalingkan wajahnya karna jarak diantara keduanya yang sangat dekat.  Dasom mengartikan sikap kekasihnya tersebut sebagai suatu ketidakpedulian terhadap dirinya ,  sedangkan Dio sendiri seperti itu karena tak sanggup menahan degupan jantungnya yang bertambah karena Dasom.

 

 

 

Dasom bangkit dari duduknya sembari mengusap perutnya. Dia berjalan ke arah dapur apartementnya. Mencari makanan ringan yang mungkin terselip dikulkasnya atau dirak atas tempat dia biasa menyimpan bahan makanan.  Namun yang dia dapati hanya sebuah minuman sereal instant rasa coklat dan vanilla.

 

 

 

“Oppa , kau mau rasa coklat atau vanilla?” Tanya Dasom dari arah dapur.

 

 

 

Dio mengendurkan kerutannya , baru mengerti akan tindakan Dasom terus mengelus perutnya sedari tadi. Rupanya dia kelaparan. Hampir saja Dio berteriak padanya dan bertanya pada Dasom apa maksud dari tindakannya tersebut karena Dio tidak merasa berbuat yang  “iya-iya” pada kekasihnya tersebut.

 

 

 

“Vanilla saja.” Sahut Dio dari ruang tengah.

 

 

 

Tak perlu waktu lama bagi Dasom , cukup 5 menit dan dia kini sudah menghidangkan segelas sereal rasa vanilla untuk Dio dan segelas sereal rasa coklat untuk dirinya.

 

 

 

“Ini , Oppa!” Ucap Dasom sembari menyodorkan minuman hangat tersebut. Dio melirik ke arah Dasom dan kemudian mengambil minuman tersebut yang langsung dia letakkan diatas meja.

 

 

 

Dasom kembali duduk disamping Dio seperti tadi  , namun daripada bermain video game dia lebih memilih meperhatikkan apa yang sedang dikerjakan oleh Dio sembari pelan-pelan menyesap serealnya dengan sendok kecil.

 

 

 

“Susah ya soalnya?” Tanya Dasom. Dio mengangguk tanpa menoleh kearah Dasom sebagai jawaban.

 

 

 

Dasom melirik Dio , dia heran dengan kekasihnya itu. Apa soal – soal kimia membuatnya melupakan rasa lapar? Dasom menyendokkan minumannya dengan sendok kemudian dia menyodorkannya ke tepat wajah Dio. Dio menolehkan kepalanya melihat Dasom. “Rasakan punyaku!” Pinta Dasom sembari membuka mulutnya membuat bentuk A , mengisyaratkan Dio untuk membuka mulutnya. Dio pun menuruti dan menerima suapan tersebut.

 

 

 

“How is it?” Tanya Dasom.

 

 

 

Dio tersenyum lembut , “Not bad.” Sahutnya sembari mengusak puncak kepala Dasom dan kembali pada soalnya.

 

 

 

Dasom mendengus kesal. Dia langsung meneguk habis minumannya dan melirik lagi ke arah Dio. Dia sudah sangat lapar sekarang , dan tidak bisa ditahan atau ditunda-tunda untuk mengisi perutnya , bahkan minuman sereal tadi pun tidak cukup untuk mengganjal perut bocornya. Ya , meskipun kurus Dasom adalah tipe orang yang banyak makan.

 

 

 

Dasom menarik buku soal yang sedang dikerjakan Dio. “Berapa soal lagi sih?” Tanya Dasom.

 

 

 

Dio menarik kembali buku yang direbut Dasom. “3!” Jawab Dio merasa sedikit terganggu dengan tindakan Dasom.

 

 

 

Dasom memegang lengan Dio bermaksud menghentikkan kegiatan laki-laki tersebut yang sudah berancang-ancang untuk menulis lagi dibuku lainnya. Dio menoleh ke arah Dasom dengan pandangan bertanya. “Aku lapar! Masakkan aku sesuatu!” Pinta Dasom.

 

 

 

Dio kembali pada soalnya , “Sebentar lagi , Som-ah. Setelah soal-soal ini selesai aku akan memasakkan makanan untukmu!” Jawab Dio.

