SiKON’s Fanfiction / LAMIA / DASOM – HANBIN / HURT – MYTH

LAMIA

Tittle :  LAMIA

Cast :  Kim Dasom, Kim Hanbin, Kim Jiwon

Genre :  Straight, Family, Angst, Hurt

Rate: Teen

Length : Oneshoot

Author : LidyaNatalia

Warning : some typos, short fiction. If you do not like this couple please do not read this Fiction. Basher will be blocked.

A/N :Hayhay penggemar EXOSTAR ~ Kali ini aku buat cerita tentang Myth dan castnya DASOM lagi haha. Semoga pada sukaaa ~

Disclaimer: This story originally made by me, repost tidak diijinkan, kalau mau share linknya aja ya.

Let’s check it out the story…

***

Dasom menyunggingkan sebuah senyuman kecil pada seorang anak kecil yang terus memperhatikannya karena pakaiannya yang terlalu mencolok. Rabbit bandana dengan baju berwarna merah muda cerah dan rok rempel berwarna biru laut.

“Siapa namamu, anak manis?” Dasom berjalan ke arah anak tersebut sebelum pada akhirnya bertanya.

“Minguk. Cong Minguk.” Sahut anak lelaki kecil yang masih berusia di bawah lima tahun itu.

“Mau bermain bersamaku?” Tawar Dasom sembari memberikan sebuah lollipop berbentuk bola pada Minguk.

Minguk mengambil lollipop tersebut sembari tersenyum dan mengangguk.

***

Hanbin menarik rambut di kepalanya dengan kuat. Ini sudah kasus penculikan dan pembunuhan anak yang kelima kalinya dalam satu bulan terakhir. Dan sampai sekarang dia masih belum bisa mendapatkan pencerahan mengenai petunjuk siapa pelakunya.

“Minumlah dulu…” Ucap Jiwon sembari memberikan kopi kalengan yang baru saja dia beli.

Hanbin membanting surat kabar yang ada di tangannya ke meja di hadapannya, “Kau tahu, hyung, aku masih berfikir kalau ini perbuatannya..” Ucap Hanbin sembari mengambil kopi yang diberikan oleh Jiwon.

“Kau akan terus merasa bersalah kalau kau terus berfikiran seperti itu, Hanbin-ah.” Ujar Jiwon sembari mendekatkan kursi yang didudukinya ke arah Hanbin.

“Bekas kematian yang ada pada tubuh anak-anak itu sama seperti bekas kematian yang ada pada anak kami, Hyung!” Seru Hanbin sembari kembali menarik rambut di kedua sisi kepalanya yang kemudian membenturkan kepalanya ke atas meja.

“Itu tidak bisa dijadikan dasar untuk kau menuduhnya sebagai pelaku, Hanbin-ah.” Sahut Jiwon lagi. Bagaimanapun Jiwon sangat mengenal baik seseorang yang dimaksudkan oleh Hanbin.

Hanbin mengangkat kepalanya dari atas meja dan memandang lekat Jiwon dengan tatapan sendu.

“A-aku melihat sosoknya di tempat kejadian perkara kasus ketiga, Hyung.” Ucap Hanbin dengan ragu. Sebelumnya dia sudah memutuskan untuk tidak mengatakan ini kepada siapapun sebelum dia memastikan bahwa memang orang yang dia maksud adalah pelakunya atau bukan. “Sosoknya langsung menghilang sebelum aku sempat menghampirinya.”

Jiwon bangkit dari duduknya dan menarik kerah seragam Hanbin, “Bora sudah dipenjara, Hanbin-ah!” Seru Jiwon kemudian, “Tidak ada alasan bagi Dasom untuk balas dendam, terlebih untuk… menyakiti dan bahkan membunuh anak-anak kecil tak berdosa itu.” Nada bicara Jiwon menjadi sedikit menurun ketika mengucapkan sepuluh kata terakhir.

“Cih,” Desis Hanbin. “Kau bahkan mulai ikut curiga kan?” Tanya Hanbin.

