SoGyu’s Fanfiction / Tired Of Myself / Romance / Friendship / STRAIGHT / OneShoot

sogyu1

Tittle : Tired Of Myself

Author : Firliyaa

Editor : Lidya Natalia

Pair : Kang Ji Hyun ‘Soyou’ , Kim Sung Gyu

Other Cast : Im Yoona , Hwang Chansung , Kim Dasom

Rate : Teen

Genre : Straight , Romance , Angst, OOC

Length : Oneshoot

***

                Sudah lama aku tidak merasakan jantungku berdegup dengan kencang diiringi nafas yang memburu. Dan sudah lama juga aku tidak pernah nyaris tidak bernapas jika bersamanya. Tidak ada lagi perasaan ingin terus bersama dan rasa ingin ngobrol seperti dulu. Tidak ada rasa ingin tertawa bersama dan mengapit tangannya disela-sela jari tanganku. Rasanya sudah berbeda. Sudah terasa hampa dan kosong. Tidak ada lagi bunga, tidak ada lagi pelangi, tidak ada lagi mata yang berbinar.

***

Jihyun memandang pria yang tertidur disebelahnya. Wajahnya yang tampan dan manis pernah mebuatnya tersenyum hanya dengan memandangnya dari jauh. Matanya yang selalu membentuk senyuman saat menatapnya, hidungnya yang sering membuatnya berseri-seri kala pria itu suka menunjukkan wajah lucunya. Bibirnya yang terasa lembut begitu Jihyun menyentuhnya.

Gadis itu yakin pria itu benar-benar nyaris membuatnya jatuh pingsan saat pertama kali mereka bertemu. Ia juga  yakin bahwa pria itu adalah tipe pria idamannya, bahkan mungkin tipe idaman semua gadis didunia. Ketika ia mengenal pria itu, ia yakin 100% bahwa ia sudah jatuh cinta pada pria itu. Berkat senyumnya dan suaranya.

Kini mereka sudah menjalin hubungan lebih dari 6 tahun. Bulan depan mereka juga genap satu setengah tahun hidup bersama. Jadi ia sudah tahu bagaimana baik dan buruk dari kehidupan pria itu karena mereka sudah lama hidup bersama sebagai sepasang kekasih.

“Kau sudah bangun?” Tanya Jihyun hati-hati, takut membangunkan kekasihnya yang terbaring menghadapnya itu.

“Hm…” Sahut pria itu. Tidak ada senyum seperti dulu saat pria itu bangun dari tidurnya setiap pagi.

Jihyun bangun terduduk dan merapikan rambutnya, “Kau mau sarapan apa?” Tanyanya datar.

“Kopi,” Sahut pria itu juga dengan suara yang tidak kalah  datar.

Ketika Jihyun menoleh, pria itu sudah merubah posisinya menjadi memunggunginya. Jihyun mendesah dan segera mengenakan sendal rumahnya sebelum berjalan menuju dapur didalam rumahnya yang tanpa sekat, kecuali sekat tembok pada kamar mandi.

Jihyun memandang sekeliling, mengingat-ngingat ketika mereka pertama kali memutuskan untuk tinggal bersama satu setengah tahun yang lalu. Mereka memilih apartemen ini karena harganya murah dan juga dekat dengan tempat mereka bersekolah dan bekerja.

Apartemen ini tidak ada sekat kecuali pada kamar mandi. Ketika masuk kedalam, kau langsung dapat melihat dapur  dan ruang makan disebelah kiri serta ruang kosong yang luas disebelah kanan. Mereka menempatkan sofa didekat pintu dan menaruh televisi kecil didepan sofa. Sementara mereka menaruh ranjang ‘Queen size’ dekat balkon dan memunggungi jendela besar disamping pintu yang menuju kearah balkon. Sementara untuk lemari dan meja-meja kecil lainnya mereka taruh sesuai kesukaan mereka masing masing.

Menyewa apartemen ini tidak begitu terasa mahal karena Jihyun bekerja sebagai penyanyi cafe sementara kekasihnya bekerja sebagai pianis di berbagai pertunjukkan juga di berbagai pesta. Gaji yang mereka dapat cukup besar untuk menghidupi mereka dan menyewa apartemen setiap bulannya.

Gadis itu menyalakan mesin kopi dan mulai membuat kopi untuk dua porsi. Matanya menerawang. Cahaya matahari yang mengintip dari jendela tidak membuat apartemen itu terlihat cerah, malah Jihyun menganggapnya sebagai kegelapan hingga waktu tidurnya datang.

“Sunggyu oppa?” Panggil Jihyun sambil memastikan kekasihnya sudah benar-benar bangun. “Kopinya…” Desah Jihyun sembari menuangkan kopi pada sebuah cangkir dihadapannya dan menyerahkannya pada pria yang ia panggil ‘Sunggyu Oppa’ didepan counter.

“Terima kasih,” Bisik Sunggyu lemah. Setelah meneguknya seteguk, pria itu bangkit dan pergi menuju kamar mandi. Wajahnya terlihat serius dan pagi ini Jihyun masih belum menemukan senyum pada wajah tampan kekasihnya itu.