 

 

 

Perlu diketahui selain pintar dalam hal akademik , Dio juga pintar dalam urusan lainnya seperti dalam bidang akademi dan kuliner. Bukankah sempurna? Ya sangat sempurna bagi Dasom. Dan dia sangat bersyukur memiliki Dio.

 

 

 

Dasom memutar bola matanya jengah , kemudian dia langsung menarik kembali buku soal yang sedang digunakan oleh Dio. “Kkau…” Dio mendesis kesal. Ini sudah kesekian kalinya Dasom menganggunya.

 

 

 

Sedang Dasom langsung menghalangi tangan Dio yang berusaha merebut buku itu lagi , Dasom mengamati dengan seksama 3 soal yang belum diselesaikan Dio.

 

 

 

48. Iodium (I2) dapat dibuat melalui reaksi mangan (IV) oksida dengan natrium iodida asam sulfat. Persamaan reaksi setara yang tepat untuk pembuatan senyawa itu adalah…

 

49. Reaksi antara 4 gram logam magnesium (Ar=24) dengan 10 gram HCl dilakukan dalam wadah tertutup sesuai dengan persamaan berikut:

 

Mg(s) + 2HCl (aq) -> MgCl2 (aq) + H2 (g)

 

maka jumlah massa zat yang dihasilkan adalah…

 

50. Untuk memperoleh larutan dengan harga pH = 5 , maka ke dalam larutan HCOOH 0,1M (Ka HCOOH=10 -5) harus ditambahkan garam HCOONa (Mr=68) sebanyak … gram.

 

 

 

Tak butuh waktu lama bagi Dasom untuk mengamati soal tersebut ,  dia langsung mengambil pensil yang berada ditangan Dio dan langsung menuliskan jawaban akan soal-soal tersebut dibuku jawaban yang sudah dipisahkan oleh Dio.

 

 

 

48. MnO2 + 2Nal + 2H2SO4 -> MnSO4 + NaSO4 + 2H2O + I2

 

49. 14 gram

 

50. 6,80

 

 

 

“Sudah selesai kan? Ayo kita kedapur!” Dasom langsung menarik tubuh Dio untuk berdiri dan mendorongnya kedapur yang jarang disentuhnya.

 

 

 

“Kau ini kenapa selalu kekanakkan seperti ini sih?!” Seru Dio sembari menampik tangan Dasom dengan kasar membuat Dasom sedikit terkejut. “Apa kau tidak bisa menunggu sampai aku selesai mengerjakan tugas kita?” Tanya Dio lagi dengan sedikit tinggi. “Itu bukan hanya untukku tapi juga untukmu!”  Lanjut Dio.

 

 

 

Dasom menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir , Dio marah hanya karena ini? “Aku kan sudah menyelesaikannya tadi. Apa kau tidak lihat?” Tanya Dasom dengan nada masih lembut.

 

 

 

“Maksudmu dengan secara asal menulis jawaban dibuku jawaban itu berarti menyelesaikannya? Begitu? Ini bukan main-main Dasom. Kau mungkin terbiasa untuk bermain-main dengan nilai atau pelajaranmu atau hal-hal yang lain. Tapi tidak untukku. Aku tidak bisa membiarkan ada kesalahan sedikitpun. Terlebih untuk soal yang memiliki tingkat kesulitan yang lebih dari soal lainnya!”

 

 

 

“Bersikaplah dewasa sedikit! Apa kau….”

 

 

 

“Cukup!!” Seru Dasom sembari menutup kedua telinganya.

 

 

 

Dasom menatap tajam ke arah Dio ketika laki-laki tersebut diam akan seruannya. “Aku tahu kau dan teman-temanmu dan yang lainnya menganggap aku bodoh! Well , aku memang bodoh! Aku memang selalu bermain-main dengan apapun! Tapi aku tidak akan bermain-main dengan segala hal yang menyangkut tentang dirimu!” Seru Dasom sebelum akhirnya menghentakkan kedua kakinya dan beralih menuju kamarnya dan

 

 

 

“BLAMMM!!!” Dasom membanting keras pintu kamarnya.  Meninggalkan Dio yang agak terkejut dengan amarah yang Dasom keluarkan. Dia hanya berniat untuk menasehati Dasom agar berhenti bersikap manja dan kekanakkan.

