I’ll Take You Home | Cap – Dasom | Oneshoot

capsom

Tittle : I’ll Take You Home

Cast : Bang Minsoo ‘CAP’ , Kim Dasom , Lee Hyeri

Pair : CAPSOM

Genre : Romance

Rate : Teen

Length : Oneshoot

Author : Firli Isnaeni

Lidya’s Note : Hey Guys , Ini adalah fanfiction baru dari salah satu pembaca ~ Well , bagi kalian yang punya ff sistar dan bingung mau publishnya dimana , kalian bisa kirim ff kalian ke < lidya . bheavygirl @ gmail . com > . Dan I’ll Take You Home ini adalah ff dengan pair CAP – DASOM yang menurut aku this is so fluffy ~ well , buat star1 khususnya dasomania ~ you have to read this..

 

Enjoy

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Dasom menyalakan mesin motornya, bersiap memacu skuter biru kesayangannya turun ke jalan. Sebelum mengendarainya, ia melirik jam tangan berwarna perak yang berada di tangan kanannya. Ia mengangguk setelah melihat jarum jam tangannya menunjukkan pukul setengah sepuluh. Memang waktu yang terlalu malam untuk gadis seumurannya, tapi ia harus segera pulang.

Gadis dengan tinggi 168 cm itu memacu kendaraannya sehati-hati mungkin, menghidari berbagai kecelakaan yang akan membahayakan dirinya. Suhu udara malam ini memang cukup dingin untuk ukuran musim panas, tapi tidak meningkatkan kecepatan motor yang dikendarai Dasom untuk sampai rumah.

Ketika Dasom akan berbelok ke kiri, dari arah kanannya, terlihat sebuah mobil hitam berusaha menyebrang dan terlihat oleng ke kiri. Dasom yang melihat dari spion kaca skuternya langsung membanting stir skuternya kearah kiri yang menyebabkan dirinya terjerembab pada sebuah trotoar besar.

“YAAA!!!” Seru Dasom menunjuk-nunjuk mobil yang nyaris menabraknya. Bukannya berhenti, mobil itu malah semakin merapat pada motornya dan mengakhiri ‘perjalanannya’ dengan melindas ban belakang skuter birunya dan menyebabkan motor itu ringsek pada bagian belakangnya.

Dasom melompat sebelum mobil itu sempat melindasnya. Gadis itu ternganga melihat skuter kesayangannya berada tepat dibawah mobil hitam itu.

Segera gadis berkulit putih itu menggedor pintu mobil terdekat yang berada dijangkauan tangannya. “Keluar kau!!!” Jeritnya yang menyebabkan beberapa orang disekitar melirik kearahnya.

Pintu mobil terbuka, seseorang turun dari mobil. Laki-laki tinggi kira-kira 175 cm dengan tampilan yang lebih mirip preman dengan badan yang terlihat kurus namun berisi.

“Maafkan aku,” ujarnya sambil menunduk pada Dasom. Dasom hanya bertolak pinggang dan terus menatap laki-laki itu dengan marah. “Maafkan aku…” lanjutnya dengan tetap membungkuk pada Dasom untuk kedua kalinya.

“Minsoo Oppa!” Dasom menoleh pada sumber suara dan mendapatkan seorang gadis mungil putih dan berambut panjang berjalan menuju kearahnya dan arah laki-laki yang berada dihadapannya.

Jadi, namanya Minsoo! Jelas Dasom pada pikirannya sendiri.

Gadis itu menghampiri laki-laki itu dengan tatapan terkejut dengan mata yang sembab. Laki-laki yang dipanggil Minsoo Oppa itu menatap gadis itu garang. “Masuklah!” serunya pelan dengan gigi yang terkatup rapat, namun Dasom masih dapat mendengarnya dengan jelas.

Karena gadis itu tidak mematuhi permintaan—dalam bentuk desakkan—yang diluncurkan laki-laki itu, Dasom kembali memfokuskan  pikirannya pada skuter yang sudah mereka lindas.

“Jadi, apa yang akan kalian lakukan dengan skuterku?” tanya Dasom agak menggeram yang membuat laki-laki itu menatap Dasom tak percaya.