Setelah Sunggyu keluar dari kamar mandi, Jihyun melihat pria itu mengenakan kemeja dan celana bahan panjang. “Kau mau keluar, oppa?” Tanya Jihyun memastikan.

“Ya, mungkin aku akan pulang larut malam. Jangan tunggu aku.” Sahut Sunggyu sambil menyeruput habis kopinya. “Kopimu seperti biasa, enak.” Tambah pria itu, sementara Jihyun tidak tampak tersenyum dengan pujian yang dilontarkan kekasihnya tersebut. “Aku pergi…” Pamit Sunggyu sembari mengecup pipi Jihyun sebelum keluar.

“Hati-hati…”

***

Sunggyu mendesah dalam. Ia sudah bekerja seharian penuh dari satu gedung ke gedung lainnya. Mulai dari acara pernikahan, latihan untuk tampil dalam drama musikal minggu depan hingga tampil dalam acara musikal anak-anak kecil menjelang musim panas.

Sebenarnya ia sudah sering melakukannya hingga jarinya nyaris terlepas dari tangannya karena seharian memainkan tuts-tuts piano tanpa lelah. Tapi akhir-akhir ini ia merasa benar-benar lelah hingga rasanya sulit bernapas karena kelelahan. Tapi ia harus tetap datang ke gedung terakhir untuk bermain piano dalam latihan untuk menggantikan seniornya yang sedang cedera pergelangan tangan.

“Terima kasih…”

Sunggyu menoleh. Seorang gadis cantik berdiri disampingnya, tersenyum memandangnya. Sunggyu hanya memandangnya heran.

“Oh, terima kasih untuk bermain piano sore ini. Kalau bukan karena kakakku cedera pergelangan tangan, pasti bukan kau yang bermain disaat tubuhmu memerlukan energi seperti ini.” Ujar gadis itu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Sunggyu membalas senyuman gadis itu, “Terima kasih kembali. Setidaknya pertunjukkan ini menyelamatkan aku untuk mendapatkan makan siang di hari berikutnya,” Ujar Sunggyu membuat gadis itu menunjukkan wajah kebingungan. “Ah… maksudku, aku membutuhkan uang dari bermain piano ini untuk besok.” Jelas Sunggyu yang membuat gadis itu mengangguk mengerti dan tersenyum kembali.

“Ngomong-ngomong, aku Yoona. Im Yoona. Aku guru dari taman kanak-kanak ini. Kau…?”

“Kim Sunggyu. Senang berkenalan denganmu. Aku pianis, setidaknya memang itu pekerjaanku.” Jelas Sunggyu seranya memamerkan giginya yang putih.

Gadis yang bernama Yoona itu tersenyum manis, “Baiklah kalau begitu. Malam ini sehabis membereskan panggung, kami berencana untuk merayakan keberhasilan acara sore ini. Kau bisa datang kalau kau mau.”

“Wah, pasti menyenangkan. Tentu saja aku mau. Kau bisa menghubungiku ke…” Sunggyu mengeluarkan secarik kertas dari buku musik miliknya dan sebuah pulpen dari kantong kemejanya kemudian ia menulis nomor ponselnya dan memberikannya pada Yoona.

Yoona mengambil kertas itu, “Akan aku pastikan aku menghubungimu… eh maksud ku aku akan mengundangmu,” Ujar Yoona terdengar gagap. Sunggyu melihat Yoona seperti menyesali sesuatu saat mengatakannya. Itu mengingatkannya pada seseorang saat pertama kali ia bertemu.

“Tentu saja…”

***

Waktu menunjukkan pukul 10 malam, tetapi Jihyun masih berada diruang ganti penyanyi dan memandang cermin yang penuh dengan bohlam didepannya. Perlahan-lahan ia membuka bulu mata palsu yang menempel pada matanya. Kemudian ia memandang cermin lagi dengan sebelah matanya yang sudah tidak memakai bulu mata palsu.

“Ini wajahku yang sesungguhnya…” Gumamnya pelan pada bagian wajahnya yang sedang ia bersihkan. “Dan ini wajahku yang… bahagia?” Gumamnya lagi pada bagian wajahnya yang lain. “Aku sedang berpura-pura…” Jihyun menatap wajahnya dengan perasaan campur aduk.

Setelah membersihkan wajahnya dan mengikat rambutnya tinggi keatas, ia segera berpamitan pada seisi cafe untuk segera pulang karena shift menyanyinya sudah selesai.

Ketika kakinya menapak keluar cafe, ia seperti melihat orang yang sangat ia kenal menuju sebuah restoran keluarga yang tidak jauh dari tempatnya menyanyi. Ia memperhatikan orang itu dari kejauhan dengan seksama. Perlahan ia mendekati orang itu sambil menatapnya tidak percaya.

“Chansung oppa?” Sapa Jihyun memastikan. Orang itu menoleh dan terkejut.