 

 

 

Perlahan Dio berjalan menuju ruang tengah , mengambil buku jawabannya dan mencoba mengerjakan ulang soal yang menurutnya dijawab secara asal oleh Dasom agar dia berhenti mengerjakan tugasnya dan memasakkan makanan untuknya. Beberapa kali dia memijat pelipisnya. Mengerjakan soal seperti ini harus teliti , tidak bisa terburu-buru atau kau akan salah menuliskan tanda ataupun uraian lambang-lambang kimia tersebut.

 

 

 

Dio membulatkan matanya ketika melihat jawaban yang didapatnya. Hasil yang dia dapat sama persis dengan jawaban yang dituliskan Dasom.  Tapi…

 

 

 

“Bagaimana mungkin?” Gumam Dio pelan. Bukan, Dio tidak menganggap Dasom benar-benar bodoh dan tak layak berada dalam satu grade yang sama , hanya saja dalam waktu beberapa detik menjawab soal yang –menurut Dio- susah dengan nilai akademik yang dibawah rata-rata itu… Well , Dio memang paling lemah dipelajaran Kimia ini , tapi setahu dirinya nilai kimianya di laporan akhir semester itu jauh lebih tinggi daripada Dasom.

 

 

 

Dio berjalan ke arah dapur , tanpa sadar tangannya mulai melakukan apa yang diminta Dasom sebelum pertengkaran kecil mereka tadi. Dia kembali mengingat-ingat keanehan Dasom yang lalu-lalu. Bukan hanya kali ini. Beberapa waktu lalu juga Dio sempat terkejut ketika mendapati soal fisika yang hendak dia tanyakan pada Lee Seongsaenim sudah terjawab dibukunya ketika dia mengerjakannya di apartement Dasom seperti hari ini. Dia juga pernah mendapati Dasom mengamati soal matematika yang sedang dikerjakan olehnya  sebagai latihan untuk mengikuti olimpiade nasional beberapa bulan yang lalu.

 

 

 

Seperti tersadar dari kesalahannya , Dio merutuki sikap kasarnya pada Dasom tadi. Tidak seharusnya dia berteriak pada Dasom seperti itu , Dasom hanya ingin mendapat perhatiannya yang tidak bisa didapatkannya ketika berada disekolah. Mungkin kekanakkan , tapi bagi Dasom ? Seorang gadis senior high school yang masih manja itu sangat penting.

 

 

 

“Som-ah…” Panggil Dio diambang pintu kamar Dasom dengan sepiring seafood fried rice ditangannya. “Katanya kau lapar.. Aku sudah buatkan makanan kesukaanmu. Keluarlah. Ayo makan , maag mu bisa kambuh bila kau tidak langsung makan…” Ucap Dio mencoba membujuk Dasom untuk keluar.

 

 

 

Namun , seperti sia-sia hingga masakan ditangannya hampir dingin Dasom tak juga membukakkan pintunya. Dio menghela nafas , logikanya mengatakan Dasom tidak akan mau keluar selama dia masih berada disini. Diputuskannya untuk pulang setelah menuliskan sebuah memo dan meletakkan seafood fried rice tersebut dimeja makan Dasom.

 

 

 

“Aku pulang ya , Som-ah… aku akan menghubungimu setelah sampai untuk memastikkan kau menghabiskan makananmu..”

 

 

 

***

 

 

 

Dasom masih pada posisinya ketika memasuki kamarnya tadi. Meringkuk diatas ranjangnya sembari menangis tanpa suara. Dia dengar ketika Dio menyuruhnya makan , dia dengar ketika laki-laki yang menjadi kekasihnya itu berpamitan untuk pulang , dia dengar ketika suara langkah Dio menjauh , dia dengar ketika suara pintu tertutup. Dia dengar semuanya. Namun dia menulikan hati dan pikirannya. Emosi masih menguasai dirinya , seruan terakhirnya pada kekasihnya itu ibarat bom waktu yang sudah tiba saatnya untuk meledak. Meski singkat , namun dia tahu pasti kekasihnya cukup pintar untuk mencerna apa maksud dari perkataannya.

