Faithful | Bora – Joongki | Oneshoot

Faithful copy 

Kira’s Fanfiction / Faithful / ANGST / STRAIGHT /OneShoot

Tittle : Faithful
Author : Lidya Natalia
Pair : Kira
Rate : Teen
Genre : Genderswitch , Romance , Angst, OOC
Length : Oneshoot
Warning : Kalau gasuka jangan dibaca , tapi kalo udah terlanjur baca wajib RCL!! Some Typo(s)
Summary : It’s love is Unbreakable !!
A/N : Fanfiction ini adalah remake dari fanfict aku yang berjudul yang sama yang pernah dipublish di lidyaelfish dengan cast  Kyumin. Dan disini diganti dengan cast Kira. Oh iya Dengerin lagu Take Me away nya U-Kiss sama Seperti Yang Kau Minta nya Chrisye deh pas baca , insyaallah feelnya dapet.

***

—-Faithful—-

Seorang wanita dengan potongan eksekutif tengah mengambil tas diatas meja riasnya. Dan setelah itu dia segera menuju ruang makan dimana seorang laki-laki dewasa namun sedikit berbeda tengah meminum susunya.

Oppa, apa kau sudah siap?” tanyanya dengan senyum yang lembut

Yang ditanya hanya mengangguk dengan senyum dihiasi bekas susu disekitar sudut bibirnya. Dengan lembut dan pelan wanita yang diketahui bernama Yoon Bora membersihkan bekas susu tersebut dengan ibu jarinya tanpa rasa jijik sedikitpun.

“Ayo ambil tasmu, kita ketempat  Dr. Dasom sekarang,” Ajaknya seperti biasa kepada laki-laki yang diketahui bernama Song Joongki tersebut.

Sambil beranjak dari duduknya, Joongki kemudian mengambil tas punggung kecilnya bergambar Superman, dan kemudian mengikuti wanita didepannya menuju mobil Honda Civic putih milik Bora.

Sesampainya ditempat yang dituju Bora dan Joongki tidak langsung turun dari mobilnya. Bora mencoba melepaskan seatbelt yang terpasang ditubuh Joongki, “Hari ini baik-baik ya sama Dr Dasom ^^ kau jangan menganggu temanmu lagi, mengerti?” Tanya Bora sambil tersenyum.

“Ne, Borara , aku tidak menganggu mereka kok, mereka saja yang mengangguku duluan, mereka bilang aku tak boleh bermain ditempat ini, katanya ini bukan tempatku dan aku bukan teman mereka.” Rengek Joongki dengan nada terdengar seperti rajukan manja.

Bora terdiam sesaat, Ya itu memang bukan tempat yang tepat bagi Joongki! Begitu desahnya dalam hati, Bora kemudian mengambil nafas panjang-panjang. Pekerjaannya di kantor sudah terlalu menyita pikiran dan tenaganya akhir-akhir ini, hingga tiap malam dia sudah tidak sempat lagi mengobrol dengan Joongki sebelum tidur. Sampai-sampai dia baru tahu dari Dasom kalau kemarin Joongki membuat keributan kecil dengan teman satu tempat terapinya.

Di kelas terapi Joongki memang hanya ada dia dan Dr Dasom , tapi ketika dia istirahat terapi tentu saja Joongki akan keluar kelas, dan bergabung dengan yang lainnya disana.

Bora kembali menatap mata Joongki. Dia tidak mungkin berbohong. “Yasudah, kalau begitu kau bermain dengan Dr Dasom saja ya Oppa?” pintanya sembari menangkupkan kedua tangannya pada wajah Joongki. “Nanti aku akan bilang ke Dr Dasom untuk menemanimu bermain, sehingga anak-anak itu tidak akan menganggumu lagi,” Sambung Bora.

Dan dengan tatapan mata yang menyiratkan penuh kesenangan Joongki tersenyum lebar sembari mengangguk cepat-cepat.

“Cup~” Bora mencium kening Joongki yang tertutupi oleh rambut hitamnya, “Yasudah sana, cepat turun dan masuk kekelas. Nanti aku jemput, Oppa.” Ujar Bora setelah melepaskan ciumannya sembari sedikit merapikan poni yang menghiasi kening Joongki.

Dan setelah diperintah seperti itu Joongki langsung menurut , segera masuk ke kelasnya tersebut. Setelah Joongki sudah masuk kekelas dan tak terlihat lagi oleh Bora, Bora menghela nafasnya sembari menghempaskan tubuhnya pada badan jok mobil.

“Cepat sembuh Yeobo ~!”

—-^0^0^—

Sesampainya dikantor , Bora langsung meletakkan tas tangan abu abunya di atas meja kerja diruangannya. Belum sempat Bora duduk ditempatnya, Hyolin teman sekantornya mendatangi Bora dan kemudian duduk di depan Bora.

“Hai, Bora.” Serunya basa-basi

Bora tersenyum, “Iya Hyolin,” katanya sembari langsung duduk dan membuka beberapa dokumen diatas mejanya dan menyalakan PC didepannya.

“Bagaimana perkembangan suamimu?” tanyanya basa-basi.

Bora hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Hyolin.

“Hem , yang sabar ya,” seru Hyolin mencoba menyemangati sahabatnya sembari mengelus pundak Bora.