“Jihyun? Kang Jihyun?” Sapa orang yang Jihyun panggil Chansung oppa itu. “Apa yang kau lakukan disini? Kau bersama siapa?”

“Aku bekerja didekat sini, tapi aku baru saja pulang. Dan aku sendirian. Bagaimana dengan oppa? Kau sendirian?” Pria tinggi itu mengangguk.

“Kau ingin bertemu dengan seseorang?”

“Tidak. Kau?”

Jihyun menggeleng.

“Kebetulan sekali. Bagaimana kalau makan dulu sebelum kau pulang?” tanya Chansung, Jihyun terlihat ragu. “Dengar, aku berjanji akan mengantarmu pulang begitu kita selesai makan. Bagaimana?” tanya Chansung memastikan.

Jihyun teringat akan janji Sunggyu yang akan pulang larut hari ini, jadi ia mengangguk mengiyakan ajakan Chansung. Toh Sunggyu tidak akan mengajaknya makan diluar bahkan mungkin mereka tidak akan makan bersama hari ini.

Saat didalam restauran keluarga tersebut, Jihyun tidak melepaskan pandangannya dari Chansung yang juga sedang menatapnya. Seakan-akan mereka seperti menutupi rindu masing-masing yang tidak bisa dilampiaskan.

“Bagaimana keadaanmu?” Ujar Chansung seraya menyeruput soju yang berada dihadapannya.

“Aku baik, bagaimana denganmu oppa?” Chansung menjawabnya dengan baik bahwa ia baik-baik saja. “Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?”

“Aku membantu ayahku diperusahaan. Kau tau sendiri kan, ayahku selalu memintaku untuk meneruskan perusahaannya,” ujar Chansung yang mendapat anggukkan dari Jihyun. “Dan kau sendiri?”

Jihyun menjawab dengan antusias apa yang ia lakukan selama ini.Cara mereka mengobrol mengingatkan Jihyun dengan Chansung dulu, saat mereka dulu saling menyukai satu sama lain. Walaupun mereka tidak pernah saling mengatakan bahwa mereka saling menyukai, tapi orang buta pun dapat mengetahui kalau mereka saling menyukai. Sampai akhirnya Chansung harus mengakhiri rasa sukanya pada Jihyun karena ia ingin menuruti kata ayahnya untuk sekolah di luar negeri.

Kalau saja Chansung tidak pergi, mungkin saat ini Jihyun tidak berhubungan dengan Sunggyu.

Setiap kata yang ia ucapkan seakan-akan mengatakan bahwa ia merindukan Chansung. Seperti kembali pada waktu 6 atau 7 tahun yang lalu. Bahkan ia sendiri lupa kapan sebenarnya ia terakhir kali bertemu dengan Chansung. Jihyun menopang dagunya dengan satu tangannya sambil memasukkan acar sayur ke mulutnya dengan tangan yang lainnya. Ia merasa badannya ikut tertawa ketika Chansung mengatakan sesuatu hal yang lucu dan membuatnya tertawa.

“Jihyun…” Panggil Chansung setelah mereka berhenti tertawa. Jihyun terdiam, ia kembali menegakkan kepalanya dan berhenti memasukkan acar sayur dan memperhatikan Chansung sambil menunggu kata-kata lain yang akan keluar dari mulut Chansung. “Aku merindukanmu…”

Jihyun tercengang saat Chansung mengatakan bahwa pria tinggi itu merindukannya. Seperti sebuah kata ajaib, gadis itu juga mulai merasa ia benar-benar merindukan Chansung.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Chansung dengan wajah cemas. Jihyun tersenyum dan mengangguk hingga wajah Chansung sudah kembali tidak mencemaskannya. “Apa kau sakit?” Tanya Chansung, Jihyun menggeleng.

“Bagus kalau begitu. Ayo kita berjalan-jalan sebentar di pasar malam. Aku sudah lama tidak kesana,” Ajak Chansung antusias yang disambut anggukan kepala Jihyun. “Terakhir aku kesana ketika beberapa hari sebelum aku pergi ke Amerika. Kau ingat? Kita pergi bersama!” Nada suara Chansung yang girang menyebabkan Jihyun mengangguk sambil tertawa.

Tak lama kemudian, Chansung dan dirinya sudah berada di pasar malam yang ramai dipadati pengunjung di hari Sabtu.. atau mungkin minggu?

“Kau mau ddokkbukki?” Tanya Jihyun ketika melihat penjual makanan yang berasap di dekatnya. Chansung mengangguk. “Aku saja yang bayar, Oppa!” seru Jihyun saat melihat Chansung mengeluarkan dompetnya. Pria itu tersenyum dan kembali memasukkan dompetnya.

Setelah membayar ddokkbukki, Jihyun berjalan beriringan dengan Chansung yang tertawa karena hal-hal lucu yang mereka dulu lakukan ketika satu sekolah.

Tiba-tiba saja langkah Jihyun terhenti ketika melihat siapa yang ia lihat.