“Bukan begitu…” Sahut Jiwon. “Aku hanya…” Jiwon menghempaskan tubuhnya untuk kembali duduk. “Kita sangat mengenal bagaimana Dasom, terlebih aku. Sudah 10 tahun aku mengenalnya. Aku sangat menyayanginya seperti adik kandungku sendiri.” Ujar Jiwon sembari menundukkan kepalanya.

“Kau pikir aku tidak?” Seru Hanbin yang sedikit tersulut emosi karena perkataan Jiwon seakan menuduhkan bahwa perasaannya untuk Dasom hanyalah fiktif belaka. “Bukan tanpa alasan aku menaruh curiga padanya, Hyung!” Lanjut Hanbin.

Hanbin berjalan ke arah jendela ruangannya. Langit sedikit lebih mendung dari yang seharusnya hari ini. “Dia mungkin terlihat biasa bagimu dan orang-orang di sekitar kami,” Hanbin memberikan jeda pada perkataannya. “Tapi tidak bagiku,” Lanjut Hanbin.

Hanbin membalikkan tubuhnya kembali melihat ke arah Jiwon.

“Dia bahkan tidak tertawa ketika aku putarkan film favoritnya, jangankan tertawa, menangis pun tidak.” Ucap Hanbin. “Namun hal itu berubah ketika dia pulang dari perginya yang entah darimana. Dia terus tersenyum dan tertawa bahkan ketika mau tidur pun dia masih terus tersenyum. Aku sangat senang pada hari itu karena kupikir ‘Dasomku telah kembali’ seperti dulu, seperti ketika pertama kali kau mengenalkannya padaku.”

Jiwon mengerutkan keningnya mendengar cerita Hanbin.

“Dan hari itu adalah tepat sehari sebelum berita tentang penculikan dan pembunuhan anak kecil pertama keluar.” Ucap Hanbin yang kemudian langsung kembali berbalik ke arah jendela. Melihat jalanan yang sedikit lengang hari ini.

“Dasom?”

“Huh?”

“Hyung, lihat itu Dasom! Dia bersama….”

Hanbin langsung memutuskan untuk berlari keluar ruangannya sebelum Jiwon bahkan sempat melihat apa yang dilihat oleh Hanbin.

Jiwon berjalan ke arah jendela dan mengerti kenapa dia langsung berlari seperti tadi.

Dia melihat Dasom bersama seorang anak kecil.

***

“Hyung, aku kehilangan jejaknya!” Seru Hanbin yang langsung menendang sebuah pohon yang berada di dekat mereka ketika Jiwon datang.

“Kalau memang apa yang kau takutkan benar, kita harus mencegah rencana Dasom kali ini,” Sahut Jiwon.

“Apa kita harus berpencar, Hyung?” Tanya Hanbin.

“Pikirkan dulu kemana kira – kira Dasom akan pergi!” Titah Jiwon lagi. Dia tidak ingin pencarian mereka berakhir sia-sia bila hanya terus mencari tanpa arah yang jelas.

Hanbin memukul-mukul keningnya, berfikir keras tempat yang kemungkinan besar akan Dasom datangi di sekitar sini.

“Damn!” Seru Hanbin kemudian. “Hyung, kau coba pergi ke taman dekat ABC’s Kindergarten di sana ada sebuah gazebo yang sedikit tertutup dan kalau kau tidak menemukan mereka kau coba langsung pergi ke Rumah Bermain Handulset. Aku akan mencoba mencarinya ke tempat lainnya.” Seru Hanbin yang langsung berlari ke tempat yang dia maksud bahkan sebelum dia mendengar persetujuan dari Jiwon.

***

“Bagaimana? Kau suka tidak dengan lollipopnya?” Tanya Dasom sembari menarik kedua pipi gembul Minguk.

Minguk mengangguk sembari tersenyum senang hingga matanya tak terlihat sama sekali.

“Nah Nunna punya ini, Minguk mau?” Tanya Dasom lagi sembari mengangkat sebuah botol yang berisikan susu rasa jeruk.

Minguk kembali mengangguk tanpa mengeluarkan suara karena masih berusaha menghabiskan sisa-sisa lollipop di mulutnya.

“Kau ini penurut sekali ya Minguk… membuat aku susah hati saja…” Ucap Dasom tanpa sadar.