Bora kemudian tersenyum kecil sambil memeriksa beberapa dokumen penting yang akan digunakannya hari ini untuk meeting dengan timnya nanti siang.

“Oh, iya, aku mau memberi tahu kalau besok kita harus keluar kota untuk melakukan meeting dengan investor baru dari perusahaan NiRa.” Ujar Hyolin memberi tahu.

“Kenapa harus keluar kota?” Tanya Bora menghentikan kegiatannya memeriksa dokumen.

“Pihak investornya yang meminta, Bora-ya.” Jelas Hyolin.

“Yasudah , kalau begitu aku tidak ikut,” Tegas Bora.

“Tapi Bora, proyek besar kita kali ini kan kau yang tangani, kalau kau tidak ikut , siapa yang akan mempresentasikan laporannya kepada pihak Investor itu?” Hyolin mulai cemas dengan keputusan Bora.

“Tapi , Hyolin kau kan tahu , aku harus menjaga Joongki, di rumahku tidak ada siapa-siapa lagi. Kalau aku pergi siapa yang akan menjaganya.?” Tanya Bora.

“Kau kan bisa menitipkan ke orang tuamu atau orang tua Joongki , Bora-ya,” Ujar Hyolin yang sepertinya membuat amarah Bora sedikit bangkit, hal itu dapat dilihat dari ekspresinya yang berubah menjadi merah padam.

“Hah? Jangan bercanda kau Hyolin , bukannya kau tahu ketika aku menikah dengan Joongki , orang tuanya tidak memberi kami restu? Dan orang tuaku ? Huh , bahkan ketika tahu keadaan Joongki yang sudah tidak seperti dulu lagi, mereka memintaku untuk bercerai dengan Joongki. Kau mau menyuruhku menitipkan Joongki pada mereka?” Tanya Bora mulai emosi. Secara tidak langsung Hyolin membuka kenangan yang tidak ingin diingat oleh Bora.

Mian , Bora-ya , aku tak bermaksud…”

“Sudahlah, keputusanku sama seperti awal , aku tidak mau ikut.” Tegas Bora memotong pembicaraan Hyolin.

“Ehm, bagaimana kalau kau ajak Joongki untuk ikut bersamamu?” Ujar Hyolin memberi solusi, bagaimanapun Hyolin harus membuat Bora ikut dalam meeting dengan investor besar kali ini. Sang atasan sudah memintanya untuk membujuk Bora ikut dalam tugas luar kota ini.

Bora terlihat berfikir. Benar juga. Dengan mengajak Joongki untuk turut serta , dia bisa tetap menjalankan tugasnya sembari menjaga Joongki.

“Baiklah , akan aku bicarakan dengan Joongki nanti malam.” Seru Bora.

Hyolin hanya bisa menahan diri untuk mencela perkataan Bora barusan. Bicarakan dengan Joongki? Hah? Apa tidak salah? Kalau dulu masih mungkin, tapi sekarang? Keadaan Joongki sudah berbeda, jadi mana mungkin Bora bisa membahasnya dengan Joongki. Huft, tapi pertanyaan itu hanya bisa dia utarakan dalam batinnya, dia tidak mau membuat Bora membatalkan pertimbangannya untuk ikut keluar kota.

Lebih baik iyakan saja daripada Bora kembali marah.

—-^0^0^—

Jam sudah menunjukan pukul 6 petang ketika Bora sampai ditempat terapi milik temannya, Dasom. Setelah memakirkan Honda Civic putihnya , dia langsung melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan Dasom.

“Tok! Tok! Tok!”

“Masuk!” Terdengar suara dari dalam memerintahkan Bora untuk masuk.

Dan tanpa berfikir dua kali , Bora memutuskan membuka pintu tersebut.

“Ouh, Bora,” seru Dasom

Mian ya Dasom hari ini aku terlambat menjemput Joongki lagi,” ucapnya segera sebelum duduk didepan Dasom.

Gwaenchana, Bora-ya, Oh iya kau ingin menjemput Joongki ? Dia ada di…”

“Tidak , Dasom. Aku ingin berbicara sebentar denganmu.” Sela Bora.

Dasom yang tadinya sudah mulai beranjak , kembali mendudukan tubuhnya dikursi. “Oh, baiklah. Kau mau membicarakan apa?” tanya Dasom.
“Aku hanya ingin bertanya padamu mengenai Joongki saja, bagaimana dia hari ini? Apa terlibat masalah lagi?” tanya Bora khawatir.

“Masalah?” Dasom tersenyum. “Tidak ada masalah hari ini, sepanjang hari dia hanya bersamaku, grafik perkembangannya memang masih sangat lambat, tapi kau tenang saja Bora, dia pasti akan sembuh,” Sambung Dasom.

“Ne, Dasom, gomawoyo , kau mau aku repotkan dengan kehadiran Joongki di klinikmu ini, aku sangat berterima kasih padamu.” Ucap Bora sembari mengangguk.

“Sudahlah , Bora, kau tidak perlu sungkan,” Balas Dasom

“Oh iya , aku ada rencana untuk mengajak Joongki untuk keluar kota bersamaku besok untuk beberapa hari. Bagaimana menurutmu ? Apakah kondisi tubuh Joongki memungkinkan?” Tanya Bora.

