1STAR’s Fanfiction / 1Direction-Sistar / I Wish / Straight / Romance / Part 6

iwishcover_2

1STAR’s Fanfiction / 1Direction-Sistar / I Wish / Straight / Romance / Part 6

Tittle : I Wish

Cast : Kim Dasom , Louis Tomlinson , Zayn Malik , Eleanor , Niall , etc

Pair : Lousom // Dayn // Allsom // Lounor ||

Genre : Romance , Hurts

Rate : Teen

Length : Chapter

Part : 6 of ?

Author : LidyaNatalia

Warning : OOC ,  Yang nggak suka sama pairingnya , jangan baca. Yang nggak suka sama Sistar , 1Direction juga nggak usah baca. Banyak Typo , Nggak terima bashingan , apalagi bashing pairnya. Pokoknya I WARN all of you to do not read this fanfiction if you didn’t like the cast or didn’t like me .

Disclaimer : 1Direction dan Sistar belong to God and their family ~ But this story originally belong to me.

A/N : Terinspirasi dari lagu I wish . Ingat loh cuma terinspirasi , jadi ini bukan songfict. Selain itu lagu More than this juga ikut andil dalam pemberian inspirasi. Juga lagu You Belong With Me dan Saying I Love You. Sekali-kali coba aja kalian denger lagu itu ~

Summary : Oh how I wish that was me …

 

Let’s check this out the story…

***

“Jadi?” Tanya Niall sembari meminum cappuccino hangat yang baru saja disuguhkan oleh Dasom untuknya.

 

“Apa?” Tanya Dasom tak mengerti.

 

“Tugasmu? Apa sudah selesai?” Lanjut Niall lagi sembari menyesap lamat-lamat minumannya.

 

Dasom menghela nafasnya sembari menyandarkan punggunya di sofa miliknya.

 

“Entahlah,” Sahut Dasom sekenanya. Well , dia memang tidak tahu apakah tugas itu sudah selesai dikerjakan oleh Louis atau tidak.

 

Niall mengerutkan keningnya. Meski bukan yang terpintar dikelas , Dasom bukan orang yang suka mengabaikan tugasnya seperti ini. Terlebih di bidang studi kesukaannya. Sastra Inggris. Namun mendengar jawaban Dasom barusan membuat Niall sedikit penasaran dengan alasan dibalik jawaban gadis manis dihadapannya ini.

 

“Kau belum mengerjakannya?” Tanya Niall lagi. Dasom mengangguk.

 

“Yang benar saja? Tidak biasanya ,…”

 

“Louis bilang dia yang akan menyelesaikannya.” Potong Dasom dengan wajah yang terlihat dingin.

 

Niall menyondongkan tubuhnya untuk mengambil buku tebal diatas meja kaca tersebut , “Kenapa tidak dikerjakan berkelompok? Apa kau…”

 

“Dia bilang dia tidak bisa datang karena badai dan…. aku harap pertanyaanmu tentang itu berhenti sampai disini. Atau… kau tahu kan jalan menuju pintu keluar?” Akhir Dasom yang lebih mirip dengan sebuah ancaman.

 

Niall langsung membelalakan matanya mendengar ancaman tersirat dari Dasom. Dia buru-buru menggelengkan kedua tangannya dihadapan Dasom sembari mengeluarkan senyum konyolnya –menurut Dasom.

 

Okay! Aku mengerti. Aku akan berhenti bertanya masalah tugas. Well , maukah kau memainkan sebuah lagu untukku?” Tanya Niall mengalihkan topik obrolan mereka.

 

“Aku sedang malas bermain , Niall…” Sahut Dasom sembari mengangkat kedua kakinya ke atas sofa.

 

“Oh , ayolah Manis. Aku datang kesini bukan hanya untuk mendapat perlakuan dingin darimu saja. Aku resah seharian ini tidak bertemu denganmu dan aku ingin mendengar permainan pianomu , Manis.” Ucap Niall berusaha membujuk Dasom sembari memandang sendu ke arah Dasom.