“Sunggyu Oppa?” Gumam Jihyun. Matanya  terbelalak ketika melihat siapa yang sedang mengapit lengan kekasihnya itu. Seorang gadis manis. Mereka terlihat tertawa dan bahagia dengan gulali besar yang ada ditangan Sunggyu yang diapit oleh gadis itu.

Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Pantas saja Sunggyu tidak pernah datang makan bersamanya beberapa minggu belakangan ini. Pantas saja Sunggyu tidak pernah mengecup keningnya lagi saat ia pergi keluar apartemen. Pantas saja Sunggyu tidak pernah tersenyum lagi ketika Jihyun berada didepannya. Pantas saja…

“Chansung Oppa?” Panggil Jihyun dengan suara lemas sambil menarik jas yang Chansung pakai. “Aku rasa aku sakit. Sebaiknya aku pulang sekarang…”

***

“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ujar Yoona sambil menyodorkan helm pada Sunggyu yang langsung disambut anggukkan antusias dari pria bermata sipit tersebut. “Kau mau masuk dan menyapa kakakku dulu?” Tanya Yoona lagi seperti tidak merelakan Sunggyu pergi dari sana.

Sunggyu menatap Yoona lemah, “Aku rasa tidak perlu. Lagi pula ini sudah malam,” Sunggyu melirik jam tangannya. “Sudah pagi sepertinya. Kirim salam saja pada kakakmu dariku. Dan jangan lupa bilang padanya untuk mengembalikan sheet nada padaku besok. Aku membutuhkannya untuk tampil dalam musikal akhir minggu ini,” Ujarnya sambil bercanda. Sunggyu memamerkan barisan giginya yang rapi dan putih, membuat pipi Yoona terlihat kemerahaan.

Baru saja dua minggu terakhir ini Sunggyu mengenal Yoona. Dan mau tak mau ia membandingkan gadis kurus itu pada kekasihnya yang terlihat lebih berisi. Ia memulai dengan membandingkan penampilan saat mereka pertama kali bertemu. Yoona terlihat ramah dan seperti membuka diri pada semua hal dan selalu terlihat manis, sementara Jihyun terlihat kuat walaupun wajahnya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.

Yoona selalu terlihat cantik dan feminin yang juga mengingatkannya pada kekasihnya yang selalu menunggunya dirumah mereka. Yoona mempertahankan rambut hitamnya yang lurus sementara Jihyun mewarnainya dengan warna cokelat muda dan memberikan ekstra gelombang yang rapi pada rambutnya yang mengembang. Yoona juga selalu menakar makanannya dan menjaga image-nya yang ramah dan sopan, mengingat Yoona adalah guru tk yang menjadi kandidat terkuat untuk dijadikan contoh. Sementara Jihyun pasti selalu menghabiskan makanannya dan apapun yang tersisa di mejanya tanpa memikirkan apa yang akan dinilai oleh Sunggyu.

Tiba-tiba ia seperti merasa bersalah pada kekasihnya karena menghabiskan 2 minggu terakhir ini bersama dengan Yoona, bukan dengannya. Ia berpikir mungkin saja gadis itu tengah tertidur dimeja makan menunggunya pulang seperti saat seminggu yang lalu, saat ia dan Yoona bermain bersama anak-anak tk lain di sebuah taman bermain dan berakhir menonton bioskop bersama Yoona sebelum akhirnya mengantarkan gadis itu pulang.

Setelah berpamitan pada Yoona, ia segera mengendarai sepeda motornya pulang. Disepanjang perjalanan ia kembali berpikir. Apa yang membuatnya menjauhi kekasihnya itu, dan seperti mencari sesuatu pada hal yang lain. Misalnya pada pekerjaannya dan mungkin Yoona.

Sesampainya didepan apartemen, ia melihat Jihyun turun dari sebuah mobil dengan dibantu oleh seorang pria yang tinggi badannya terlihat (dan memang) lebih tinggi dari postur tubuhnya. Jihyun tersenyum senang dan bahkan tertawa saat pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Jihyun turun dari mobilnya.

Seketika saja tubuh Sunggyu merasa panas. Beruntung saja ia seorang pianis, kalau tidak ia akan mempunyai kuku jari yang panjang dan melukai tangannya sendiri karena pada saat ini Sunggyu mengepalkan tangannya kuat hingga sisi telapak tangannya yang lain ikut memerah.

Pria itu menutup pintu mobil dan menarik lengan Jihyun yang akan pergi masuk kedalam apartemen menjadi menghadap pada pria itu kembali. Ia tidak perlu berada tepat didepan Jihyun untuk mengetahui pipi Jihyun memerah ketika pria itu memeluknya.

Tiga puluh detik kemudian ia mendengar Jihyun memekik, dan kemudian ia sadar bahwa dirinya sudah memukul pria itu hingga nyaris tersungkur kalau saja ia tidak bersandar pada mobilnya.

Omooo~ Chansung Oppa!!!!” Pekik Jihyun yang membuat Sunggyu semakin meluapkan amarahnya. Ia meraih kerah baju pria yang Jihyun panggil Chansung Oppa tersebut. Tepat saat itu ia juga mendengar Jihyun berteriak dan tangannya berada diantara tubuh-tubuh mereka yang besar.