Tak ada jawaban. Mereka saling pandang kemudian menatap Dasom. “Apa yang akan kalian lakukan?” ulang Dasom lebih menekankan suaranya.

Laki-laki itu menerutkan kening, seperti sedang berpikir keras. Gadis yang berada disebelahnya hanyak mengusap-usap hidung yang Dasom yakin penuh dengan lendir karena ia sehabis menangis keras.

“Aku akan mengganti semua kerugiannya,” ujarnya pada akhirnya. Dasom melipat tangan pada dadanya. “Sungguh! Aku akan mengganti semua kerugiannya!” ulangnya dengan nada putus asa setelah melihat wajah Dasom yang bertambah kesal.

“Kau akan mengganti kerugiannya kapan?” Dasom menurunkan tangannya. Ia sedikit gelisah dan takut jika pada akhirnya lelaki itu hanya berbohong padanya dan meninggalkannya begitu saja.

“Oppa…” Dasom memutar matanya, kesal karena suara rengekan pelan gadis yang berada didepannya. “Sebaiknya serahkan uangnya sekarang dan kita selesaikan masalah kita dulu.”

“Dan meninggalkan skuterku jadi onggokkan bangkai besi dipinggir jalan?” ketus Dasom, darahnya sudah mulai nyaris mendidih lagi. Pasanggan itu menatap Dasom, yang perempuan menatap Dasom dengan penuh kekesalan seperti Dasom adalah seekor hama besar yang mengganggu ladangnya sementara yang laki-laki menatap Dasom terkejut. Laki-laki itu terlihat mengerutkan kening dan memijat-mijat pelipisnya.

“Oke,” Dasom menunggu, “Aku akan menelepon sebuah bengkel yang kukenal dan membawa skutermu padanya, dan saat itu semua selesai aku akan menghubungimu dengan keadaan skutermu telah seperti semula. Bagaimana?”

“Apa jaminannya?” tambah Dasom cepat setelah yakin laki-laki itu akan berhenti berbicara. Laki-laki itu terdiam. “Serahkan izin berkendaranmu,” Dasom mengadahkan tangannya kedepan laki-laki itu. Laki-laki itu hanya pasrah mengeluarkan dompet kulit hitamnya dari saku belakang celananya kemudian mengeluarkan surat izin berkendara miliknya pada Dasom. “Tanda pengenal,” ujar Dasom. Laki-laki itu menatap Dasom dalam, gadis itu hanya mengangkat sebelah alisnya dan membuat laki-laki itu menuruti kemauan Dasom.

“Apa yang akan kau lakukan dengan izin berkendara dan tanda pengenalku?” laki-laki itu menunjuk dua kartu yang dipegang Dasom.

“Hanya akan menyimpannya sementara sampai kau bisa mengembalikan skuterku dalam keadaan utuh. Bagaimana?”

“Lalu bagaimana kalau aku harus pergi ke suatu tempat yang memerlukan kartu tanda pengenal dan izin berkendara?” tanya laki-laki itu dengan gerakan selangkah mendekati dasom. Reflek, Dasom mundur selangkah menghidari laki-laki itu. Dasom melirik sekilas gadis yang dibawa laki-laki itu.

“Kau bisa memintanya untuk mengendarai mobilmu yang sudah merusak sekuterku,” Dasom menunjuk gadis yang dibawa laki-laki itu dengan dagunya yang lancip. Laki-laki itu menoleh pada gadis yang berada satu meter jauhnya dari dirinya, lalu mengangkat bahu sekilas.

“Aku sedikit tidak yakin ia bisa membawa kendaraan,” ujar laki-laki itu setengah berbisik pada Dasom. Dasom memutar bola matanya. “Baiklah, aku berjanji skuter ini akan segera bisa berjalan lagi seperti lima belas menit yang lalu.”

“Terserah!” kata Dasom kesal seraya menyusupkan tangannya pada tas yang sedari tadi melekat pada punggungnya yang sekarang sudah berada di sisi pinggangnya. Gadis itu mengeluarkan sebuah pulpen berwarna kuning, laki-laki itu menatap Dasom bingung. Dasom meraih pergelangan tangan laki-laki itu, menuliskan sesuatu di lengan bagian dalam tangannya. “Itu nomor ponselku. Jika saja kau sudah selesai membereskan urusan skuterku.”

