[Remake Fiction ] EXOSTAR’s Fanfiction / My Gentle Wolves / Romance / Friendship / Part 2

sesomchan

Tittle : My Gentle Wolves

Cast : Kim Dasom, Oh Sehun , Park Chanyeol , Yoon Bora, Wu Yi Fan

Genre : Straight , Romance , Friendship

Rate: Teen

Length : Chapter

Author : LidyaNatalia

Warning : some typos , short fiction. If you do not like this couple or this Genre. Please do not read this Fiction. Basher will be blocked.

A/N :Hey Readers!! Long time no see you all :D Well , I come again after disappear for so long. And Then , this is my new fiction story about EXOSTAR ^^ If you dislike this Story , don’t read it , okay? Ayo dong kasih komentarnya juga, biar cepet di update🙂

Disclaimer: Alur cerita milik SHIBA Nana. Aku hanya me-remake-nya menjadi versi SESOM. Selain itu juga akan ada sedikit improve atau modifikasi dan penyesuaian dari aku sendiri.

Let’s check it out the story…

***

-C.H.A.P.T.E.R.2-

Senin, 06:30 KST

“BRAK!!!”

Dasom menutup pintu kamar mandi dengan kencang. Rasa kesal yang memuncak akan perlakuan Wu Brothers kepadanya benar-benar sudah kelewatan semalam. Dan kini Dasom berada di kamar mandi untuk berendam guna menghilangkan rasa kesalnya, sebenarnya juga untuk bersiap berangkat kesekolah. Bahkan dalam mimpipun mereka datang untuk membuat Dasom kesal.

Diambilnya sabun cair yang memang sudah dia bawa dari rumahnya ketika akan menginap disini. Dituangkannya sabun cair tersebut kedalam bathtub besar yang sudah diisikan air terlebih dahulu.  Dan setelah itu diletakkannya sabun tersebut disisi bathtub tersebut.

“Apa-apaan sih mereka itu…” Gerutu Dasom sembari mengaduk-aduk isi bathtub.

“Sudah cape-cape masak, malah dibuang percuma seperti itu…” Lanjutnya setelah melepas pakaian dan sedetik kemudian langsung memasuki bathtub tersebut untuk berendam menenangkan pikirannya. Untung saja semalam Nyonya dan Tuan Wu cepat pulang dan membawakan makan malam. Jadi pertumpahan darah antara Dasom dan Wu brothers tidak sampai berlangsung lama.

“Terlebih Sehun itu…” Seru Dasom. “Masa melempar wortel tepat di wajah seorang gadis manis seperti aku sih?” Lanjutnya disertai dengan kata-kata narsis tersebut. “Mana sampai sekarang masih terasa sakit lagi…” Ujar Dasom sembari memegangi wajahnya, tepatnya dibagian hidung.

“Wu Sehun!!!” Geram Dasom kesal. “Chanyeol jahat! Kata-katanya terlalu sadis dan menusuk! Tapi Sehun jauh lebih menyebalkan dan jahat!!” Lanjut Dasom sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat dalam kumpulan busa yang tercipta dari sabun cairnya.

“Tapi…” Dasom sengaja memberikan penjedaan dalam kalimatnya dan melihat ke sekeliling sudut kamar mandi tersebut, sesekali dia merasa geli ketika buih-buih sabun tersebut meletup dan mengenai wajah ataupun bagian tubuh sensitifnya yang lain.

Dihirupnya aroma menenangkan yang tercipta. “Kamar mandi ini mewah sekali ya….” Lanjut Dasom akhirnya. Dimainkannya kaki-kaki indahnya didalam bathtub tersebut, menimbulkan suara kecipakan air yang keluar kemana-mana.

“Kya! Kya! Kya!” Serunya senang sembari memainkan buih-buih sabun tersebut. “Kamar mandi ini luas sekali yaaa…aku baru menyadarinya… seperti di surga!!” Tambahnya sembari memainkan segumpal busa yang telah ditangkupkan dikedua telapak tangannya.