“Hem , kalau aku lihat kondisi Joongki memang tidak terlalu lemah , kau bisa mengajaknya keluar kota, tapi jangan buat dia lelah ya, Bora, tubuhnya masih sangat rentan, terlebih luka gegar otak itu masih belum terlalu lama.” Saran Dasom

“Okay , Dasom. Tentu aku akan menjaga orang yang sangat kucintai itu, aku tidak akan membiarkannya lelah. Terima kasih banyak Dasom.”

Cheonmaneyo, Bora-ya,” sahut Dasom

“Oh iya , bisa kau antarkan aku ke kelas Joongki?”

“Ne, Bora. Kajja!

—-^0^0^—
Joongki kini tengah duduk dibawah sambil menonton acara TV yang sangat digemarinya ketika Bora mencoba mengajaknya untuk pergi tidur.

Oppa,” Panggil Bora lembut.

Joongki tidak menoleh dan tetap konsentrasi pada layar TV 40 inchi tersebut.

Oppa,,” panggil Bora sekali lagi.

Dan kali ini Joongki menoleh menghadap ke arah Bora yang tengah duduk di sofanya. “Sebentar lagi ya Borara, acaranya belum selesai , aku masih mau nonton, aku mohon Borara,” Seru Joongki sembari mengatupkan kedua tangannya diatas kepala sambil sesekali memejamkan matanya erat-erat untuk meyakinkan Bora agar mengijinkannya untuk tetap menonton.

Dan Bora hannya tersenyum melihat tingkah suaminya tersebut. Dengan gerak perlahan Bora menurunkan tubuhnya dari sofa dan mendekat kearah Joongki, kemudian mengusap puncak kepala Joongki, “Ne , tapi hanya lima menit saja ya?” tanya Bora lembut.

Setelah mendengar jawaban Bora dengan serta merta Joongki kembali menghadap ke arah layar TV. Dan Bora hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kemudian mencoba duduk disamping Joongki sambil memeluk tubuh suaminya itu dengan tidak terlalu kencang agar tidak membuat Joongki merasa sesak, dan menyandarkan tubuhnya di bahu Joongki.

Joongki menoleh pada Bora dan menatapnya dengan tatapan watados layaknya seorang anak kecil, “Borara kenapa?” tanya Joongki

“Ah , tidak apa-apa , aku hanya ingin begini saja, boleh kan, Oppa?” tanya Bora sembari memejamkan matanya menikmati aroma tubuh Joongki.

Joongki menggeleng, meskipun tidak membuka matanya , namun Bora tahu bahwa Joongki baru saja menggeleng.

“Lho, memangnya kenapa Oppa?” tanya Bora sembari mengangkat kepalanya dari bahu Joongki.

“Kepalamu berat Borara,” Jawab Joongki polos dengan nada sedikit protes merajuk. Untung saja dia dalam keadaan duduk , kalau berdiri bisa saja Joongki menghentak-hentakkan kakinya.

“Ouh,” Bora hanya ber-Oh ria. “Yasudah kalau begitu aku tunggu dikamar ya Oppa, ingat waktumu tinggal 3 menit lagi,” Ujar Bora sembari beranjak menuju kamarnya.

Bora menghempaskan tubuhnya ke kasur, setelah kejadian beberapa waktu lalu , tepatnya kejadian ketika Joongki, suaminya mengalami kecelakaan , Bora jadi banyak pikiran. Begitu banyak orang-orang yang mau mencoba memisahkannya dengan orang yang dicintainya tersebut.

Oppa,,” desisnya sembari memandang ke atas langit-langit kamarnya, kemudian merubah posisinya menghadap kekanan, dan langsung tepat melihat fotonya bersama Joongki ketika mereka belum menikah dulu.

Ditengah keasyikannya memandang foto mereka berdua, tiba-tiba terdengar dari arah luar pintu kamar dibuka. Bora reflek menoleh dan mendapati Joongki hendak tidur disampingnya.
Oppa,” Seru Bora tersenyum. “Sini…” sambungnya sembari mengusap kasur disampingnya pertanda mengajak Joongki untuk tidur.

Joongki pun langsung merebahkan tubuhnya disamping Bora dan kemudian menghadap ke arah Bora. “Borara,,” panggil Joongki

“Iya , Oppa,” Sahut Bora dengan senyum lembut pada Joongki.

“Aku , …”

“Aku apa , Oppa?”

“Ehm , tidak jadi deh,” Ujar Joongki sembari memposisikan tubuhnya lurus.

“Eh ,” Bora menarik tubuh Joongki agar menoleh kesampingnya, “Kok tidak jadi? Kau kenapa?” tanya Bora penasaran.

“Aku…” ujarnya. “Tidak jadi ah , aku takut Borara tidak mau,” Sambung Joongki.

“Lho? Kok begitu , memangnya Oppa mau apa?” Tanya Bora sabar.

“Aku, ehm , ini Borara , kepalaku tiba-tiba terasa sakit, aku bingung, aku tidak tahu cara menghilangkan sakitnya, jadi aku mau minta Borara membuang rasa sakitnya, aku tidak suka Borara,” Rengek Joongki manja.

“Oh , mana sini coba aku lihat, Oppa.” Bora meraih kepala Joongki dan memijat pelan pelipisnya perlahan.