“Dasom?”

“Hmmm?” jawab Dasom sekenanya saat laki-laki itu memanggil namanya.

“Tidak, hanya memastikan kau benar menulis namamu sendiri,” jelas laki-laki itu yang kemudian meraih tangan Dasom dan pulpen kuning ditangannya, segera ia menulis sebaris nomor pada lengan dalam Dasom. “Jika saja kau membutuhkan sesuatu karena tidak bisa melakukan sesuatu karena skutermu ada padaku.” Tambahnya.

Dasom mengambil pulpen yang berada ditangan laki-laki itu dengan tatapan yang tak bisa ia baca. Dasom membaca nama pada lengannya, “Minsoo,” ujarnya pelan. Saat ia melirik, laki-laki itu hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Dasom.

Selanjutnya, Dasom hanya melihat gerak-gerik laki-laki bernama Minsoo itu yang berusaha menelepon bengkel terdekat dan menenangkan gadis yang sedang bersamanya itu, Dasom juga sedikit mendengar kalau Minsoo akan mencarikan taksi untuk gadis berambut panjang bergelombang itu sementara ia sibuk mengurus skuter milik Dasom.

Gadis itu sepertinya sedang sedih dan tidak ingin jauh-jauh dari Minsoo yang malah membuat Dasom semakin kesal karena hal itu memperlambat kerja dari Minsoo dan tentu saja juga memperlambat keadaan dari skuternya.

Satu jam kemudian petugas dari bengkel yang sudah ditelepon Minsoo datang, Dasom mendekat kearah Minsoo yang malah terlihat jengkel kali ini. Petugas itu memberikan secarik kertas pada Minsoo yang langsung dibaca cepat oleh laki-laki itu serta membubuhkan tandatangan sebelum menyerahkan kertas ganda berwarna pink pada petugas. Dan lima menit kemudian skuternya sudah diangkut pergi oleh para petugas.

“Kuantar kau pulang,” Minsoo membuka pintu mobil bagian belakang dari pengemudi dan menyuruh Dasom masuk.

“Terima kasih, aku bisa pulang naik taksi atau menelepon kakakku atau temanku yang rumahnya berada disekitar sini,” tolak Dasom halus. Minsoo mengerutkan kening, alis matanya yang tebal malah membuat wajahnya terlihat lucu saat menyatukan kedua alisnya.

Minsoo melirik tangannya yang terdapat jam. Refleks, Dasom juga melirik jam tangan peraknya. Setengah sebelas lewat lima belas menit. “Sudah larut untuk kita pulang sendiri-sendiri.” Terangnya sambil menunjuk jok mobil dengan dagunya.

Dasom akhirnya menurut dan duduk di belakang dari pengemudi. Sementara gadis yang bersama Minsoo sudah tertidur pulas di kursi samping pengemudi. Mata sembabnya semakin menunjukkan rasa lelah pada gadis itu.

“Aku akan mengantar Hyeri pulang sebelum mengantarmu pulang.” Ujar Minsoo yang mengagetkan Dasom yang sedang menatap jendela.

Jadi nama gadis ini Hyeri.

Ketika sampai di rumah Hyeri, Minsoo dengan mudahnya mengangkat Hyeri dengan satu tangan dan tangan lainnya menjaga agar kepala gadis itu tidak terbentur. Dan kemudian hanya satu gerakan gadis itu sudah ada di bahu kanannya, dengan tangan kanannya berada di paha gadis itu untuk menutupinya dan tangan lainnya membawa tas dari Hyeri.

“Aku harap kau mau pindah ke samping pengemudi sekarang,” Dasom menoleh kekanannya, Minsoo sudah disana dengan pintu mobil yang terbuka. Dasom yang mulai lelah hanya mengangguk dan keluar dari arah pintu yang Minsoo buka. Gadis itu sekarang sudah berada disamping pengemudi.

Sepanjang perjalanan, Dasom hanya berkata jika Minsoo harus berbelok atau berputar untuk sampai rumahnya. Rasa kesal Dasom sudah mulai menghilang dan digantikan dengan rasa lelah yang luar biasa.