“GREEEKKK!!!”

“Lho kau sedang mandi?” Ucap Sehun ketika didapatinya kamar mandi tersebut tidak kosong. Dia hanya memakai handuk kecil untuk menutupi bagian pinggang sampai kelutut.

Dasom yang masih terkejut hanya bisa menganga memandangi sosok Sehun yang topless seperti itu di hadapannya. Tak lupa dengan gumpalan busa yang masih berada di tangkupan kedua tangannya.

Sehun menggaruk surai bagian belakangnya. “Tubuh kecil seperti itu apa yang mau disabunin sih?” Ujar Sehun ketika melihat Dasom yang malah bengong di dalam beratus-ratus buih dan busa yang terdapat di dalam bathtub.

“BRAKK!!”

Suara gebrakan pintu yang ditutup kencang tersebut akhirnya menyadarkan Dasom dari keterkejutan yang baru saja terjadi. Dasom menggeram kesal. Lagi-lagi Wu Sehun itu!

“Mwo?!!” Seru Dasom sembari bangkit dari bathtub tersebut untuk mengambil handuk yang berada menggantung disisi dekat cermin besar dikamar mandi tersebut. “Sudah masuk tiba-tiba seperti itu masih bisa mengejek tubuhku?!!!” Geramnya kesal.

“BRAKKKK!!!”

Dengan kesal Dasom membuka ehm atau lebih tepatnya membanting pintu geser kamar mandi tersebut. Dan ternyata Sehun masih didepan kamar mandi, sedang mengenakan pakaiannya lagi.

“WU SEHUN!!!” Seru Dasom membuat Sehun membelalakan matanya karena terkejut.

Dasom maju menghampiri Sehun. Sedang Sehun hanya diam di tempat.

“Sudah ngintip seorang gadis manis sepertiku yang sedang mandi…..tiba-tiba muncul dengan telanjang!! Sikap macam apa itu?!!!” Seru Dasom sembari berkacak pinggang dan sesekali menunjuk kearah wajah Sehun.

Pada akhirnya Sehun memundurkan tubuhnya ketika Dasom makin bergerak aktif untuk maju. “Seharusnya kau minta maaf!!” Ucap Dasom sembari menghentakkan kakinya. Dan hal itu membuat…..

“Syuuuttttt~” Handuk yang dikenakan Dasom tiba-tiba terlepas dikarenakan gerakannya tersebut.

“Ah?” Sehun memandang ngeri melihat pemandangan di depannya. Sedang Dasom?

“AAAAAAAAA!!!!!”

***

-07:30 KST-

Setelah hampir sejam lebih berdandan dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Dasom menghampiri Sehun yang bergerumul dengan selimut berwarna abu-abu di sofa ruang tamu rumahnya.

Melihat keadaan Sehun yang sedikit memprihatinkan, Dasom berinisiatif membuatkan coklat panas untuk putra kedua keluarga Wu tersebut. Dan membawakan secangkir coklat panas tersebut beserta dengan sebuah thermometer untuk mengukur suhu tubuh Sehun.

Dan setelah memberikan secangkir coklat hangat tersebut Dasom memasukan thermometer ke dalam mulut Sehun. Dan setelah didiamkan beberapa menit, Dasom mengambilnya. Dilihatnya angka yang tertera disana, “37,8 derajat!” Ucap Dasom mencoba memberitahu pada Sehun. “Hummm…tinggi juga…” Tambahnya sembari meletakkan thermometer tersebut di atas meja. Sedang Sehun menyeruput coklat hangat tersebut.

“Sayang sekali ya.. Bora Ahjumma tidak bisa mengambil libur… lagian kau sakitnya tiba-tiba sih…” Ucap Dasom bermaksud mengejek.

“Uhuk…uhuk…” Sehun sedikit terbatuk ketika rasa hangat dari coklat tersebut ternyata masih cukup panas untuk membakar lidahnya.