 

 

 

Berkali-kali dia gigit bibirnya untuk menahan suara isakannya yang mungkin saja akan keluar.

 

 

 

“Ting! Nong! Ting! Nong!”

 

 

 

Dasom mengerutkan keningnya ketika mendengar bel pintunya berbunyi. Mencoba menerka apakah benar itu bel untuknya atau mungkin untuk penghuni disebelahnya.

 

 

 

“Ting! Nong! Ting! Nong!”

 

 

 

Dasom mendengar bel kembali berbunyi. Dia cukup yakin bahwa bel tersebut berbunyi didepan apartementnya.

 

 

 

Tapi siapa?

 

 

 

Dio?

 

 

 

Dasom menggelengkan kepalanya.

 

 

 

Dia tahu betul bahwa Dio bukan tipe laki-laki yang akan kembali dalam waktu 1 jam setelah pergi dari rumah kekasihnya. Dasom tahu betul itu.

 

 

 

Atau..

 

 

 

Dasom memutuskan untuk berhenti menerka-nerka dan beranjak dari tidurnya untuk membuka pintu.

 

 

 

“Tadaaaa!!!”

 

 

 

Dasom langsung memeluk seseorang yang berdiri dihadapannya yang tengah mengangkat tinggi-tinggi barang apa yang dia bawa , membuat orang tersebut bingung setengah heran.

 

 

 

“Hiks..”

 

 

 

Terdengar isakan kecil yang keluar dari mulut Dasom. Orang yang dipeluk olehnya membalas pelukan tersebut.

 

 

 

“Das…om…” Terdengar seruan lainnya dari orang yang baru saja datang. Orang tersebut turut merasa bingung dengan Dasom yang menenggelamkan wajahnya sembari terisak. Orang yang dipeluk Dasom langsung menolehkan kepalanya. Dia mengangkat kedua bahunya ketika melihat sorot mata pertanyaan “Ada apa?” dari temannya tersebut.

 

 

 

***

 

 

 

“Mianhae , Oppa. Aku membuat kalian jadi bingung…” Ucap Dasom pada kedua orang laki-laki yang baru saja datang ketempat tinggalnya , Kim Woo Bin dan Lee Jong Suk. Mereka berdua adalah saudara sepupu sekaligus sahabat Dasom dari kecil. Woobin saudara Dasom yang berasal dari keluarga Ayahnya , sementara Jongsuk saudara Dasom yang berasal dari keluarga Ibunya.

 

 

 

Keduanya menggeleng menandakan tidak apa-apa. Woobin mengusak puncak kepala Dasom yang kini tengah membaringkan kepalanya diatas paha Woobin sementara kakinya berada diatas paha Jongsuk. Dasom memang sudah terbiasa bermanja-manja pada kedua temannya itu , selain dengan Dio. “Apa ada yang menganggumu , dear?” Tanya Woobin penasaran.

 

 

 

Dasom menggelengkan kepalanya. “Ani.” Sahutnya singkat. Tidak mungkin tidak ada apa-apa , jejak air mata Dasom saja masih sangat terlihat jelas , dan dilihat dari matanya yang bengkak sudah pasti Dasom telah menangis untuk waktu yang tidak sebentar. Begitu pikir keduanya.

 

 

 

“Lalu?” Tanya Jongsuk kali ini.

 

 

 

Dasom mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia bingung mau menjawab apa. Dia tidak terbiasa berbohong pada kedua saudaranya ini , namun dia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya terjadi pada keduanya karena ini adalah masalah internal dalam hubungan pribadinya.

 

 

 

Melihat gelagat Dasom yang seperti masih belum mau bercerita membuat Woobin langsung menepuk pundak Jongsuk. “Hey Jongsuk! Sudahlah! Daripada membahas hal-hal yang tidak nyaman seperti ini lebih baik kita setel saja DVD film yang baru kita beli tadi!” Serunya membuat Dasom melirik ke arah mereka secara bergantian.

 

 

 

Dasom bangkit dari tidurnya dan mendudukan dirinya diantara mereka berdua , lalu menatap keduanya bergantian. “Film apa?!” Tanya Dasom antusias.

 

 

 

“Tadaaaa!!!” Woobin kembali mengulangi ucapannya ketika melihat Dasom pertama kali tadi.