“Maaf,” kata itu membuah Dasom menoleh pada Minsoo saat mereka sudah sampai di depan rumah Dasom. “Maaf sudah bersikap ceroboh dan membuat skutermu menjadi seperti itu. Aku berjanji untuk mengganti semua kerugianmu, walaupun aku harus mengantar jemputmu sebagai pengganti skutermu.”

Helaan napas Dasom terdengar begitu keras, bahkan ditelinganya sendiri.

“Tidak perlu. Kau hanya perlu mengurus skuterku. Itu saja.” Dasom bersiap untuk keluar dari mobil, sebelum keluar ia menoleh sekali lagi pada Minsoo. “Maaf juga sudah bertingkah kasar dan terimakasih sudah mengantarku pulang.”

Minsoo mengangkat tangannya dan mencegah Dasom keluar  mobil. “Sekali lagi, maaf sudah membuatmu kesusahan. Kalau kau butuh kendaraan, kau bisa menghubungiku. Lagi pula aku memang harus berpergian denganmu karena izin berkendaraku ada padamu.”

Dasom nyengir kecil. Ia sendiri lupa kalau izin berkendara Minsoo ada padanya.

“Baiklah. Tentu saja aku akan menghubungimu jika aku akan kesuatu tempat!” ujarnya sebelum keluar dari mobil.

–.—

Bip bip… bip bip…

Minsoo menjulurkan tangannya dari dalam selimut, berusaha mematikan jam alarm yang berada di samping bantalnya. Saat laki-laki itu meraih jam alrmnya, ia memandang jam berwarna merahnya itu lama. Jam 5 pagi. Bukan saatnya alarmnya berbunyi.

Ia menepuk keningnya. Ia lupa bahwa bunyi pesan ponselnya sama dengan bunyi alarmnya. Laki-laki itu berasumsi bahwa Hyeri yang memberinya pesan selamat pagi yang mengganggu seperti biasanya.

Jadi kali ini Minsoo meraba-raba kasurnya mencari ponselnya yang berada diantara sudut kasurnya yang berseprai abu-abu bergaris putih dan hitam kecil.

Ketika mendapatkan ponselnya yang berada dibawah bantal disamping bantal yang ditidurinya, ia membaca layar ponsel. Siapa? Nomor tak dikenal desahnya dalam pikirannya.

Selamat pagi. Hari ini aku harus pergi untuk mengantar susu sebelum pergi ke universitas. Bisa kau datang? Dasom.

Minsoo membaca pesan itu dua kali. Benar-benar memastikan apa dan dari siapa pesan itu. Dan saat ia membaca pesan itu untuk ketiga kalinya, ia langsung melompat duduk dari tidurnya, mencari kaus dilemarinya dan menyambar celana panjang jins dan jaket kulit cokelatnya sebelum pergi keluar kamar.

Laki-laki itu menimbang-nimbang apa yang akan dibawanya. Mobilnya atau motor milik kakaknya. Tapi saat ia mengingat bahwa ia harus mengantar Dasom mengantar susu, ia memutuskan untuk membawa motor besar putih milik kakaknya serta dua buah helm dengan warna yang senada dengan warna motornya.

Dasom menunggunya dengan wajah cemas kemudian terkejut ketika tau bahwa motor putih yang berhenti didepannya adalah Minsoo.

“Aku tidak tau kau akan membawa motor,” ulas Dasom seraya menerima helm dari Minsoo dan langsung duduk dibelakang Minsoo. Minsoo merasa Dasom berusaha untuk tidak menyentuhnya dan duduk dengan tidak begitu nyaman.

“Tidak apa kalau kau mau memelukku,” Minsoo merasa tubuh Dasom mengkaku. “Maksudku agar tidak jatuh nantinya.” Ralat Minsoo yang langsung diikuti rasa sesal laki-laki itu. Sepertinya Dasom sudah mulai rileks dan mulai menggenggam jaket kulit Minsoo sebelum Minsoo memutar gas tangannya.

Dasom hanya menunjukkan tempat distributor susu yang biasa ia bantu. Gadis itu mengucapkan terima kasih seraya menyerahkan helm pada Minsoo sambil membungkuk pelan.

“Hei!” panggil Minsoo. Sebenarnya Minsoo sendiri terkejut karena ia memanggil Dasom setelah Dasom berjalan 3 langkah menjauh.