Dasom mencondongkan tubuhnya melihat wajah Sehun. “Kasian sendirian… hihihi…. Sudah kau tidur saja sana, tapi sebelumnya minum obat dulu…” Saran Dasom. “Oh iya! Obatnya juga habis ya?? haha…” Tambah Dasom sembari membalikan botol obat yang sudah kosong. Dasom tersenyum senang melihat lawannya tak berdaya seperti itu.

“Berisik kau orang numpang!” Seru Sehun tajam. sembari memunggungi Dasom yang dia yakin sedang menyeringai licik karena dia sakit.

“Hihihihi…” Dasom kembali tertawa kecil.

“Ini gara-gara kau menampilkan pemandangan mengerikan tahu!!” Ucap Sehun tanpa menatap Dasom. Sangat teringat jelas dalam memorinya bagaimana handuk Dasom copot dihapannya.

“Tubuhku yang masih murni jadi terkontaminasi deh!” Lanjut Sehun membuat Dasom kembali sebal karena mengingat kejadian satu jam yang lalu.

“Huh..” Dasom menghela nafas pendek. Lagi-lagi Sehun menyulut api pertengkaran. Dikembangkannya senyum manis untuk menghilangkan rasa kesalnya yang lagi-lagi muncul akibat perkataan Sehun yang lebih tepat disebut dengan ejekan tersebut.

Terkontaminasi? Seburuk itukah dia menganggapku?! Heuh!’ Dasom menggerutu dalam hati.

“Sudahlah… Jangan sampai aku ketularan… menjauh ah…” Ucap Dasom seraya melangkah pergi untuk segera berangkat kesekolah. Namun baru beberapa langkah….

“GREPPP!!”

Sehun menarik lengan Dasom dengan tiba-tiba membuat Dasom terjerembab terduduk di hadapannya.

Dasom membelalakan matanya. Mulutnya juga menganga. Tak mampu bersuara saking terkejutnya.

Ditariknya pergelangan tangan Dasom hingga tubuhnya mendekat dengan tubuhnya. Dipandangnya Dasom dengan tatapan sayu. Dan ketika wajah mereka hanya berjarak lima sentimeter…

“Hatchiiiiim~”

Sehun bersin tepat dihadapan wajah Dasom. Ternyata dia berniat menularkan virusnya agar Dasom juga bisa terserang flu sama sepertinya.

Sejurus kemudian setelah Sehun bersin, Dasom langsung menarik wajahnya menjauh dari tubuh Sehun dan langsung beranjak untuk buru-buru keluar dari apartement tersebut. “Membuatku terkejut saja! Kau ingin menularkan penyakitmu padaku? Tak akan bisa!! Kekebalan tubuhku itu sangat tinggi!” Serunya pada Sehun.

Sehun mengacuhkan Dasom. Ditariknya lagi selimutnya agar dapat menutupinya lebih rapat lagi. Dan setelah itu dia coba berbaring di sofa ruang tamu tersebut.

“Aku lupa… orang bodoh kan tidak akan mudah ketularan sakit ya?!” Ucapnya dengan suara pelan namun masih bisa tertangkap oleh indera pendengar Dasom.

Dasom mencibir. “Masih sakit masih saja seperti itu! Huh!” Dasom berjalan ke arah pintu dan menutupnya dari luar.

Sedang Sehun tetap berbaring selama beberapa menit setelah kepergian Dasom. Karena hawa dingin yang dirasakannya semakin menjadi diruang tamu tersebut. Sehun memutuskan untuk naik ke lantai atas dan tidur di kamarnya saja.

“Uhuk! Uhuk!”

Sepertinya dia bukan hanya terkena flu tetapi juga radang tenggorokan. Dinaikinya perlahan setiap anak tangga rumahnya tersebut.

“TAP!” Sehun menghentikan langkahnya diujung anak tangga ketika melihat sesuatu didepan pintu kamarnya. Didekatinya pintu kamar tersebut. Disana terdapat sekotak obat dan sebotol minuman isotonik penambah ion dan juga selembar kertas.

“SET!!” Diambilnya obat tersebut beserta dengan kertas kecilnya.