Dan Joongki terlihat menikmati pijitan kecil dari Bora.

“Bagaimana Oppa? Lebih baik?” Tanya Bora sembari terus memijat

Joongki mengangguk sembari memejamkan matanya, Bora memandang garis raut wajah suaminya, laki-laki yang dulu sangat protektif dan menyayanginya kini tengah dalam keadaan tidak sehat dan rentan. Dengan sayang Bora terus mencoba memijat pelipis Joongki , berharap dengan begitu dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan suaminya. Tiba-tiba sekelebat bayangan pembicaraan Hyolin tadi pagi terlintas dikepalanya. Mengajak Joongki keluar kota. Apa sebaiknya Bora menanyakan pada Joongki sekarang? Karena besok merupakan jadwal keberangkatannya.

Oppa…” panggil Bora

Joongki tidak menjawab dan malah justru terus menikmati sentuhan tangan dari wanita dihadapannya kini.

“Besok kita jalan-jalan yuk,” sambung Bora

Mendengar kata jalan-jalan Joongki langsung membuka matanya, “Jalan-jalan?” Tanyanya dengan mata berbinar bak anak kecil yang hendak diajak ke taman bermain oleh keluarganya.

“Iya, kita keluar kota. Mau tidak?” Tanya Bora sekali lagi.

Joongki tersenyum senang, “Tentu saja aku mau Borara, kau kan sudah lama tidak mengajakku jalan-jalan lagi,” Serunya sembari mem-pout-kan bibirnya.

Dengan serta merta Bora mencubit bibir itu dengan gemasnya. “Oleh karna itu aku ingin mengajakmu keluar kota selama beberapa hari,” Sahutnya.

Dalam hati terbesit rasa bersalah pada diri Bora, bukankah dia keluar kota sebenarnya untuk bekerja? Tapi yasudahlah , yang penting dia tetap bisa menjaga Joongki walaupun harus sambil bekerja.

“Oh , okeh , baiklah , aku mau. Yasudah kalau begitu,,,” Joongki memegang tangan Bora dan menjauhkannya dari kepalanya. “Borara tidur saja , sekarang , aku juga mau tidur, biar besok bisa bangun lebih awal.” Seru Joongki penuh semangat , sembari mencoba memejamkan matanya.

Bora tersenyum, “Baiklah , Oppa,” Bora sedikit mengangkat tubuhnya dan mengecup kening Joongki lembut, setelah kening , Bora beralih ke hidung dan terakhir ke bibir Joongki sekilas. Dan Joongki hanya meresponnya dengan tersenyum sembari matanya dipaksakan terpejam.

Bora memang sudah terbiasa melakukan hal itu pada Joongki , semenjak awal Joongki menjadi seperti ini. Awalnya memang Joongki agak risih dan menolak karena merasa asing. Namun Bora terus melakukan itu sejak 6 bulan lalu sebelum tidur , jadilah dia terbiasa dan tidak menolaknya dan tidak juga membalasnya.

Setelah itu , Bora langsung menarik bed cover  berwarna soft blue untuk menyelimuti tubuh Joongki dan dirinya.

“Nite, chagiya ^^” serunya sembari mengelus pelan rambut Joongki penuh sayang.

—-^0^0^—-
Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi ketika Joongki menggoyang-goyangkan lengan tangan Bora, berniat membuatnya bangun.

“Borara ,,,,” rengeknya

“Nggg,,” Lenguhan kecil terdengar dari bibir Bora, “Ada apa Oppa?” sambungnya dengan mata masih tertutup.

“Katanya kita mau pergi , ayo bangun, nanti telat,,” Serunya sambil tetap menggoyang-goyangkan lengan Bora dan sesekali menariknya.

“Aiissshh , iya, iya , aku bangun.” Jawab Bora sembari memposisikan dirinya untuk duduk. Setelah terduduk, Bora membuka matanya . “Oppa mandi dulu ya?”

Ne,” Serunya dengan senyum senang , kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Dan dengan serta merta Bora menarik Kaos Joongki untuk dilepaskan, dan terlihatlah bekas luka kejadian waktu itu. Bora menarik napas panjang-panjang.

Oppa,,” Lirihnya.

—-^0^0^—-

Oppa  jangan kemana-mana ya.” Perintah Bora sesampainya mereka di kamar hotel tempat mereka menginap diluar kota. Untung saja atasan Bora mengijinkan dan memaklumi Bora yang membawa turut serta suaminya dalam dinas luar kota kali ini.

“Lho?” Joongki mengerucutkan bibirnya sembari duduk disisi ranjang berselimut putih. “Katanya mau jalan-jalan, Borara. Kok malah nggak boleh keluar?” Protesnya kemudian.

“Iya ,” Bora menyusul Joongki untuk duduk. “Tapi aku harus pergi dulu sebentar , Oppa. Pokoknya selama aku belum pulang, Oppa tidak boleh keluar kamar ya, di dalam saja. Dan ini…” Bora menyerahkan sebuah handphone. “Kalau Oppa mau apa-apa , tekan angka 2 , lalu sebutkan Oppa mau apa, arra?” Titah Bora dengan sabar.

“Huh,” Joongki masih dalam keadaan cemberut, “Yasudahlah, tapi janji ya , abis Borara pulang nanti kita langsung jalan-jalan?” Seru Joongki sembari mengacungkan kelingkingnya.