Gadis itu menoleh, rambutnya yang pendek tapi dapat dikuncir itu bergerak lembut mengikuti arah gadis itu menoleh. Matahari memang sudah menyembul dari timur dan malah membuah gadis itu terlihat bersinar dimata Minsoo.

“Kau akan memanggilku setelah ini?” tanya Minsoo mencari alasan.

“Tak usah khawatir. Rumah temanku hanya satu blok dari sini. Aku bisa mampir kesana sebelum pergi ke universitas. Jadi kau bisa menemuiku ketika aku pulang dari kelas terakhir atau setelah aku mengajar.” Jelas Dasom dengan wajah yang dipaksa tersenyum. “Sekali lagi, terima kasih.” Minsoo menatap punggung Dasom yang menjauh dan masuk kedalam pintu cokelat besar dihadapannya.

Sepanjang perjalanan, Minsoo merasa bingung karena perubahan emosi Dasom yang begitu cepat. Seperti saat pertama kali bertemu. Dasom terlihat kesal, kemudian berubah menjadi kasihan sebelum kembali menjadi kesal dan marah, dan dalam hitungan detik wajahnya terlihat murung dan lelah. Pagi ini, wajahnya terlihat gelisah, terkejut, berterima kasih, bercahaya, kesal dan datar dalam waktu 27 menit terakhir.

Sampainya dirumah, ia sudah melihat ibunya berkutat dengan sarapan dan kakaknya yang sedang sibuk membuka-buka koran pagi. Tak banyak basa-basi, Minsoo segera berlari menuju kamarnya dan mulai bersiap untuk menuju kelasnya yang pertama jam 8 nanti.

-.-

Dasom tidak pernah menyangka kalau akhir musim panas di bulan Agustus akan turun hujan. Ia lupa membawa payung dan saat ini ia sedang kebasahan menunggu Minsoo yang tak juga datang. Giginya sudah bergemelutukkan dan jari-jarinya sudah mulai membiru. Ia seratus persen yakin kalau bibirnya sudah mulai biru dan wajahnya memucat.

Tak lama ia melihat mobil jeep modern hitam menepi. Pintu bagian penumpang langsunng terbuka setelah 4 detik berhenti. Dasom dapat mengenali wajah Minsoo dari dalam.

“Masuklah!” seru Minsoo berusaha mengalahkan suara hujan yang melebat.

Entah kenapa Dasom segera masuk dalam mobil dengan rasa kesal. Ia menggosok-gosokkan tangannya yang dingin dan basah.

Sebuah tangan besar menyelimutinya dengan jaket kulit besar. Dasom menoleh, Minsoo sudah menanggalkan jaket kulit tebalnya dan memberikannya pada Dasom, bahkan laki-laki itu melingkarkan jaket kulitnya pada Dasom.

“Maaf aku terlambat…” desah Minsoo terdengar tulus. Dasom memutuskan untuk tetap diam, takut kalau ia membuka mulut malah membuatnya terlempar dari mobil ini. “Apa kau marah?” Dasom bisa mendengar suara takut dari nada bicara Minsoo.

“Oh, marah dari bagian mana tepatnya? Bagian kau terlambat menjemput atau bagian aku menyesal karena sudah membasahi jok mobilmu?” sedetik kemudian Dasom langsung menyesal karena sudah membuka mulutnya.

“Tak usah khawatir dengan jok mobilku karena bahan permukaannya terbuat dari kulit. Dan sekali lagi, maafkan aku karena terlambat. Aku harus memutar jalan agar tidak bertemu dengan razia polisi malam ini. Maaf.” Dan detik itu Dasom benar-benar merasa bersalah karena telah menghakimi Minsoo.

-.-

Minsoo sesekali melirik orang yang tepat berada disebelahnya, memperhatikannya dengan ujung mata yang juga memperhatikan jalan. Gadis itu terlihat kesal dan marah sekaligus terlihat seperti menyesal ketika tadi ia masuk kedalam mobil tadi.

“Kau masih kesal?” tanya Minsoo hati-hati. Berusaha untuk tidak membuat Dasom merasa tambah kesal atau yang parah, bisa saja Dasom sakit hati padanya.