“Puph!”

Ganti uangku ya!

 

***

-Senin, 15:30 KST-

“TINGNONG!!”

“TINGNONG!!”

“TINGNONG!!”

Terdengar suara bel yang terus ditekan dari luar apartement kediaman keluarga Wu.

“TINGNONG!!”

“TINGNONG!!”

“TINGNONG!!”

“Iyaa!!! Sebentar!!” Sahut sebuah suara cempreng dari dalam. Tidak lain dan tidak bukan adalah suara Dasom. Di rumah hanya ada dirinya dan Sehun yang sedang sakit. Oleh karena itu dia memutuskan untuk mendatangi pintu sumber suara.

“TINGNONG!!”

“Cklek!!”

Dasom membuka pintu. “Nuguya?!!” Tanyanya ketika melihat tiga orang gadis yang sebaya dengannya berada dihadapannya.

“Kami teman Wu Sehun!!”Seru mereka dengan ceria. Tersirat rasa bangga ketika mereka menyebutkan bahwa mereka adalah teman dari seorang Wu Sehun, membuat Dasom hanya diam dengan senyum kecilnya.

“Hari ini Sehun tidak sekolah ya?” Tanya si gadis berambut pirang dengan poni kesamping menghias keningnya.

“Kami jadi khawatir…” Tambah si gadis berambut hitam blonde yang di tengah.

“Iya! Makanya kami datang mau menjenguknya..” Akhir si gadis berambut pirang panjang dengan poni yang dijepit kebelakang.

Dasom kembali memasang senyumnya pada teman-teman Sehun di depannya. “Maaf ya… Saat ini Sehun sedang tidur…” Ucap Dasom mencoba mengusir teman-teman Sehun secara halus.

“Ahhh tidur? Wah jadi pengen lihat wajahnya ketika sedang tidur!” Seru si gadis berambut hitam tersebut.

“Nanti kita foto saja, yuk!” Ajak si gadis berponi pirang.

Dasom mengerenyitkan keningnya. ‘Apa-apaan sih mereka?’ Ucap Dasom dalam hatinya.

Ternyata ada yang masih lebih norak daripada Dasom.

“Kami boleh masuk kan?” Tanya salah satu dari mereka.

Dasom mengambil ancang-ancang untuk menutup pintu dengan memegang gagang pintunya. “Tolong, kalian pulang ya! Bisa repot nanti… kalau sakitnya jadi makin parah gara-gara kalian, bagaimana?”

“Apa maksudmu?” Tanya Si gadis berambut pirang dengan poni yang dijepit ke belakang tersebut sinis. Sedikit tersinggung dengan perkataan Dasom barusan.

“Kau ini siapa sih? Sepertinya Sehun tidak punya saudara perempuan..” Ucap gadis berambut pendek. Ternyata mereka benar-benar sudah menyelidiki seorang Wu Sehun.

“Tau nih! Kenapa ada orang asing di rumah Sehun?” Timpal gadis ketiga menambahi membuat Dasom agak gugup.

“A…aku bukan orang luar..” Desis Dasom pelan.

“HAP!! GREPP!!”

Sehun menarik daun pintu yang ditahan oleh Dasom hingga terbuka lebar. Dipegangnya kenop pintu yang tengah dipegang juga oleh Dasom dan kemudian menatap ketiga gadis tersebut. “Dia pembantuku…” Ucap Sehun singkat.

“BRAKK!!”

Dan sejurus kemudian Sehun menutup pintu apartement rumahnya tersebut. Membuat Dasom kini berada di dalam kungkungan. Dasom membalikkan tubuhnya menghadap Sehun. ‘Dasar Jahat!! Masa aku dibilang pembantunya!!’ Rungut Dasom dalam hati seraya menatap dalam Sehun. Dan Sehun pun balas menatap wajah polos Dasom yang diyakininya sedang kagum padanya karena telah menolongnya.

Namun sejurus kemudian…. “BRUKKK!!” Sehun mendorong tubuh Dasom keluar setelah membuka pintu rumahnya lagi.