Chansung terlihat juga mengepalkan tinjunya dan meninju wajah Sunggyu sehingga pria itu tersungkur ke tanah. Tapi seperti tidak mau kalah, Sunggyu berdiri dan kembali menerjang Chansung. Ia yakin Chansung pasti juga mendengar pekikkan Jihyun yang terdengar seperti jeritan.

“Sunggyu Oppa!! Chansung Oppa!! Hentikaaannn~!!” Jerit Jihyun, namun kedua pria dewasa itu tidak mau berhenti dan terus saling memukul diatas aspal yang dingin karena udara malam.

***

Jihyun memandang sekelilingnya. Ia mengambil ember yang berisi air didekatnya dan mengguyur kedua pria besar yang terlihat seperti anak umur lima tahun yang merebutkan sebuah mobil-mobilan keren atau satu warna krayon.

Kedua pria itu tetap saling memukul. Jihyun sudah terlihat dan merasa putus asa. Jadi ia melompat kearah kedua pria itu dan membuat keduanya terkejut dengan lompatan dan bantingan Jihyun pada mereka. Sedetik kemudian, mereka sudah saling melepaskan diri.

Jihyun bangkit dari ‘jatuh’-nya dan menatap Chansung dengan tatapan bersalah. “Oppa, aku minta maaf. Tapi aku harap kau bisa pulang sekarang. Aku akan menyelesaikan ini dulu,” Ujar Jihyun pada Chansung serta memutar matanya saat ia mengatakan ‘ini’.

Setelah Chansung berpamitan pulang, Jihyun menatap Sunggyu yang wajahnya membiru dibeberapa tempat. Pada saat normal, Jihyun akan mengobati wajah Sunggyu sambil mengusap memarnya perlahan dan mengecupnya sambil berharap ia segera sembuh. Tapi pada saat ini ia sendiri bingung mengapa Sunggyu menyerang Chansung yang tengah memeluknya. Memang seharusnya Chansung tidak perlu memeluknya untuk mengucapkan perpisahan malam ini. Tapi Sunggyu juga tidak perlu memukulnya sampai ia nyaris tidak mengenali wajah Chansung tadi.

“Kita bicarakan ini diatas,” Dengus Sunggyu sambil berjalan menaiki anak tangga dengan suara hentakan kaki yang keras. Jihyun mengikuti Sunggyu dibelakangnya dengan diam. Berpikir apa yang membuat kekasihnya memukul ‘teman’ lamanya.

Sesampainya didalam apartemen, Sunggyu segera berjalan menuju lemari es dan mengambil es batu kemudian memasukkannya pada saputangan handuk yang tadi sudah ia ambil dari lemari kecil disampingnya.

Jihyun hanya menunggu Sunggyu mengatakan sesuatu. Dalam waktu lima belas menit terakhir, ia belum berbicara apapun pada Sunggyu begitu pula Sunggyu yang belum mengatakan apapun padanya seharian ini.

“Darimana saja?” Desis Sunggyu sambil mengaduh saat ia mengompres bagian memar diwajahnya.

“Pulang dari menyanyi,” Sahut Jihyun dengan tetap berdiri beberapa meter dari pintu. Gadis itu sudah memakai sendal rumah yang berbulu.

Sunggyu menggeram, “Aku tau kau menyanyi sampai pukul 10 malam!! Dan kau tau ini jam berapa?!” Jihyun menatap jam, jam 12.30 pagi. “Kau… tidak… seharusnya… pulang… hingga… tengah… malam… begini…” desis Sunggyu menahan emosinya. Sementara Sunggyu memendam emosinya, Jihyun hanya mengangguk. Gadis itu tidak mengambil satu langkah pun dari tempatnya berdiri.

10 menit sudah berlalu. Jihyun tetap berada ditempatnya, Sunggyu juga masih tetap mengompres wajahnya dan meringis begitu ia merasa sakit saat menekan bagian wajahnya yang memar.

“Apa kau butuh…”

“TIDAK!!” Potong Sunggyu seraya melemparkan kompresannya kedalam bak cuci piring. Wajahnya terlihat sangar dan nafasnya terdengar memburu. Membuatnya nyaris seperti monster yang membuat Jihyun mengecil seketika.

Jihyun memandang Sunggyu penuh rasa takut. Wajahnya seketika itu juga memucat. Ia belum pernah melihat Sunggyu semarah ini. Ia malah tidak pernah melihat Sunggyu marah. Yang ia tau, saat Sunggyu marah, pria itu akan diam dan tak mau berbicara bahkan tidak akan mau tidur satu ranjang dengannya. Tapi kali ini, Sunggyu ‘marah’ sekaligus membuatnya takut.

“Mengapa pria itu memelukmu?” Ujar Sunggyu dengan nada halus. Sepertinya rasa marahnya mulai mencair seiring dengan jangka waktu Jihyun menatapnya.