 

Dasom berdiri dari duduknya sembari menyentakkan kaki kanannya melihat sikap Niall. “Berhenti bersikap menjijikan , Niall…” Ucapnya sembari berjalan ke arah piano putih yang berada tak jauh dari mereka , membuat Niall hampir merobek kedua pipinya kalau saja dia tak berusaha sekuat tenaga untuk menahan senyumnya yang hendak merekah.

 

“Well , ini bukan jumlah yang sedikit untuk dapat dibaca dan diresensi seorang diri…” Ucap Niall dalam hati sembari meletakkan kembali buku tebal best seller tersebut.

 

***

Dasom menghentikkan langkahnya ketika buku –yang seharusnya diresensinya hari ini bersama Louis menyita sinaran matanya. Hatinya kembali bergemuruh kesal mengingat pembatalan pengerjaan tugas kelompok mereka secara sepihak Louis.

 

Louis seperti bisa menebak hatinya. Tiap kali dirinya hampir meloncat kegirangan karena akan berdekatan dengan Louis , maka dengan sekejap waktu Louis selalu menghancurkan hal itu. Louis seperti tidak ingin kebahagian itu datang pada dirinya. Begitulah prasangka buruk yang selalu terlintas dikepala Dasom tiap kali Louis membuatnya kecewa.

 

Ini sudah jam 9 malam. Dan Dasom baru saja mengantarkan Niall kedepan pintu untuk pulang. Dasom menarik pandangannya dari buku tersebut sembari menuju ke arah dapur. Mengambil sebotol jus yang kemudian dituangkannya kedalam mug berukuran sedang.

 

“Gulp… Gulp!”

 

“Huh…” Helanya dalam sembari kembali melirik ke arah dimana buku rujukan tugasnya berada.

 

***

 

“Ddddrrrrttt… Ddddrrrrttt…” Dasom merogoh sakunya ketika dirasakan benda yang berada didalamnya terus bergetar.

 

Dilihatnya sebuah nama yang sangat enggan dilihatnya , setidaknya untuk saat ini. Namun dengan berbagai pertimbangan yang dengan cepat diputuskan , Dasom menjawab panggilan tersebut.

 

“…”

 

Dasom sama sekali tak ada niatan untuk memulai pembicaraan. Bahkan ketika yang menelponnya disebrang sana diam tak bersuara.

 

“Ung.. Dasom?”

 

“Hn?”

 

“Masalah tugas resensi kita… aku…”

 

“…” Seperti cenayang , Dasom sudah tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut. Terlebih ketika suara di sebrang , yang diyakini dan sudah pasti adalah suara Louis , terhenti sesaat.

 

“Dasom?”

 

“Hn?”

 

“Ah , aku pikir kau menutup sambungannya.” Dapat terdengar helaan nafas kelegaan ditelinga Dasom. Dan hal itu membuatnya sedikit merinding. Karena itu adalah kali pertama suara Louis begitu terdengar dekat sampai ke pembuluh nadinya.

 

“Masalah tugas resensi … aku…”

 

“Belum selesai?” Tanya Dasom sekaligus menerka.

 

“A…ha!” Sahut Louis singkat. “Jadi…”

 

“Jadi?” Ulang Dasom

 

“Sepertinya kita harus meminta tambahan waktu kepada Mr. Hayes.”

 

“Oh”

 

“Oh?” Tanya Louis. “Hey , kenapa kau terlihat tidak perduli dengan tugas ini? Biar bagaimanapun ini adalah tugas bersama!”

 

Dasom menggertakkan geliginya tanpa bisa terlihat oleh Louis. Dia sangat membenci nada suara sindiran seperti ini. Terlebih itu keluar dari mulut Louis. “Lalu?”

 

“Kita harus bersama – sama menghadap ke Mr. Hayes untuk meminta perpanjangan waktu pengumpulan. Ternyata sangat tidak mungkin menyelesaikannya seorang diri dalam satu hari.” Jelas Louis.

 

“Aku tidak memintamu mengerjakannya seorang diri. Tapi kau sendiri yang menawarkan untuk menyelesaikannya. Jadi.. kenapa aku harus bertanggung jawab atas akibat dari keputusanmu?” Tanya Dasom menusuk langsung ke Louis.