“Eee… tidak juga.”

“Kau terlihat kesal.” Minsoo meyakinkan diri kalau yang diutarakannya adalah pernyataan tentang Dasom saat itu. Gadis itu terlihat meringis. Dapat dipastikan ia juga merasa tidak enak sekaligus kedinginan.

“Siapa? Aku?” Minsoo menunggu, tidak menjawab pertanyan-pertanyaan kecil Dasom. “Aku hanya merasa kesal pada diriku sendiri, hanya itu.” Ujar Dasom dengan nada sedih.

Perkataan Dasom malah membuat Minsoo merasa bersalah. Ia merasa bahwa dirinyalah yang sebenarnya membuat Dasom merasa kesal. Ia juga merasa bersalah telah datang terlambat serta berbohong kecil pada gadis itu tentang razia polisi. Memang ada razia polisi tapi pada kenyataannya ia tidak melewati daerah itu sama sekali. Malah daerah itu  berbeda 12 blok dari jalan yang ia lewati.

Minsoo menepikan mobilnya, meraba bawah jok mobil dibagian belakang. Mencari sesuatu. Laki-laki itu terlihat serius mencari sesuatu dibawah jok mobil bagian belakangnya yang ternyata sebuah tas biru kecil yang terlihat padat. Ia memberikannya pada Dasom.

“Pakailah,” ujar Minsoo singkat. Dasom membuka tas biru itu dan mendapatkan sebuah kaus besar berwarna abu-abu yang bersih dan kering. “Aku akan keluar sebentar. Tak perlu khawatir, jendela disamping kanan-kiri dan belakang itu sangat gelap dan sulit terlihat dari luar. Kau bisa mengganti baju di bagian belakang.” Jelas Minsoo sambil meraih payung besar dari jok belakang mobilnya.

Ia berjalan menjauh dari mobil, mencari apotek terdekat untuk membeli obat flu pada Dasom karena gadis itu terlihat nyaris terkena flu.

Saat kembali dengan obat ditangannya, Minsoo membuka pintu mobil dan mendapati Dasom masih mengganti pakaiannya. Ia merasa dua detik yang ia alami menjadi dua detik terlama yang pernah ia alami selama hidupnya. Ia bisa melihat kulit punggung Dasom yang putih dengan segaris tebal bra merah terang menjadi batas pandangannya. Tetesan air hujan terlihat mengalir lembut diantara kulit gadis itu, menyesat kearah pinggangnya yang terlihat kecil.

“Oh maaf!” seru Minsoo langsung menutup pintu mobilnya. Ia bersumpah bahwa ia dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri yang terasa nyaris meleleh diantara tubuhnya. Minsoo pernah melihat hal itu sebelumnya di televisi atau saat ia melihat Hyeri sedang mengganti-ganti gaunnya sebelum mereka pergi berkencan, tapi ia tidak pernah merasa benar-benar ingin mengusap tetesan air itu karena takut melukai kulitnya.

Tok… tok…

Tanda Dasom sudah selesai mengganti pakaiannya.

Minsoo kembali masuk kedalam mobilnya. Belum pernah ia merasa bingung dan tersesat didalam mobilnya sendiri. Dadanya terasa sesak dan kepalanya tiba-tiba pening. Indera penciumannya sama sekali tidak membantu karena mobil itu penuh dengan wangi dari parfum Dasom yang sudah hampir menghilang karena disemprotkan pada pagi hari.

“K-kk-kau lapar?” ujar Minsoo dengan suara terbata. Kemudian ia menyesal karena sudah bicara dengan suara yang terbata-bata seperti orang gagap.

“Tidak. Aku sudah makan saat tadi dirumah muridku.” Jelas Dasom yang malah membuat Minsoo semakin bingung harus berbuat apa.

Tak lama ponsel laki-laki itu berbunyi.

Minsoo menatap layar ponsel. Hyeri.

“Ya?” jawab Minsoo cepat.

“Minsoo Oppa! Aku takuuutt…..” Minsoo terkejut. Suara Hyeri terdengar histeris dan ketakutan. Segera Minsoo bertanya ada apa dan dimana Hyeri berada. Ternyata Hyeri berada di rumah sakit karena ibunya terkena kecelakaan.