“Dia hanya teman lama. Chansung Oppa hanya memberikan salam perpisahan sebelum ia kembali pulang. Itu saja,” Jelas Jihyun dengan nada yang datar. Gadis itu berusaha menahan tangisnya.

“Lalu kenapa kau pergi dengannya?” ini suara Sunggyu sudah mulai normal. Ia sudah tidak terlihat ‘membara’ lagi.

Jihyun terdiam. Ia tidak yakin harus mengatakan ini atau tidak. Tapi yang jelas ia tidak mau terus-terusan merasa bersalah.

“Kau tau, Oppa?” Jihyun berjalan lima langkah kecil mendekati Sunggyu yang berdiri dengan tangan bersedekap didadanya di dekat lemari es. “Selama satu bulan belakangan ini aku merasa kita sudah berbeda…”

***

 “Kau tau, Oppa?” Jihyun mendekati Sunggyu yang mulai menegang. “Selama satu bulan belakangan ini aku merasa kita sudah berbeda…” Sunggyu mendengar nada suara Jihyun yang bergetar. Wajah putihnya memucat dan membuat gadis itu terlihat seperti sedang terserang demam dan flu.

Tidak dipungkiri kalau Sunggyu juga merasa ia memperlakukan Jihyun berbeda. Seperti merasa jenuh pada gadis itu. Entah karena ia dan Jihyun sudah bersama selama lebih dari 6 tahun dan sudah tinggal bersama lebih dari 1,5 tahun. Ia seperti merasa harus menemukan sesuatu yang berbeda.

“Enam hari yang lalu, hari sabtu. Atau minggu pagi. Entahlah… aku melihatmu…” Tubuh Sunggyu menegang. Melihatku apa?! Pekik Sunggyu didalam otaknya. “Bersama seseorang… yang cantik dan lebih putih dariku…” Sunggyu menghembuskan napas. Ia baru sadar bahwa ia menahan napasnya ketika Jihyun mengatakan ‘aku melihatmu’ yang membuatnya tegang.

Sunggyu menatap jendela yang berada cukup jauh dari punggung Jihyun. Ia berusaha menyembunyikan perasaan bersalahnya pada gadis yang lama ia cintai itu.

Wajah pucat Jihyun terlihat mulai memerah. Sunggyu tau wajah itu akan membuatnya semakin merasa bersalah. Ketika setitik air keluar dari mata gadis itu seketika saja Sunggyu ingin berlutut dan mencium kaki Jihyun karena merasa bersalah.

“A-aku berpikir untuk menghampirimu saat itu juga. Tapi kemudian aku hanya bisa menatap kau dari kejauhan, Oppa…” Bibir tipis Jihyun saat itu terlihat bergetar. “Kau tau, Oppa? Pertama-tama aku  berpikir bahwa saat itu juga aku ingin melompat dari gedung yang tertinggi begitu melihat gadis itu mengapit lenganmu dengan rapat. Tapi detik selanjutnya aku merasa ingin muntah karena sudah berpikir sedemikian buruk.”

Sunggyu masih terdiam, menunggu Jihyun menyelesaikan ucapannya.

“Aku selalu berpikir apa yang salah padaku dari hari itu. Aku selalu berpikir apa yang terasa kurang dariku. A-aku tidak tau sejak kapan kau mendiamkanku dan hanya menganggapku teman tidur satu ranjangmu. Sampai…” Jihyun berusaha menelan ludahnya. Sepertinya ia sulit untuk mengatakannya. Sunggyu menahan napasnya, “Sampai aku mulai mengerti… aku mulai mengerti… aku mulai mengertiii!!!” Jerit Jihyun seketika kemudian gadis itu berjongkok dan menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya.

Sunggyu bisa mendengar jeritan tangis Jihyun dari sela-sela jari gendut panjang gadis itu.

“Kau mengerti?” Desis Sunggyu. Emosinya sudah sangat berubah. Ia sudah tidak lagi merasa marah dan tidak lagi ingin mencekik pria yang tadi memeluk Jihyun dan juga mencekik kekasihnya sendiri karena menerima pelukan pria itu.

Jihyun mengangkat kepalanya, “Ya! Aku mengerti!! Sangat mengerti!! Oppa sudah tidak mau lagi bersamaku. Kau mulai jenuh padaku, Oppa! Tapi kau merasa kasihan padaku dan memutuskan untuk tetap bersamaku… juga bersama gadis itu.” Isak Jihyun. Wajahnya memerah karena emosi rasa tangisnya dan emosi kemarahannya.

“Aku tidak—”

“Aku berjanji akan segera pergi dari sini dan membereskan semua barangku.” Potong Jihyun. Dan satu detik kemudian gadis itu sudah pergi sambil menyambar tas dan sepatunya keluar. Sunggyu tidak bisa berbuat banyak. Benar. Ia memang merasa jenuh pada gadis itu. Ia sepertinya juga sudah merasa bosan dengan kehadiran Jihyun disamping tempat tidurnya. Tapi itu bukan berarti ia mau melepas gadis itu pergi meninggalkannya. Dan bukan berarti ia tidak lagi mencintainya.