“Ternyata dia memang orang asing ya..” Ujar ketiga gadis tadi yang ternyata belum beranjak, setelah melihat Dasom terdorong keluar.

“Hey!! Wu Sehun!!” Seru Dasom sembari menahan pintu yang akan kembali ditutup oleh Sehun. “Kenapa aku juga diusir?!!” Protesnya tak terima. “Padahal aku sudah mengusir para penggemarmu.,. berterimakasihlah sedikit!!!” Seru Dasom kesal sembari mengerucutkan pipi serta menggembungkan pipinya.

Sehun memandang Dasom yang menurutnya sangat berisik ini.

“Kau mendengarkanku, tidak?!” Dasom berseru sekali lagi. Melihat Dasom yang kesal dan berisik tersebut membuat Sehun gemas dan secara sengaja menjitak pelan kening Dasom. “Hahahaa…..” Dan sejurus kemudian meledaklah tawa Sehun. Entah apa yang dianggapnya lucu.

Dasom terdiam melihat Sehun yang sedang terbahak seperti itu. ‘Senyumannya manis juga…’ Ujar Dasom dalam hati. Lagi-lagi dia terpana dengan sosok Wu Sehun dihadapannya.

“Kau tahu?! Wajahmu sangat aneh tadi… Hahahaha….” Sehun kembali tertawa.

Dasom memandang lekat Sehun yang tengah tertawa.

‘Tanpa sadar aku jadi berfikir seperti itu….’

***

-Kamis, 20:35 KST-

Setelah seminggu Dasom menginap di rumah kediaman keluarga Wu. Akhirnya Dasom memutuskan untuk bekerja paruh waktu di sebuah kafe kecil yang tidak jauh dari apartement keluarga Wu juga. Di sana Dasom memang hanya menjadi seorang pelayan. Tapi kehidupannya cukup tenang ketimbang berada di rumah ketika bersama Wu bersaudara.

Daripada dirumah dan terus makan hati atas perbuatan Wu brothers kepadanya. Dasom lebih memilih lelah bekerja di kafe. Setidaknya waktunya untuk bertemu Wu brothers itu bisa berkurang. Begitu pikirnya ketika mengambil keputusan untuk mengambil pekerjaan tersebut.

Dan kini, dia tengah berada disalah satu meja yang penghuninya sudah pulang. Dasom tengah membersihkan meja tersebut dan merapikan gelas-gelas yang berada diatasnya. Jam kerjanya sudah hampir selesai, tinggal beberapa menit lagi.

“Maaf Dasom…” Tegur atasan Dasom ketika Dasom hendak kedapur untuk meletakkan gelas-gelas kotor tersebut. Dasom berhenti dan menoleh ke arah sang atasan.

“Yang bekerja di shift malam ijin untuk datang terlambat. Hari ini bisa kau gantikan dulu?”

“Boleh!” Sahut Dasom sembari tersenyum dan mengangguk.

“Kalau begitu setelah meletakkan gelas-gelas tersebut tolong kau layani tamu yang baru berdatangan ya…”

Nde..” Sahut Dasom sekali lagi dan setelah itu langsung berjalan ke dapur untuk meletakkan gelas-gelas di tangannya. Dan sejurus kemudian Dasom langsung kembali keluar untuk menyambut pelanggan yang baru berdatangan.

Dan ketika dilihatnya pintu kafe tersebut akan kedatangan pelanggan, Dasom langsung buru-buru keluar. “Selamat da…” Ucapannya terhenti ketika dia melihat siapa pelanggan yang baru saja datang. “…tang..” Diurungkannya niatan untuk menyambut pelanggan satunya itu.

‘Ngapain dia selarut itu ke kafe ini?’ Tanya Dasom ketika sang pelanggan mulai duduk disalah satu meja, dari balik tembok dapur.

“Settt…” Sang pelanggan tersebut menoleh ke arah Dasom.

‘Jangan-jangan dia mengkhawatirkanku…’ Ujar Dasom dalam hatinya percaya diri.