 

 

 

“SUNNY?” Baca Dasom pada cover dvd tersebut.

 

 

 

“Nde!” Sahut Jongsuk. “Kau pasti akan terhibur dan melupakan kesedihanmu dengan menonton film ini!” Lanjut Jongsuk percaya diri.

 

 

 

“Jeongmalyo?!” Tanya Dasom tak percaya. Jongsuk mengangguk cepat. “Apa  oppa pernah menonton ini sebelumnya?” Tanya Dasom lagi.

 

 

 

Jongsuk menggaruk rambut bagian belakangnya yang tidak gatal kemudian tersenyum paksa ke arah Dasom , “Belum sih. Tapi kalau dilihat dari judul pasti seru!” Sahut Jongsuk lagi.

 

 

 

Dasom akhirnya mengambil DVD tersebut dan memutarnya di dvd player.

 

 

 

“Lihat!!” Kali ini Jongsuk mengeluarkan berbagai makanan ringan yang sebelumnya sudah mereka siapkan. Tak mungkin kan menonton tanpa memasukkan sesuatu kedalam mulutmu. Ah , akan sangat bosan bila ternyata begitu.

 

 

 

“Wah! Kau bawa banyak Oppa?” Tanya Dasom. Jongsuk mengangguk.

 

 

 

“Kebetulan sekali aku sangat lapar!” Seru Dasom sembari membuka salah satu bungkus makanan.

 

 

 

“Hey! Hey! Filmnya sudah mau dimulai! Tenang sedikit!” Seru Woobin. Dasom langsung duduk ditempatnya semula , diantara Woobin dan Jongsuk.

 

 

 

Tayangan yang pertama terputar adalah seorang ibu yang bangun pagi dan hendak bersiap-siap untuk melakukan ritual paginya. Dasom mulai menyenderkan bahunya ke sandaran sofa , matanya mulai serius menatap layar kaca meski tangannya tak ayal turut serius dengan makanan ringannya.

 

 

 

***

 

 

 

Dasom kembali menarik lembaran tisu dari kotaknya yang berada diatas meja 3 kali. Dia berikan lembaran tisu yang pertama dan yang kedua untuk Woobin dan Jongsuk yang berada dikanan dan kirinya , sementara sisa lembaran terakhir dia gunakan untuknya.

 

 

 

“Hiks! Katanya kalian akan menghiburku …hiks… tapi kenapa malah membuatku …hiks… menangis… hiks…huweee Chun Hwa!!!!” Isak Dasom untuk yang kesekian kalinya.

 

 

 

“Kami juga …hiks… tidak tahu , Sommie-ah… hiks… bagaimana kau ini Jongsuk?!” Kali ini Woobin berusaha membela diri dari tuduhan Dasom dengan menimpakannya pada Jongsuk yang memang memilih judul ini tadi.

 

 

 

Dasom kembali mengambil satu lembar tisu dan mencoba menghapus air mata Woobin yang semakin deras mengalir ketika berbicara , “Hiks… jangan menangis , Oppa!” Seru Dasom pada Woobin kemudian.

 

 

 

Jongsuk mengambil lembaran tisu lagi , “Aku tidak sempat …hiks… baca sinopsisnya tadi …hiks…” Timpal Jongsuk.

 

 

 

Dasom membersihkan cairan yang terus keluar dari mata dan lubang hidungnya sembari tetap fokus menonton , adegan kali ini adalah adegan ketika para member SUNNY tengah berada didepan rumah Suji. Meski belum sampai pada akhirnya , Dasom , Jongsuk dan Woobin sudah yakin apa yang akan terjadi pada Chun Hwa oleh karena itu mereka masih terus terisak meskipun mereka sempat tertawa tadi ketika melihat adegan yang menurut mereka lucu.

 

 

 

“Kenapa kalian ikut menangis …hiks… malu sama tinggi badan kalian …hik…hiks… Oppa….!!” Seru Dasom masih dengan terisak.