“Ada apa?” tanya Dasom begitu Minsoo melepaskan ponsel dari telinganya. Suara gadis itu terdengar khawatir.

“Ibu Hyeri berada dirumah sakit. Ia sendirian. Aku akan kesana.”

-.-

“Aku akan kesana!” suara Minsoo terdengar panik dan khawatir juga cemas. Dasom mengangguk. Ia meraih jaket Minsoo yang setengah basah dan menyambar tasnya lalu membuka pintu mobil. Gadis itu terhenti saat Minsoo memegang tangannya kuat. “Mau kemana?”

“Pulang, tentu saja!” Dasom terdengar ketus. Tentu saja membuat pemilik suara ketus itu merasa menyesal setelah mengutarakannya.

“Biar kuantar—”

“Tak usah! Aku bisa pulang sendiri kali ini. Dan mungkin seterusnya,” putus Dasom tapi tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Minsoo. Ketika ia menatap mata Minsoo, terlihat tanda tanya besar menutupi matanya. “Kau tak perlu lagi mengantar jemputku kali ini. Dan aku yakin kau sudah bisa menelepon bengkel tempat skuterku diperbaiki.”

Minsoo terlihat bingung. Belum pernah ia merasa di’tampar’ sedemikian kerasnya oleh seorang gadis yang baru saja ia temui sejak 2 minggu lalu. “Maksudmu…”

“Ya, sepertinya aku sudah bisa pergi sendiri tanpa diantar olehmu. Skuterku sudah bisa diambil kurasa. Bagaimana?” kali ini suara Dasom melembut. Minsoo sendiri nyaris gila saat Dasom menyunggingkan senyum kecil.

Ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Merasa pusing dan bingung sendiri dengan tingkah laku dari perempuan. Menurut pengalamannya, gadis-gadis sangat suka berubah mood, tapi tidak secepat perubahan Dasom.

“Terserah padamu,” ujar Minsoo akhirnya.

Senyum Dasom semakin merekah, “Aku pinjam jaketmu untuk sementara waktu. Hubungi aku jika kau sudah dapat skuterku. Ini kartu izin mengemudimu,” Dasom membuka tasnya yang sebagian terlihat lembab dan mengeluarkan sebuah kartu pada Minsoo. “Tanda pengenalmu dan jaketmu masih bersamaku. Saat kita nanti bertemu lagi, aku akan memberikannya padamu. Aku berjanji…” janji Dasom. Gadis itu melirik pada tangan Minsoo yang belum melepas lengan Dasom.

“Dan kausmu juga…” cengir Dasom sambil mencubit kecil kaus yang dipakainya.

Minsoo tersenyum dan membuka genggaman tangannya kemudian membiarkan punggung gadis itu keluar dari mobilnya, melindungi diri dari hujan dengan jaket kulit miliknya dan memakai kaus kering miliknya. Tak sampai 3 detik, laki-laki berpipi tirus itu menyesal karena membiarkan Dasom berjalan keluar dari mobilnya.

-.-

“Aku rasa kau menyukainya. Benar-benar menyukainya. Mungkin kau hanya merasa penasaran padanya dan kemudian lama-lama kau menyukainya. Dan aku yakin 100% kau tidak menyadarinya!” seru laki-laki kurus disamping Minsoo. Minsoo mengankat bahunya sekali. Ia juga bingung dengan perasaannya.

Jika benar ia menyukai Dasom, ia sendiri tidak tau apa yang harus ia lakukan. Entah kenapa ia masih merasa ada yang belum benar-benar selesai dengan Hyeri karena gadis itu masih membutuhkannya dan masih suka mengikutinya kemanapun.

“Mungkin aku menyadarinya, tapi mungkin aku menyangkalnya. Kau tau? Aku masih belum selesai dengan Hyeri—”

“Kau masih memikirkan gadis manja itu?!” rebut laki-laki itu. “ia hanya perlu terbiasa tanpa kau. Kurasa kau tak perlu lagi merasa harus menjaganya karena ia menyukaimu—maksudku mencintaimu.” Tambahnya.