Dengan kesal Sunggyu menonjok dan menendang semua benda keras yang ada dihadapannya. Ia sudah tidak perduli dengan rasa sakit yang dihadiahkan pria yang tadi memeluk Jihyun. Ia juga tidak memperdulikan denyutan di sekitar kepalan tangannya dan di punggung kakinya.

***

Sudah satu bulan Sunggyu tidak mengecap kopi buatan Jihyun. Ia bahkan tidak tau bagaimana kabar mantan kekasihnya tersebut. Terakhir pria itu melihat Jihyun saat gadis tinggi itu datang untuk mengambil beberapa barang pribadinya. Mereka tidak banyak bicara saat Jihyun datang dan kemudian pergi lagi. Gadis itu hanya mengatakan selamat tinggal sebelum ia meninggalkan apartemen tersebut.

Keadaan Sunggyu tidak bertambah baik setelah Jihyun pergi. Walaupun Yoona masih sempat datang dan menemaninya di apartemennya, tetap saja rasanya berbeda. Bukan karena postur tubuh mereka atau ‘besar’nya badan mereka. Rasa hangatnya berbeda. Rasa hangat Yoona hanya seperti rasa hangat di permukaan gelas kopi. Ketika kau menyentuhnya maka rasa hangatnya hanya pada bagian tepat dimana kau menyentuhnya. Tapi rasa hangat Jihyun seperti kopi hangat. Ketika kau meminumnya, maka rasa hangat itu menjalar hingga keseluruh tubuhmu. Hangat dan nyaman.

Beberapa kali sempat Sunggyu berusaha menelepon Jihyun untuk meminta maaf. Tapi sepertinya Jihyun mengganti nomor ponselnya, jadi ia tidak dapat menghubungi gadis itu.

Bahkan Sunggyu sempat mampir ketempat kerja Jihyun. Tapi sepertinya Jihyun juga sudah tidak lagi bekerja disana. Dan kenyataan itu malah membuat Sunggyu semakin patah hati. Seakan-akan Jihyun memang ingin menghindari Sunggyu dan tidak ingin bertemu lagi dengannya.

***

Jihyun berhenti menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Hari ini ia berniat untuk menjenguk temannya yang kebetulan sedang sakit. Sebentar-sebentar Jihyun melirik jam tangannya. Memastikan ia akan datang tepat waktu ke rumah sakit karena waktu menjenguk hanya terhitung satu jam dari lima belas menit yang lalu. Ia tidak mau terlambat satu menitpun.

“Jihyun?” Jihyun terkejut dan terdiam lama. Ia meyakinkan dirinya bahwa suara itu bukanlah suara yang dibuat oleh khayalannya saja. Setelah yakin suara itu bukan hanya halusinasinya, kini ia menahan dirinya untuk tidak langsung melompat dan memeluk pemilik suara itu.

Ketika Jihyun menoleh, benar saja, ia hanya ingin melompat kedalam pelukan pria itu dan menciumi aroma leher yang ia rindukan itu.

“Sunggyu Oppa?!” Suara gadis itu benar-benar terdengar terkejut. Entah karena  terkejut dengan apa yang ia rasakan atau terkejut dengan ingatan lamanya ia tidak bertemu dengan Sunggyu.

Gadis itu mengernyitkan dahi. Bingung dengan keberadaan Sunggyu di trotoar jalan. Ia tau Sunggyu sangat mencintai motornya dan tidak akan melepaskannya. Tapi kini ia berada di trotoar, tanpa motor dan berhadapan dengannya.

“Motor?” Tanya Jihyun singkat dengan pandangan mencari.

“Sedang di bengkel.” Jawab Sunggyu singkat diikuti anggukan kepala Jihyun.

“Eh?” Jihyun terkejut dengan beberapa luka lebam di sekitar pergelangan tangan kiri dan di pelipis Sunggyu, “Kau terluka?” Tanya Jihyun sambil menunjuk bagian yang lebam. Sunggyu hanya tersenyum dan menutupi luka pergelangan tangannya dengan coat biru tuanya sementara ia memiringkan kepalanya, mencoba agar Jihyun kesulitan melihat memar di tubuhnya.

“Oppa?” Desak Jihyun dengan nada memaksa, alisnya terangkat satu dan matanya berkilat-kilat. Gadis itu tidak lagi perduli dengan lampu lalu lintas dan keadaan temannya yang sakit. 4 jam lagi ia bisa menjenguk temannya itu. Ia yakin.

Sunggyu tersenyum, “Kau terdengar seperti mengkhawatirkan aku…” Gumam Sunggyu yang sepertinya memang disengaja agar Jihyun mendengarnya. Sementara itu Jihyun hanya mengangkat satu alis matanya tinggi-tinggi. Ekspresi yang selalu ia berikan jika Sunggyu tidak sengaja memecahkan gelas tanpa mengaku atau ketika pria itu berpura-pura sibuk agar tidak disuruh mencuci baju.