 

 

 

Well , as all you know guys ~ , Jongsuk dan Woobin merupakan salah satu kakak kelas Dasom yang memiliki reputasi sebagai siswa-siswa nakal –namun tampan. Meski mereka mempunyai wajah yang terkesan imut  -dibandingkan dengan wajah para tentara militer ,  tidak ada yang berani dengan mereka. Hampir semua siswa disekolah mereka tahu dan takut dengan kedua laki-laki tersebut.

 

 

 

Mereka terkenal kasar , arogan dan seenaknya. Makanya meski banyak yang suka dengan mereka karena wajahnya , tak sedikit pula yang membenci mereka karena sikapnya.

 

 

 

Namun semua itu berubah ketika mereka sedang berhadapan –atau ketika bersama Dasom. Mereka berubah menjadi seorang kakak yang bersikap manis dan terlalu memanjakan adiknya. Hanya Dasom yang tahu bahwa mereka berdua bisa menangis hanya karena sebuah drama , bahkan kedua orang tua mereka –Jongsuk dan Woobin- pun tidak tahu kalau ternyata anak tunggal mereka itu masih punya air mata.

 

 

 

 

 

***

 

 

 

“YA!! Kim Dasom!!” Seru Heo Seongsaenim. Guru yang mengajar Kimia tersebut kini tengah membagikan hasil dari pekerjaan rumah para siswanya. Awalnya dia memanggil dengan tenang sesekali dia tersenyum kepada siswa yang mendapatkan nilai bagus , namun tidak ketika giliran Dasom.

 

 

 

Dasom menutup telinganya ketika mendengar teriakan guru Kimia yang biasa didengarnya tersebut. Dia bahkan sudah menduga sebelumnya bahwa Heo Seongsaenim akan berteriak padanya.

 

 

 

Melihat itu Heo Seongsaenim mendengus kesal , “Aishh Jinjja!! Berani-beraninya kau!” Seru Heo Seongsaenim ketika melihat Dasom malah menutup telinganya.

 

 

 

Dasom beranjak dari duduknya dan menghampiri guru Kimia tersebut. “Iya Saem..” Sahutnya dengan nada lugu. Moodnya yang sudah sempat membaik karena kedua sepupunya mendadak menjadi jelek ketika masuk kekelasnya tadi pagi. Namun itu bukan alasan untuknya menunjukkan wajah kesalnya pada Guru yang suka berteriak-teriak itu.

 

 

 

“Lihat!” Seru Heo Seongsaenim sembari mengangkat tinggi-tinggi buku Dasom yang menunjukkan pekerjaan rumah Dasom kepada seisi kelas. Disitu tertera sebuah nilai dengan tinta merah. 6.

 

 

 

Dasom melirik kebelakang , mendeathglare teman-temannya yang tengah menertawakannya. Dia mendengus dalam hati mengutuk setiap orang yang mengeluarkan suara yang memuakkan ditelinganya itu.

 

 

 

Dasom mengambil buku ditangan gurunya tersebut sembari langsung mendekap buku tersebut. “Bukankah sudah kuingatkan berkali-kali untuk tidak menjawab soal secara asal!” Seru Heo Seongsaenim lagi.

 

 

 

Dasom menghembuskan nafasnya bersiap-siap untuk menutup telinganya lagi , namun niat itu diurungkan mengingat bisa saja dia dipanggil ke ruang BP setelah ini.

 

 

 

“Aku tidak menjawabnya secara asal , Saem. Aku sudah berusaha…” Jawab Dasom sembari mengerucutkan bibirnya. Dasom seringkali tanpa sadar melakukan ini , membuat siapapun yang tadinya hendak marah ataupun hendak membunuhnya mengurungkan niatnya.

 

 

 

“Ba-bagaimana mungkin!” Seru Heo Seongsaenim mencoba tak terpancing dengan aegyo Dasom. “Kau menjawab soal tersebut dengan blok jawaban. Bukankah aku sudah katakan kalau tidak ada yang boleh seperti itu?!” Lanjut Heo Seongsaenim sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas.

 

 

 

“Soal 1 sampai 10 , kau jawab A semua. 11 sampai 20 kau jawab B dan seterusnya. Apa itu maksudmu yang dengan berusaha?” Tanya Heo Seongsaenim. Seisi kelas kembali menertawakan Dasom. Kecuali Luna dan Dio. Luna memandang sinis dan meremehkan ke arah Dasom yang membelakanginya , sementara Dio memandang sedih dan bingung pada Dasom. Tidak mungkin Dasom hanya mampu menjawab 3 soal dengan benar.