Dasom mengambil sebuah tisu basah ketika melihat Minguk sudah menghabiskan lollipopnya, dia bersihkan sekeliling mulut Minguk dengan tisu basah tersebut.

Dasom tertawa melihat tingkah Minguk yang kegelian ketika Dasom membersihkan wajahnya.

“Nah sekarang kau minum susu dulu ya…”

***

“Lamia…” Zeus memanggil nama kekasihnya yang masih dirundung duka meratapi kematian sang buah hati.

Lamia masih bergeming dan sama sekali tak berniat untuk membalas panggilan tersebut.

“Tenanglah… Berhentilah menangis.. Herophile tidak akan kembali walaupun kau terus menangisinya berhari – hari.” Zeus terpaksa mengatakan kalimat pahit tersebut pada kekasih hatinya ini.

“Kau itu Dewa! Kenapa kau tidak bangkitkan anakmu sendiri dari kematian Wahai Zeus yang Agung..” Seru Lamia pada akhirnya.

“Atau setidaknya hukum Dia yang mengambil nyawa anakmu!” Lanjut Lamia sembari menunjuk Hera yang juga tengah berada satu ruangan dengan mereka berdua.

“Lancang sekali mulutmu, Lamia!” Sahut Hera dengan penuh amarah. “Tidakkah kau sadar akan posisimu?”

“Hera tenanglah…” Kali ini Zeus mencoba menengangkan Hera yang amarahnya masih belum reda meski dia telah membunuh buah hatinya dengan Lamia. Zeus sadar akan resiko dari tindakannya yang suka bermain hati.

“Kukira kau mengatakan bahwa Lamia akan memohon ampunanku Wahai Dewa Zeus.” Sahut Hera lagi. Kali ini disilangkan kedua tangannya di dadanya menunjukkan kebesarannya di depan Lamia yang masih terus menangisi kepedihan hatinya.

“Tak sudi aku memohon ampunanmu!” Seru Lamia yang membuat Hera semakin geram.

“Kau kira aku sudi memberikan ampunanku padamu?!” Seru Hera dengan lantang. “Kujatuhkan kutukanku padamu Lamia!” Lanjut Hera membuat Zeus dan Lamia terkejut.

Tubuh Lamia mengejang ketika kutukan tersebut di ucapkan oleh Hera.

“Kau akan menjadi monster pemangsa anak-anak kecil tak berdosa selama sisa hidupmu! Kau akan terus melihat bayangan kematian anakmu selama matamu terus terjaga dari peraduan kelopak matamu!”

 

***

“DASOM!!”

Dasom melirik ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Dia baru saja akan menekankan bantal kecil yang ada di tangannya ke wajah Minguk yang kini sedang terpejam matanya.

“H-hanbin? Sedang apa kau di sini?” Tanya Dasom yang langsung menutupi tubuh Minguk dengan tubuhnya dari pandangan Hanbin.

“Harusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang akan kau lakukan barusan?” Tanya Hanbin sembari menarik pergelangan tangan Dasom yang memengang bantal tersebut.

“Aku… Aku…”

 

***

“Lamia apa yang kau lakukan?” Tanya Zeus ketika melihat mulut Lamia berlumuran darah segar.

“Kau mau ini, Wahai Zeus Yang Agung? Tidak kusangka daging manusia rasanya bisa seenak ini… terutama daging dari anak-anak kecil yang tak berdosa ini hahaha” Ucap Lamia dengan wajah tersenyum senang namun tetap tidak bisa menyembunyikan bulir mutiara yang mengalir dari kedua pelupuk mata Lamia.

“Hentikan Lamia!!” Seru Zeus kemudian sembari mengangkat tubuh Lamia yang masih asyik memakan bagian demi bagian dari makanannya.

“Apa yang kau lakukan Zeus? Jangan menganggu kesenanganku!” Seru Lamia sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Zeus.

“Kau bahkan tidak berusaha menghentikan Hera ketika dia akan membunuh anakku dan mengutukku, kenapa sekarang kau berusaha menghentikanku?!”

***

END

One thought on “SiKON’s Fanfiction / LAMIA / DASOM – HANBIN / HURT – MYTH

Give it to me ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s