“Dengar, kalau kau tidak yakin pada sesuatu jangan pernah kau lakukan itu. Ini masalah hati. Kalau saja ini soal ujian matematika tentu rasa ragu mu sangat wajar dank au bisa memilih jawaban yang paling meragukan. Tapi jika kau melibatkan hati, jangan lakukan apa yang membuatmu semakin meragukan. Kau akan menyesal. Aku serius!” laki-laki itu terdengar sangat sungguh-sungguh. Sembari berpikir, Minsoo hanya melemparkan senyumnya.

Minsoo mengamini apa yang temannya katakan. Ia mengurut keningnya perlahan, melemaskan otot-otot kepalanta yang semakin hari semakin menegang seiring dengan datangnya Dasom pada isi kepalanya.

Apa yang sedang ia lakukan? Apakah ia sudah makan malam? Apa yang ia gunakan untuk kendaraannya pulang? Siapa yang mengantarnya? Apa ia punya pacar? Saat memikirkannya pun membuat Minsoo membuka satu lagi kancing kemejanya. Udara disekitarnya mendadak sulit masuk ke paru-parunya.

“Bagaimana kalau ternyata aku hanya bersikap sopan padanya?” Tanya Minsoo hati-hati. Lebih tepatnya bertanya pada dirinya sendiri secara hati-hati.

Lelaki disampingnya tertawa mengejek, “Kau bercanda?! Kalau kau sudah sulit melupakannya, sulit bernapas saat memikirkannya, bahkan sampai bulu kudukmu berdiri, kata “bersikap sopan” sudah tidak ada artinya lagi. Kau tau?” seru temanya sambil terus melemparkan wajah mengejek padanya.

-.-

Dasom menatap nomor ponsel yang sedang meneleponnya. Kebetulan sekali ia sudah tidak ada kegiatan mengajar dan kuliah. Seketika tangannya berhenti untuk menekan dan menggeser gambar hijau di layar ponselnya. Dan detik selanjutnya, ponsel itu mati.

Gadis itu menghela nafas lega. Ia tau Minsoo meneleponnya untuk menyerahkan skuter miliknya dan ia hanya mengembalikan kaus, jaket dan kartu tanda pengenal Minsoo. Lalu, mereka dapat kembali melanjutkan hidup masing-masing tanpa perlu merasa kenal satu sama lain.

Entah kenapa gagasan itu membuat Dasom merasa mual dan kesal. Jadi gadis itu hanya membuka ponselnya dan mencopot baterainya kemudian menyelipkannya kedalam tas biru miliknya.

Langkah Dasom semakin berat menuju pintu keluar apartemen muridnya. Tangannya juga terasa kebas saat ia mulai menekan tombol lift untuk turun. Perasaannya langsung terasa tak karuan saat terdengar bunyi ‘ting’ keras tanda ia sudah sampai di lantai yang dimaksud.

“Dasom-ssi…” Dasom menoleh dan seketika tubuhnya kaku. Kakinya merasa kebas. Matanya mulai merlihat banyak bayangan. Ia tau ini semua harus berakhir perlahan seirig dengan langkah kakinya menuju lelaki itu.

“Aku membawakanmu skuter yang sudah diperbaiki,” ujarnya perlahan namun masih dapat terdengar jelas di telinga Dasom.

“Hmm… yea… terima kasih.” Dasom meraba tas birunya. Ragu.

“Kau membawa jaket dan kausku?” Dasom menggeleng pelan. Sebenarnya kaus dan jaket itu selalu bersamanya. Rapi terbungkus pelastik didalam tasnya. “Baguslah!” seru Minsoo membuat Dasom benar-benar menatapnya.

“Setidaknya aku punya alasan untuk bertemu denganmu setelah ini.”

“Hyeri?” Tanya Dasom hati-hati.

“Aku tidak pernah memulai dengannya. Dan itu artinya tidak ada yang harus di akhiri. Jadi bagaimana?”

“Apa?” Tanya Dasom dengan suara melembut. Dalam hati ia berdoa agar ia tidak jatuh karena kakinya terasa bergetar.

“Kau mau berjalan-jalan denganku dengan skuter ‘baru’ mu?”

Dasom tertawa. Tangannya menyambut uluran tangan Minsoo yang melebar.

“Tentu saja!”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

 

END

6 thoughts on “I’ll Take You Home | Cap – Dasom | Oneshoot

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s