Ne!” Sahut Bora sembari melingkarkan tangan kelingkingnya. Joongki tersenyum senang karena Bora sudah berjanji.

“Yasudah Oppa , aku pergi dulu yah, Chup.” Seru Bora sembari mencium rambut berponi di kening suaminya tersebut.

—-^0^0^0—-

“Maaf ya Bora , kami tidak tahu kalau ternyata meeting kita kali ini harus sampai larut malam seperti ini,” Seru Hyolin tak enak hati. Mereka berdua kini berada dilift hotel tempat mereka menginap.

“Tak apa, Hyolin. Ini bukan salahmu, investor itu saja yang kurang professional , janjian jam 3, dia baru datang 3 jam setelahnya.” Keluh Bora.

“Iya juga sih. Huh kalau bukan investor besar sudah aku tinggal pergi tadi..” Sungut Hyolin kesal sendiri.

“Hahaha , sudahlah Hyolin,” Ujar Bora. “Aku duluan ya, Hyolin. Sampai besok!” Sambung Bora ketka pintu lift terbuka tanda dia telah sampai dilantai 15, tempat kamarnya berada.

“Ne, Bora. Sampai besok ^^” Sahut Hyolin yang kemudian hilang dibalik pintu lift yang menutup kembali membawa Hyolin kelantai 16.

Bora melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Dia sudah meninggalkan Joongki terlalu lama, dan lagipula dia khawatir Joongki belum makan, memang sih tadi Bora sudah meninggalkan makanan, namun Bora takut kalau Joongki tidak memakannya.

Tidak butuh waktu lama untuk Bora sampai dikamar bernomor 1215. Dibukanya pintu kamar tersebut pelan-pelan, dan didapatinya lampu ruangan tersebut gelap. Joongki sudah tidur mungkin. Begitu pikirnya ketika tidak mendapati lampu menyala. Dengan pelan Bora menutup dan mengunci pintu kamarnya dan beranjak keruangan kamar yang sebenarnya.

Ketika dia memasuki kamarnya , dia lihat Joongki tengah tertidur menggunakan baju yang sama ketika Bora pergi tadi. Dan dilihatnya sedikit gerakan Joongki. Ah dia belum tertidur!

Oppa,,” Bora menghampiri ranjang ukuran Kingsize tersebut dan memanggil Joongki dengan lembut.

Namun tak ada jawaban dari Joongki.

Oppa,” Bora kembali memanggil Joongki kali ini disertai dengan sentuhan kecil dipundak Joongki, namun Joongki langsung menepisnya.

Ah, Joongki sedang merajuk rupanya. Sahut Bora dalam hati mengerti. “Mian ya Oppa , karena aku pulang terlalu malam , kita jadi tidak bisa jalan-jalan,” Seru Bora. Tapi lagi-lagi Joongki tidak menggubrisnya.
Akhirnya Bora memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan hendak mengerjai Joongki sedikit. Pertama Bora menyalakan lampu, dilihatnya reaksi kelopak mata Joongki yang sedikit terkejut , dan terlihat dipaksakan untuk dipejamkan. Bora tersenyum kecil.

Dan kedua, Bora mengambil ancang-ancang mengangkat blues putihnya untuk dibuka, dan ketika baru sampai sebatas perut, Joongki berteriak.

“Iiih , Borara! Apa yang kau lakukan?!” Seru Joongki membuat Bora mengatakan yes dalam hati.

Bora menurunkan bluesnya lagi, dan menoleh kepada Joongki, “Kenapa Oppa?” Tanyanya skeptis.

“Kalau mau ganti baju jangan didepan aku, kan malu!” Lanjut Joongki lagi sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Bora tersenyum geli, “Oh , emang Oppa masih terjaga , aku pikir tadi sudah tidur , makanya aku berniat ganti baju disini saja.” Sahut Bora.

“Ihhh , Borara tadi itu aku belum tidur tau!”

“Nah lho?” Bora pura-pura terkejut. “Lalu tadi kenapa ketika aku panggil Oppa tidak menjawab?” Tanya Bora.

“Aku kan lagi ngambek sama Borara. Huh.”

“Yah, Oppa kok gitu , aku kan sudah minta maaf,” Ujar Bora pura-pura sedih. “Maafin aku ya, Oppa?” Pinta Bora sembari menarik tangan Joongki.

“Tidak ah , pokoknya sekarang kita marahan, Borara,” Tegas Joongki yang kemudian langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan pura-pura memejamkan mata.

“Huh ,yasudah, aku ganti baju di kamar mandi dulu ya,” Sahut Bora sembari mengusap wajah Joongki, percuma memaksakan Joongki, meskipun sedang sakit , sikap keras kepalanya ternyata tetap tidak hilang.

“Ihh , Borara mah gitu” gerutu Joongki sebal.

Oppa, tadi udah makan belum?” Tanya Bora sambil membersihkan riasan diwajahnya.

“Sudah!” Jawab Joongki singkat.

“Oh, baguslah. Ehm Oppa udah tidur?” Tanya Bora sekali lagi.

“Sudah!” Jawab Joongki singkat lagi.