“Hey!! Aku mau pesan!! Lambat sekali sih!!” Seru sang pelanggan tersebut pada akhirnya ke Dasom.

Dasom mendengus kecewa. “Ternyata hanya mau menganggu!” Desisnya kemudian sembari menghampiri Sang pelanggan yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Wu Sehun.

“Mau pesan apa?” Tanya Dasom ketus setelahnya.

Sehun melihat-lihat buku menu ditangannya. “Kafe ini pelayanannya payah!! Pelayannya jelek lagi!” Ujarnya dingin membuat Dasom speechless.

‘Jika saja bukan sedang bekerja, kubunuh kau Wu Sehun!!’

***

-Kamis, 22:00 KST-

Setelah sejam lebih menggantikan pekerjaan rekannya, Dasom akhirnya dapat pulang juga. Untung saja alasan rekan kerjanya itu dapat diterima akal sehat oleh Dasom. Kalau tidak? Mungkin Dasom akan protes padanya, karena akibat kedatangannya yang terlambat, Dasom jadi harus menggantikan jam kerjanya, walau hanya 85 menit.

Dasom memutuskan berjalan kaki untuk pulang, jarak yang cukup dekat membuatnya tak perlu repot mencari kendaraan umum untuk pulang. Apalagi sudah selarut ini, kalaupun ada kendaraan yang lewat pasti sangat jarang.

Langkahnya terhenti ketika mendapati sosok Sehun yang tengah duduk memunggunginya.

‘Ternyata… dia memang datang untuk menjemputku…’ Ucap Dasom sembari tersenyum senang. Dengan perasaan bahagia dihampirinya Sehun yang masih belum sadar akan kehadirannya.

“Maaf membuatmu menungguku!!” Seru Dasom mengejutkan Sehun yang ternyata sedang memainkan handphonenya dan refleks memasukannya ke dalam saku celana.

“Siapa yang menunggumu?!!” Sahut Sehun dingin tanpa berbalik menghadap Dasom.

“Ayo pulang, Sehun!” Ajak Dasom. Sehun beranjak dari duduknya dan menghadap Dasom.

“Aku… aku tidak akan mengajakmu untuk bertengkar lagi..” Ucap Dasom. “Ternyata kau tidak sejahat yang aku kira ya, Hun…” Tambah Dasom kemudian.

‘DEG!’

“GYUUUT!!” Sehun refleks menggenggam pergelangan tangan Dasom dan menariknya untuk mengikutinya.

“Sehun, sakit!” Seru Dasom. Namun Sehun tetap mengacuhkannya dan tetap menariknya paksa.

“Kau kenapa sih?” Tanya Dasom lagi. Dan Sehun masih juga tidak menjawab pertanyaannya.

“Hey Sehun!!” Seru Dasom untuk yang kesekian kalinya. Berhasil. Kali ini Sehun menghentikkan langkahnya. Namun……

“Lho?” Dasom mengerenyitkan keningnya ketika menyadari sebuah kejanggalan. “Ini… bukan arah pulang kita kan, Hun?” Ucap Dasom ketika mendapati apa yang ada di depannya. Sebuah bangunan tua yang cukup sepi.

“Selamat malam nona cantik!” Sebuah suara tiba-tiba menyentak Dasom dari belakang. Dasom berbalik dan mendapati Wu Chanyeol dengan dua orang laki – laki asing yang tidak dikenalnya. Dan sepertinya 2 laki – laki asing tersebut anak berandal, terlihat dari caranya berpakaian.

“FLIP!!” Chanyeol menutup handphonenya. “Dari tadi kau tidak keluar-keluar dari tempat itu sih! Makanya aku cari cara lain..” Ucap Chanyeol ambigu.

Sementara kedua laki – laki tersebut tiba-tiba mendekat kearah Dasom dan menyeringai penuh arti. “Wah!! Lumayan cantik!! Serius dia boleh kami kerjai?!” Tanya salah satu dari laki – laki berandal tersebut entah pada Chanyeol atau Sehun, atau keduanya.