Kini Jihyun melihat Sunggyu tertawa terbahak-bahak, “Aku tau… aku  tau…” setelah menghentikan tawanya, Sunggyu menatap Jihyun dengan tatapan tak terbaca. “Aku hanya terluka karena jatuh dari sepeda motor. Itu saja…” Jihyun berusaha keras untuk tidak menyentuh bagian luka di tubuh Sunggyu. “Tapi kalau kau mengkhawatirkan aku, sebaiknya kau pulang.”

Jihyun menahan napasnya. Ia tidak yakin dengan apa yang didengarnya barusan. Sekuat tenaga ia mencoba untuk mengontrol emosi dan mimik wajahnya agar tidak dibaca oleh Sunggyu. Ketika ia mendengar Sunggyu terkekeh, gadis itu menghembuskan nafas lega karena pria itu tidak sedang membuatnya pusing.

“Aku hanya berpikir untuk mengulangi semuanya,” jelas Sunggyu setelah tawanya mereda. “Rasanya seperti sebelah paru-paruku hilang. Atau seperti saat kau sedang flu hingga tidak bisa bernapas. Aneh, dan…. sulit.” Lanjut Sunggyu. Jihyun menatap Sunggyu. Bingung.

Pria itu tersenyum, jenis senyuman yang selalu membuat Jihyun melompat kearahnya untuk mencium pipi pria itu karena terlihat manis. “Kau tau, ketika kau benar-benar pergi aku merasa lemas. Seperti tidak punya otot lagi… bukan karena aku tidak meghirup dan menyesap kopimu.” Ujar Sunggyu yang merubah senyumnya menjadi cengiran dan membuat Jihyun tersenyum.

Sebenarnya tubuh gadis itu merinding, perutnya bergemericik seperti banyak kupu-kupu didalamnya, matanya tidak benar-benar fokus, nafasnya terasa sulit saat Sunggyu tersenyum dan mengubah senyumnya menjadi cengiran.

“Jadi?” tanya Jihyun berusaha menyembunyikan perasaannya yang kalang-kabut.

Sunggyu terdengar berdehem, “Jadi?… bagaimana kalau kita minum kopi  atau makan siang untuk menyelesaikan kalimat ‘jadi’?” Kata Sunggyu.

“Aku tidak tau. Aku harus menjenguk temanku…” Ujar Jihyun terdengar terkejut karena ia sendiri baru teringat akan temannya yang masuk ke rumah sakit.

Jihyun melihat Sunggyu mengangguk-angguk. “Kau bisa menjenguknya bersamaan denganku. Memanngnya siapa yang sedang sakit?” Tanya Sunggyu mencoba berbasa-basi untuk mendapatkan apa yang  ia inginkan.

“Dasom. Kau mungkin kenal. Dia sering membantuku untuk membawakan kostum dan memasangkannya padaku.” Setelah melihat Sunggyu mengangguk tanda ia mengingat siapa Dasom, Jihyun melanjutkan, “Dia sakit parah karena tidak mau makan.” Jelas Sunggyu masih dengan anggukan.

“Eh, beberapa hari lalu aku melewati cafe tempatmu bekerja. Sepertinya kau tidak bekerja lagi disana ya?”

Jihyun menahan napas, “Ti-ti-tidak juga, aku hanya sedang mengambil waktu istirahat karena orang tuaku ingin aku membantu mereka untuk mempersiapkan peringatan hari kematian kakek,” Jelas Jihyun dan kemudian ia menghembuskan nafas.

Ia terdengar tergagap karena mengetahui Sunggyu sengaja mampir ke tempat kerjanya untuk menemuinya.

“Dan kau mengganti nomormu?”

Jihyun kembali berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlalu senang karena fakta bahwa Sunggyu sudah meneleponnya dan ia tidak menjawabnya. “Ya. Kebetulan aku juga tidak senggaja menjatuhkan ponselku ke lantai bawah dari apartemen baruku ketika aku sedang berada di balkon. Jadi aku mengganti ponselku dan nomorku.” Jihyun tersenyum dan menghela nafas pendek, “Memangnya ada apa Oppa meneleponku?”

“Sebaiknya kita membicarakannya sambil makan siang. Itu lebih baik sepertinya…” Ujar Sunggyu yang sekarang segera diberi anggukan mantap dari Jihyun.

***

END

4 thoughts on “SoGyu’s Fanfiction / Tired Of Myself / Romance / Friendship / STRAIGHT / OneShoot

  1. a loveee it!!!
    sequel dong please><
    pas scene sunggyu adu jotos sama chansung seru banget tuh kayaknya, macem nonton chris joon di atas ring tinju wkwk /salah /plaak😄
    anyway suka banget! nice fic, share more SoGyu!!^^ fighting!!^^
    regard, cicicipta

  2. a loveee it!!! sequel dong please>< pas scene sunggyu adu jotos sama chansung seru banget tuh kayaknya, macem nonton chris joon di atas ring tinju wkwk /salah /plaak😄 anyway suka banget! nice fic, share more SoGyu!!^^ fighting!!^^ regard, cicicipta

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s