 

 

 

Sementara Dasom langsung menyunggingkan senyumnya ke arah Heo Seongsaenim. “Aku benar-benar sudah berusaha kok , Saem.” Ucap Dasom lagi.

 

 

 

“Sudah jangan banyak alasan. Kembali ke tempatmu!!” Dasom langsung kembali ke tempat duduknnya.

 

 

 

“Kau ini ada-ada saja , Som-ah..hahha..” Ucap Sulli , teman sebangku Dasom sembari terus tertawa. Dasom melemparkan deathglare tajam pada Sulli namun hal itu sama sekali tak membuat Sulli menghentikkan tawanya.

 

 

 

“Berhenti tertawa! Ini sama sekali bukan hal lucu , Sulli!” Dengus Dasom sembari mengambil spidol merahnya dari tempat pensil miliknya , dia ingin menghias nilai 6 yang diperolehnya hingga tersamarkan bahwa itu sebelumnya adalah angka 6.

 

 

 

“Do Kyungsoo…” Seru Heo Seongsaenim kembali memanggil siswanya. Kyungsoo langsung maju kedepan menghampiri Guru yang kurang disukainya tersebut.

 

 

 

“Selamat! Kau mendapatkan nilai yang sempurna!!” Ucap Heo Seongsaenim membuatnya seisi kelas langsung riuh menepukkan tangan mereka berkali-kali.

 

 

 

Kyungsoo membungkuk sembari mengucapkan terima kasih. Heo Seongsaenim langsung menarik bahu Kyungsoo dan membalikkan tubuh siswanya tersebut hingga menghadap ke seisi kelas.

 

 

 

“Hey! Kim Dasom!” Panggil Heo Seongsaenim membuat Dasom mendengus sebal karena interupsi tersebut membuatnya berhenti menggoreskan tinta spidolnya.

 

 

 

Dasom mengangkat kepalanya , “Ne , Seongsaenim!” Sahut Dasom.

 

 

 

“Lihat Do Kyungsoo!” Seru Heo Seongsaenim. Sontak Dasom langsung menolehkan matanya ke arah Kyungsoo lalu sedetik kemudian kembali ke Heo Seongsaenim.

 

 

 

“Sudah Seongsaenim.” Sahut Dasom membuat Heo Seongsaenim menahan amarahnya. Seisi kelas kembali tertawa melihat respon Dasom.

 

 

 

“Aishh , maksudku bukan melihat dirinya! Tapi lihat kemampuan otaknya!” Ucap Heo Seongsaenim. “Dia selalu mendapatkan nilai sempurna dimata pelajaran Kimia..” Lanjut Heo Seongsaenim membuat Dasom terdiam. Kyungsoo memandang ke arah Dasom dengan pandangan sendu. Sebagai seorang kekasih , harusnya dia bisa membela Dasom ketika gadisnya itu tengah dipermalukan seperti ini , terlebih dipermalukan karena kesalahan yang seharusnya tidak diperbuat olehnya.

 

 

 

Raut wajah Dasom berubah. Yang semula garis kecerian masih terlukis diwajahnya kini menghilang. Dia memaksakan senyumnya kepada gurunya kimianya tersebut. “Kalau aku mendapatkan nilai sempurna juga. Lalu siapa yang akan mendapatkan predikat siswa terpintar dan terbodoh , Seongsaenim?” Tanya Dasom membuat seisi kelas terhenyak. Dasom kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya menghiasi nilai 6 yang didapatnya.

 

 

 

“Aisshh , kau fikir kau siapa berani berkata seperti itu?!” Desis Luna yang dapat pula didengar oleh seisi kelas.

 

 

 

Dasom kembali menghentikkan kegiatannya , “Harusnya kau berterima kasih padaku. Karena nilaiku yang seperti ini , kau bisa menempati posisi kedua!” Balas Dasom tajam membuat amarah Luna memuncak.