Chanyeol membetulkan letak kacamatanya yang turun. “Penindasan kecil… tidak akan membuatnya jera! Kalian puaskan saja mengerjainya habis-habisan..” Ucap Chanyeol sembari tersenyum kecil.

Dan sedetik setelah perkataan dari Chanyeol, dua laki – laki tadi langsung mendorong Dasom ke tembok bangunan tua tersebut. Satu dari mereka menahan kedua pergelangan tangan Dasom yang mencoba berontak dan satunya lagi sibuk mengangkat ke atas sweeter hitam yang dipakai Dasom.

“Kalian mau apa?!!” Seru Dasom panik sembari mengeluarkan airmatanya.

“Sudah jangan banyak bertanya dan diam saja!! Kami akan memuaskanmu, manis!” Bentak laki – laki yang tengah menahan tangannya.

Mendapati bentakkan tersebut Dasom diam tak berkutik. Terlalu terkejut. Sehun yang tadi membawanya kemari pun hanya diam sedari tadi. Entah mengapa pikiran-pikirannya tentang Sehun yang tadi bersamanya terus terputar dalam benaknya. Bahkan ingatannya tentang Sehun yang menertawakannya setelah para penggemarnya pergi pun terlihat jelas dalam bayangannya. Sungguh waktu yang tidak tepat memang. Tapi justru karena itulah yang membuat Dasom shock dan merasa tak percaya. Dia pikir Wu brothers tersebut tidak akan sampai sejauh ini tapi ternyata.

“BUGH!!”

Terdengar satu pukulan yang tepat mengenai wajah yang terus membuka sweeter yang dikenakan Dasom, sampai terjatuh.

“BUGH!”

Dan satu lagi pukulan tepat mengenai perut laki – laki yang terus saja memegangi tangan Dasom sedari tadi, hingga dia tersungkur.

“BUGH! BUGH! BUGH!”

Tubuh Dasom merosot hingga ke bawah setelah lepas dari kedua laki – laki berandal tersebut. Di depannya Sehun tengah memukuli dua berandal tadi dengan tidak sabaran. Sementara Chanyeol menatap tak percaya atas perlakuan adik laki-laki yang dua tahun lebih muda dari dirinya menggagalkan rencana mereka malam ini untuk membuat Dasom pergi dari apartement mereka.

“Hosh…hosh…hosh…” Terdengar deru nafas Sehun yang terengah setelah memukuli dan menendangi dua laki – laki berandal tersebut. Dan setelah itu dia langsung beranjak dan menghampiri Dasom.

Dasom memandang takut Sehun yang tengah berdiri di hadapannya. “Sehun…” lirih Dasom.

Dengan cepat Sehun berjongkok menyamakan tingginya dengan Dasom, menghapus air mata di ujung matanya dan sejurus kemudian menarik wajah Dasom, lalu dikecupnya singkat bibir tipis tersebut.

“Maaf, hyung…” Ujar Sehun setelah menarik wajahnya dari wajah Dasom. Dan sejurus kemudian diangkatnya bahu Dasom agar berdiri bersamanya.

Sehun memandang ke arah Chanyeol. “Aku.. keluar dari rencana ini!!” Ucapnya Sehun lagi. Sehun berbalik menatap Dasom yang berada dihadapannya. “Kajja!! Kita pulang!!” Ajaknya sembari menggandeng pergelangan tangan Dasom dan melangkah menjauhi Chanyeol yang terdiam karena sikap Sehun barusan.

Dasom memandangi tangan Sehun yang masih terus menggenggam pergelangan tangannya. ‘Aku harus bersikap bagaimana terhadap kedua kakak beradik ini… Jantungku tidak berhenti berdebar-debar… Hari ini aku tidak mampu berpikir apa-apa lagi…’

***

-Jum’at , 07:00 KST-

Keesokan harinya…

Dasom sudah duduk rapi di ruang makan keluarga, di sana sudah ada Nyonya Wu yang tengah menyiapkan sarapan.