 

“Dasom…. kau…”

 

“Well , kalau sudah tidak ada hal lagi yang ingin kau bicarakan , aku akan menutup sambungan ini. Ini sudah hampir jam 6 dan aku harus menyiapkan diri untuk sekolah bila kau ingin tahu.” Sahut Dasom ketus.

 

“Terserah kau sajalah!”

 

“Tuut….tuut….tuut….”

 

Dasom mengangkat ujung bibirnya , ketika mendapati Louis langsung memutuskan sambungan mereka. Beruntung , Dasom menyukai Louis. Kalau bukan sudah dari sejak awal Dasom akan memutuskan sambungannya atau bahkan malah tidak diangkat sama sekali olehnya.

 

***

 

Louis bergeming menyaksikan pantulan dirinya di cermin. Di dalam benaknya terpikir sebuah ide untuk ijin kepada guru piket untuk datang lebih telat. Sedikit merasa kesal dengan Dasom , dia ingin membuat Dasom yang harus menghadap ke Mr. Hayes seorang diri. Well , mata pelajaran pertama hari ini akan diisi oleh Mr. Hayes dan Louis yakin sang guru akan menanyakan tugas kelompok mereka.

 

“Apa tidak apa kalau aku membiarkannya sendiri?” Tanya Louis pada pantulan di hadapannya. Keningnya berkerut membayangkan apa yang akan terjadi dengan Dasom.

 

Louis mencoba membenarkan kerah seragam yang sebenarnya sudah rapi sejak 15 menit yang lalu. Louis mengangkat bahunya sembari menghela nafasnya dengan cepat. “Sedikit terlambat sepertinya bukan masalah. ” Ucapnya dengan sedikit keraguan.

 

“Well ,  katakanlah aku melakukannya untuk sedikit memberi pelajaran pada gadis itu.” Lanjutnya sembari berlalu dari tempatnya berdiri.

 

***

Dasom mengedarkan pandangannya ketika Mr. Hayes sudah datang. Dia melirik ke arah bangku yang masih belum terisi. Orang yang memintanya untuk menghadap ke Mr. Hayes untuk meminta waktu tambahan justru belum datang sampai sekarang.

 

“Good Morning , Class!”

 

“Good Morning , Sir!”

 

“It’s about a week and all of you sure pretty well know about what I am going to ask , right?”

 

“Yes , Sir!”

 

“So , come forward and collect your task on my desk!”

 

Dasom menggigit bibir bawahnya. Namun sedetik kemudian dia mengangkat sudut bibirnya.

 

“Jadi dia ingin menyerahkan semuanya padaku?!” Desah Dasom sembari menghembuskan nafas kecil.

 

“Louis , Dasom! Its only yours left.”

 

“Ah , yes , Sir!”

 

***

 

Lou , kau dimana? Mr. Hayes sudah datang!

 

Louis tersenyum ketika mendapati sebuah pesan singkat dari Eleanor yang menanyakan keberadaannya saat ini. Setelah beberapa detik terus menatapi pesan tersebut , Louis memutuskan untuk membalasnya.

 

Aku masih dijalan. Ada sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Aku akan segera tiba , El.

 

Louis memandang waktu yang ditunjukan di layar ponselnya. Ini baru 15 menit. Rencananya dia akan datang 30 menit lewat dari waktu masuk kelasnya. Lagipula dia sudah dapat kertas keterangan ijin untuk terlambat dari guru piket.

 

Terkadang mengikuti organisasi di sekolah membuatmu lebih dikenal dan lebih dimudahkan dalam segala urusan.  Louis tahu ,  tidak seharusnya dia menggunakan jabatannya untuk hal seperti ini. Bahkan untuk tujuan memberikan pelajaran pada teman sekelompoknya , Dasom. Well , dia sudah berjanji bahwa ini akan menjadi yang pertama dan terakhir.

 

“By the way…” Louis mengerutkan keningnya mencoba menduga sesuatu.

 

“Apa dia baik-baik saja?”

 

***

 

Tobecontinued..

Last , but not least mind to review?

You also can comment on :

twitter : @lidya_Natalia

facebook : LidyaNatalia Lee

Line : natalidya2512

 

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s