 

 

 

“Dasom….” Sulli memegang lengan Dasom mencoba menghentikan Dasom. Suasana dikelas menjadi tegang. Heo Seongsaenim pun terpaku mendengar perkataan dari Dasom barusan. Dia memang pernah mendengar kabar itu. Tapi…

 

 

 

“Hey! Siapa yang menyuruh kalian berdebat!! Kyungsoo kembali ketempatmu!” Titah Heo Seongsaenim menyela perdebatan tersebut.

 

 

 

“TENG! TENG! TENG! TENG!”

 

 

 

“Nah! Anak-anak jangan lupa kerjakan pr kalian dan berhenti bermain-main. Selamat Siang!”

 

 

 

Seiring dengan perginya Heo Seongsaenim dari kelas karena bel istirahat berbunyi , beberapa siswa kelas 2 A pun berhamburan keluar kelas.

 

 

 

Angka 6 yang tadinya ingin diihias menjadi lucu oleh Dasom malah menjadi sebaliknya , terlihat mengerikan. Namun Dasom masih terus melanjutkan pekerjaannya.

 

 

 

“Hey!”

 

 

 

“Brukk!!”

 

 

 

Tubuh Dasom terhempas ke sandaran kursi ketika Luna dengan sengaja mendorong bahunya. Dasom yang tidak menyadari ancang-ancang perbuatan Luna pun hanya meringis ketika bahunya membentur sandaran kursi.

 

 

 

Kyungsoo bangun dari duduknya ketika melihat tindakan Luna. Dia ingin menghampiri Dasom , namun tubuhnya seperti tertahan dan terpenjara oleh rantai yang mengikat kakinya.

 

 

 

“Apa maksud perkataanmu tadi?!” Seru Luna.

 

 

 

Dasom berdiri dari duduknya dan membenarkan kemejanya. “Kau merasa tersinggung?” Tanya Dasom. “Jadi.. apa perkataanku itu benar?” Tanya Dasom lagi.

 

 

 

Luna yang tersulut amarahnya kembali mendorong tubuh Dasom. Untung Sulli dengan sigap menahan tubuh Dasom sebelum Dasom terjatuh.

 

 

 

“Hey! Luna! Kau ini apa-apaan sih?!” Seru Sulli. “Apa begini cara orang-orang pintar sepertimu meluapkan emosinya?” Lanjut Sulli.

 

 

 

“Aku tidak akan begini kalau dia tidak memulainya!” Sahut Luna. Jujur dia merasa sedikit malu dengan pertanyaan dari Sulli barusan.

 

 

 

“Cih!” Luna kembali melempar pandangan tajamnya ke arah Dasom ketika mendegar Dasom mendecih.

 

 

 

“K-ka..”

 

 

 

“Luna!” Luna langsung menoleh ke arah Kyungsoo yang menyerukan namanya.

 

 

 

“Kita harus menemui Kang Seongsaenim!” Ucap Kyungsoo sembari berjalan ke arah 3 gadis yang tersisa dikelas 2A tersebut. Dia menarik lengan Luna sembari menyelipkan sebuah sobekan kertas ke genggaman Dasom tanpa ada yang menyadari.

 

 

 

“Urusan kita belum selesai!” Desis Luna tajam ke arah Dasom yang dibalas dengan wajah malas menanggapi dari Dasom.

 

 

 

“Hey! Kau tak apa-apa kan?” Tanya Sulli pada Dasom selepas perginya Luna dan Kyungsoo.

 

 

 

Dasom menggeleng sembari tersenyum.

 

 

 

“Lebih baik kita kekantin saja… Ayo…!” Ajak Sulli sembari menggandeng lengan Dasom.

 

 

 

Dasom memasukkan kertas yang diterimanya kedalam kantong roknya.

 

 

 

“Ayo!”

 

 

 

***

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Well , tadinya pengen dibuat One shoot cuma karena ini aja udah panjang banget jadi dibuat twoshoot. So , readers mind leave review?

 

Bisa komen langsung di kolom komentar , bisa juga lewat :

 

twitter : @lidya_Natalia

 

facebook : LidyaNatalia Elffishy

 

Line : natalidya2512

 

 

 

***

 

 

 

 

 

11 thoughts on “Sistar – Exo Fanfiction | Don’t Go | Dasom– D.O | Hurt– Romance – Twoshoot

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s