Bora tertawa mendengar jawabannya suaminya, bagaimana mungkin Joongki sudah tidur, sedangkan barusan saja dia menjawab pertanyaan Bora.

“Kok tidak ganti baju?” Tanya Bora sembari menghampiri ranjang mereka.

Joongki membuka matanya sebelah dan melirik kebadannya. Kemudian bangun dan memposisikan dirinya duduk dihadapan Bora sembari mengerucutkan bibirnya.

Sedangkan Bora membalasnya dengan tersenyum , kemudian mengambil piyama berwarna sama dengan Bora didalam koper yang terdapat disamping kiri ranjang mereka.

Dengan malas Joongki mengangkat tangannya keatas. Dan langsung saja Bora membuka kaosnya dan dengan cepat memakaikan piyama tersebut ke tubuh Joongki.

Oppa , maafin Bora ya?” Pinta Bora sembari mengancingkan satu persatu kancing piyama Joongki.

“Hum , gimana ya?”

“Ayolah Oppa , masa Oppa  tega padaku..”

“Iya deh iya , Aku maafin , tapi Borara gaboleh ingkar janji lagi ya?” Tanya Joongki agak serius.

Bora mengangguk senang, “Iya deh. Aku janji. Oh iya Oppa  berdiri dong, makein celananya jadi susah nih.”

Joongki berdiri, dan ketika berdiri sangat terlihat tubuh tingginya yang tegap yang dulu selalu dibanggakannya ketika bermain basket.

Terlihat di depan Bora seorang laki-laki tampan dengan piyama pink dan celana bahan selutut. Bora tersenyum. Dan kemudian memakaikan celana panjang piyama pink tersebut kepada Joongki. Setelah selesai Joongki kembali duduk.

“Nah, sudah selesai. Sekarang Oppa  tidur ya!”

“Borara..”

“Iya Oppa.”

“Kita kapan jalan-jalannya?” Tanya Joongki sedih dengan muka memelas.

Bora menghela nafas. Besok ia masih harus meeting, karena meeting tadi masih belum selesai, dan besoknya mereka harus segera kembali pulang.

“Ehm, Aku usahakan ya Oppa, sekarang Oppa  tidur saja udah malem.” Seru Bora sembari mendorong bahu Joongki untuk tidur.

“Diusahain? Yah,,” Joongki merebahkan dirinya dengan sedih dan memposisikan tubuhnya membelakangi Bora.

Bora ikut merebahkan tubuhnya dan menarik tubuh Joongki supaya menghadapnya.

Dilihatnya Joongki memejamkan matanya dengan paksa dan tanpa senyum. Lalu Bora melakukan ritual biasa sebelum mereka tertidur, menarik wajah Joongki untuk mendekat, dan Joongki tidak berusaha memberontak meskipun sedang dalam keadaan kecewa. Kemudian diciumnya kening , hidung dan bibir Joongki dengan lembut.

“Bora janji besok bakal ngajak Oppa  jalan-jalan.” Serunya sambil mengusap puncak kepala Joongki.

Joongki membuka matanya, “Jeongmal? Gomawoyo Borara,” Serunya sambil tersenyum lebar.

Bora tersenyum, “Cheonmaneyo  Oppa , tapi malam ini Oppa  tidurnya meluk Bora ya?” Pinta Bora manja.

Joongki menaikkan alisnya, kemudian tersenyum, “Yaudah deh , karena besok Borara mau ngajak aku jalan-jalan jadi akutidurnya meluk Borara,” Seru Joongki sembari menarik tubuh Bora untuk mendekat.

“Deg!!” Jantung Bora berdegup kencang. Walaupun sudah lama menikah. Perasaan berdegup kencang ini tidak pernah hilang setiap kali tubuhnya didekap hangat oleh suaminya itu. Dan hal itu baru bisa dia rasakan lagi semenjak 6 bulan lalu, Joongki tidak pernah mendekapnya hangat seperti itu lagi, melainkan dirinya yang selalu mendekap Joongki. Meskipun ditubuh dan posisi yang sama , tentu rasanya akan lain kalau kita yang dipeluk bukan?

—^0^0^0—

Untunglah meeting hari kedua tidak terlalu memakan waktu lama , hanya beberapa jam saja, dan kemudian Bora bisa mengajak Joongki berkeliling disekitar hotel yang mereka tempati. Mereka sengaja hanya berjalan kaki saja , mengingat keindahan tempat – tempat yang mereka lewati sangat sayang untuk dilewatkan.

Dan kini mereka sedang berada di sebuah gedung besar bersejarah pusat kota tersebut. Joongki sangat senang dengan tiap jengkal dari apa yang dilihatnya. Karena kesibukkannya bekerja, Bora sudah jarang mengajaknya pergi.

Mau pergi sendiri, tidak diperbolehkan oleh Bora. Jadilah Joongki menunggu waktu luang Bora untuk mereka jalan-jalan. Dan walaupun belum berkesempatan mendapatkan waktu luang yang banyak. Setidaknya mereka bisa sedikit refreshing.

Namun ternyata hari itu bukan hari keberuntungan bagi mereka berdua. Ketika mereka berada disalah satu tempat yang cukup sepi, mereka dihadang oleh 3 orang laki-laki yang nampak seperti kawanan preman pengganggu.