Secara tidak sadar Dasom memegangi bibirnya. ‘Aduh bagaimana ya kalau Sehun tiba-tiba datang dan meminta morning kiss…’ Seru Dasom panik dalam hati sembari memukulkan kepalanya kemeja makan berkali-kali.

Terlalu percaya diri sekali khayalan Dasom pagi itu.

“Wah!! Dasom pagi-pagi sudah semangat ya…~!” Seru Nyonya Wu ketika melihat perbuatan Dasom membenturkan kepalanya di atas meja. Entah darimana Bora bisa berfikiran bahwa perbuatan Dasom pada saat itu berarti tengah bersemangat.

Namun seperti tidak bisa menangkap suara dari Nyonya Wu, Dasom terus saja asyik membenturkan kepalanya sembari berkhayal tinggi ‘Meski dia akan bersikap seolah sudah jadi pacarku.. aku tidak akan…’

“Dasar cewek aneh!! Dari pagi sudah pasang wajah menyebalkan…” Sebuah suara yang ternyata berasal dari putra kedua keluarga Wu memotong khayalan Dasom dan membuatnya langsung mengangkat kepalanya.

Dasom langsung beranjak berdiri dan menghampiri Sehun yang baru saja turun dari kamarnya dan sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

“Hey, Sehun! Kemarin kau sudah melakukan hal yang terpenting dalam hidupku…” Bisik Dasom pelan. Berusaha agar perkataannya tidak terdengar oleh Nyonya Wu.

Sehun menatap wajah Dasom dengan datar dan dingin, “Soal apa?” Ucap Sehun membuat Dasom menganga lebar tak percaya.

‘Semudah itu dia lupa?!!!’ Jerit Dasom tak percaya (masih) dalam hatinya.

“SET!”

Chanyeol mendadak lewat di hadapan Dasom sembari membetulkan letak dasinya yang masih belum rapi benar. Dilihatnya Dasom ketika tak sengaja dia bersenggolan bahu dengannya.

“Kau masih bertahan juga? Berani sekali…” Ucap Chanyeol pelan namun menusuk.

Dasom mencibir pelan. Tak habis pikir. Dalam hatinya dia benar-benar sudah membulatkan tekad hari ini.

‘Baiklah! Akan kuhadapi kedua serigala ini!!’ Tekad Dasom dalam hati.

‘Akan kubuat mereka… menjadi jinak!!’

***

TBC

Buat yang berfikiran, ‘Kenapa sih fanfiction di blog ini Dasom terus?’ Yaaaaaa, karena yang aktif buat fanfiction itu kebanyakan emang Dasom biased. Nah, kalau kalian mau baca fanfiction dengan member Sistar yang lainnya sebagai cast utama Ayo Share Karya kalian di sini.

Maaf ya kemarin di protect, habis kirain gak ada yang baca. Jangan lupa tinggalkan komentarnya yaaaa. Soalnya komentar kalian nentuin ini ceritanya dilanjut atau engga , atau dilanjut tapi diprotect dan harus komen buat dapet passwordnya. Okay?
Thanks^^

5 thoughts on “[Remake Fiction ] EXOSTAR’s Fanfiction / My Gentle Wolves / Romance / Friendship / Part 2

  1. Ceritanya seru…Suka bgt sm Canyeol&dasom tapi Dasom&sehun lucu juga. Kayanya sehun dah mulai nnaksi dasom&giliran chanyeol yg hatinya masih beku, jadi.ga sabar nunggu moment chanyeol&dasom.kira2 moment apa ya yg buat chanyeol jadi sadar kalo dasom itu baik&menarik..kira2 siapa ya yg di pilih dasom nantinya. Semangat terus ya author,Ditunggu kisah2 selanjutnya🙂

  2. Lanjutin ceritanya terus ya,author. Si chanyeol kok sadis amat sih ama si dasom? Tolong buat juga dong chansom momentnya. Trus sehun-dasom couple cute banget.

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s