“Hey , hey , kita lihat ini , sepasang kekasih yang sangaaat serasiii…” Ujar salah satu preman yang sepertinya merupakan ketua dari mereka.

Sontak Bora dan Joongki mundur beberapa langkah. Dan Bora memerintahkan Joongki untuk berlindung dibalik tubuhnya. “Mau apa kalian?” Tanya Bora tegas meskipun sebenarnya dia ketakutan.

“Mau apa? Hem , mau apa ya? Hey kalian berdua enaknya kita apakan mereka berdua?” Seru sang ketua kepada kedua anak buahnya.

“Hahaha ,laki-lakinya keliatan bodoh dan perempuannya lumayan boss, masa iya boss nggak tertarik.” Celetuk salah satu anak buahnya.

‘Deg!’ Bora memundurkan kembali langkahnya diikuti Joongki.

“Hahaha , betul juga apa katamu, lagipula pria yang bersamanya walaupun terlihat serasi sepertinya idiot. Kalian berdua, amankan laki-laki bodoh itu , biar aku yang mengurus wanita ini,” Serunya kepada anak buahnya.

Dan dengan serta merta , kedua anak buahnya menghampiri dan memegang kedua lengan Joongki kuat , dan menariknya menjauhi Bora.

Oppa!!!” Teriak Bora.

“Sssttt..” desis sang Ketua tersebut kepada Bora.

“M-mau apa kalian?” Tanya Joongki ketakutan

“Halah, diam kau , nanti kau juga lihat sendiri!” Bentak salah satu dari mereka.

Sementara Kedua anak buahnya sibuk mengamankan Joongki, sang ketua kini sibuk mendekati Bora, dia melangkah menghampiri Bora dengan gerakan perlahan yang membuat  Bora ketakutan.

Dia mendekati Bora , hendak mencium Bora , namun Bora langsung mengalihkan wajahnya dengan tampang sombong untuk menutupi ketakutannya.

“Kau pikir kau pantas menciumku?” Tanya Bora angkuh

“Heh?” Sang Ketua mengangkat alisnya

“Tidakkah kau memiliki cermin? Orang bertampang bodoh sepertimu tidak pantas menciumku.” Tambah Bora yang tanpa sadar mengundang emosi laki-laki kekar tersebut.

“Sialan kau,” Sang pria kekar yang diketahui bernama Kang In mendorong tubuh Bora dengan kasar hingga Bora terjerembab jatuh ketanah.

“Borara!!!” Seru Joongki yang masih berada dalam jeratan kedua anak buah Kang In.

“Aww,” Bora merintih kesakitan sembari memegangi sikunya. “Ternyata , selain bodoh kau juga pengecut. Banci!” Sambung Bora mencari mati.

“Apa kau bilang? Plakkk!!!” Kang In menampar Bora hingga keluar cairan merah segar dari sudut bibirnya.

“Borara!!” Joongki menjerit lagi mencoba memberontak, dia tidak tega melihat Boraranya ditampar seperti itu, setiap melihat darah , Joongki meyakini bahwa ada luka yang ditimbulkan. Mengapa dia berfikiran seperti itu karena memang dia pernah merasakannya.

Namun percuma saja, karena semakin dia berusaha berontak semakin kencang pula jeratan ditangannya menjadi.

“Rasakan itu angkuh! Kau masih berani mengataiku bodoh!?” Tanya KangIn sembari menangkap wajah Bora dan memegangnya dengan kasar.

Dan Bora menatapnya tajam seakan tidak merasakan takut sama sekali.

“Cuih!” Dan entah keberanian dari mana lagi, Bora meludahi Kangin , Kangin yang terkejut mendorong Bora semakin terjatuh lagi hingga tubuh Bora membentur benda yang keras.

Kangin berdiri, “Kurang ajar kau!!” Serunya sembari mengelap wajahnya dengan sapu tangan miliknya. Dan kemudian Kangin melirik kesekitarnya dan ketika perhatiaannya terhenti pada sebuah balok kayu yang ada didekatnya.

Dan dengan cepat dia mengambil kayu itu, lalu kembali menghampiri Bora kemudian mengambil ancang-ancang untuk memukulkan kayu itu ke Bora.

Bora memejamkan matanya pelan.

“Borara!!!!!!”

“Bruukkk!!!”

Terdengar suara pukulan keras ditelinga Bora, namun kenapa dia tidak merasakan sakit? Dibuka matanya perlahan dan dilihatnya Joongki tengah berlutut dihadapannya, “Borara,” Seru Joongki sebelum akhirnya pingsan.

Oppa!!!” Jerit Bora kemudian.

“Bosss , dia mati! Bagaimana ini??” Tanya salah satu anak buah Kangin

Kangin melemparkan dengan sembarang balok yang dia gunakan tadi, “Aissshhh , sudah tinggalkan saja mereka , lebih baik kita kabur!!” Seru Kangin yang kemudian berlari disusul kedua anak buahnya meninggalkan Bora yang histeris.

Oppa!!” Bora menggapai kepala suaminya, dan dia rasakan basah disekitar kepala Joongki. “Tidak!!!!” Dia melihat tangannya penuh dengan darah.

Oppa!!!!”

—^0^0^—

Sesosok tubuh lemah tak berdaya kini tengah berbaring diatas ranjang putih. Selang infuse terpasang rapi ditubuhnya , ini sudah hampir 5 jam dia tak sadarkan diri.

Sementara itu seorang wanita paruh baya dengan pakaian kotor bernoda darah di tubuhnya masih saja setia menunggu untuk kesadaran sang kekasih.

Dalam diamnya sebenarnya dia menangis. Hanya saja kini suaranya tidak dapat keluar lagi, sudah habis dia keluarkan, namun masih saja tetap tidak membuat keadaannya menjadi lebih baik.

Ini kedua kalinya dia menunggui suaminya dalam keadaan kritis seperti ini. Yang pertama , Tuhan masih memberikan kesempatan untuk suaminya hidup. Namun sekarang , entahlah.

Bora mengelus puncak kepala Joongki dengan sayang. Bahkan luka peristiwa enam bulan lalu pun belum kering benar, namun kini sudah ditambah lagi dengan benturan benda keras yang membuatnya tidak sadarkan sampai sekarang ini.

Suara monitoring detak jantung masih terdengar diruangan bernuansa putih itu. Bora terus memantau perkembangan dari monitor tersebut.

“Kalau dia bisa sadar artinya dia sudah melewatkan masa kritisnya, namun….” seorang dokter menjelaskan bagaimana keadaan Joongki sekarang ini.

“Namun apa dok?” Tanya Bora beberapa waktu lalu ketika Dokter memberi tahu keadaan suaminya.

“Kalau dia tidak sadarkan juga sampai besok, dia tidak akan…”

“Stopp!!!” Bora memotong perkataan dokter tersebut. “Tinggalkan kami berdua dok!” Pinta Bora tegas.

Ini sudah hampir tengah malam, namun Joongki masih saja terbaring lelap diatas ranjangnya.

Oppa,,” Lirih Bora sembari mengenggam tangan Joongki. “Ayo, bangun.Biar besok kita bisa jalan-jalan lagi!” sambungnya kemudian.

Namun Joongki tidak merespon apapun.

“Kau mau jalan-jalan kemana Oppa? Akan kuantar, aku janji. Kali ini aku tidak akan menunda atau mengingkarinya lagi Oppa. Ke lotte world? Atau ke mana pun kau mau, aku pasti akan mengantarmu, tapi aku mohon bangun Oppa!” Ujar Bora penuh kesakitan menahan kesedihannya.

Ditengah kesedihannya meratapi sang suami , tiba tiba Bora dikejutkan dengan suara monitoring detak jantung yang berubah, dilihatnya monitoring tersebut. Garis lurus terpampang jelas disitu.

Bora melihat ke arah Joongki, kemudian menghentakan tubuh Joongki, “Oppa bangun!!!” serunya sambil menangis histeris.

Dilihatnya sisi kanan dekat monitoring detak jantung, segera dia ambil alarm rumah sakit dan menekannya berulang kali dengan panik. Tak butuh berapa lama Dokter dan perawat pun datang. Kemudian mengambil alih memeriksa Joongki.

Bora melihat dokter tersebut menyuruh perawat mengambilkan alat pacu jantung. Dan kemudian menggunakan alat itu pada tubuh Joongki.

Bora menangis melihat tubuh Joongki yang terlihat lemah seperti itu, dia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, bahkan untuk menangis pun suaranya sudah habis.

Dokter terus mencoba memacu jantung Joongki meskipun tak ada respon sama sekali dari Joongki, hingga pada akhirnya sang dokter menghentikkan usahanya.

Bora terkejut, kenapa sang dokter menghentikannya. Bahkan Joongki pun belum menunjukan sedikit reaksi. “Dok kenapa berhenti?” Tanya Bora sembari memegang kedua lengan dokter tersebut kencang.

“Maafkan kami nyonya Song , kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun takdir berkata lain..”

“Tidak! Jangan katakan itu! Cepat sadarkan Joongki dok, bangunkan dia!! Kami sudah menyusun rencana untuk pergi jalan-jalan dok,” Ujar Bora dengan lirih.

“Tolong bangunkan dia dok, aku mohon!” Pintanya sekali lagi.

“Aku hanya memiliki Joongki , dokterrr!!!!!” Serunya kencang.

“Aku mohon dokter,” lirih Bora dengan tubuh yang berangsur terjatuh dilantai.

Sang dokter mencoba membantunya berdiri. “Maaf Nyonya Song,” Serunya sekali lagi.

Bora menoleh kepada Joongki dan langsung memeluk tubuh suaminya tersebut dengan erat seakan tidak ingin kehilangan sosok yang walaupun baru hidup beberapa bulan bersamanya, sudah sangat berarti didalam hidupnya. Yang walaupun 6 bulan terakhir ini, Joongki lebih membuatnya kerepotan ataupun lebih lelah dari biasanya. Itu semua dia terima dengan ikhlas dan dia jalani dengan perasaan tulus.

Bora membayangkan, dengan kejadian mendadak seperti ini, hancurlah segala keindahan akan bayangan masa depan keluarga yang akan dijalaninya bersama Joongki apabila Joongki sembuh nanti. Semuanya telah hilang. Sirna dan lenyap bersama keheningan isak tangisnya yang bahkan tak bersuara.

—-^0^0^—-

END
 

2 thoughts on “Faithful | Bora – Joongki | Oneshoot

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s